Mataram (Suara NTB) – Sistem Edukasi Digital untuk Pembelajaran Adaptif atau yang dikenal sebagai Sedepa merupakan hasil inovasi seorang guru asal Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 22 Mataram, Dian Susanti. Sedepa bertujuan mendukung pembelajaran berbasis digital yang interaktif dan adaptif.
Sedepa sendiri lahir dari keresahan Dian saat melihat proses pembelajaran di sekolah tempat ia mengajar yang masih menemui banyak tantangan. Di antaranya, kesenjangan dalam akses pendidikan yang berkualitas, terutama di daerah pinggiran kota, pembelajaran yang kurang adaptif terhadap kebutuhan dan kemampuan siswa, serta kurangnya interaksi antara guru dan siswa.
Selain itu, terbatasnya sumber belajar yang sesuai dengan individu siswa, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, terbatasnya kemampuan siswa dalam menggunakan perangkat komputer, dan perangkat chromebook belum dimanfaatkan secara maksimal.
Berangkat dari tantangan-tantangan itu, Dian kemudian berinisiatif untuk meracik ide dan gagasan agar dapat membantu guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. “Dengan hadirnya Sedepa, proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kemampuan serta kebutuhan masing-masing siswa,” kata Dian melalui keterangannya.
Sedepa menyediakan bahan ajar yang dapat membantu siswa Dan guru dalam proses pembelajaran. Di antaranya, Google site yang digunakan sebagai platform utama untuk mengelola dan menyajikan bahan ajar digital. Memanfaatkan fitur multi media seperti teks video animasi dan kuis interaktif yang dirancang sesuai kebutuhan siswa. Memberikan akses fleksibel dan fitur interaktif untuk mendukung personalisasi pembelajaran.
“Sedepa memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan gaya belajarnya, menciptakan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, menarik, dan responsif terhadap kebutuhan individu,” jelas Dian.
Sedepa dalam makna lokal menurut Dian memiliki arti berdampingan. Oleh karena itu, inovasi pembelajaran ini menggambarkan perpaduan antara kemajuan teknologi dan budaya lokal dalam dunia pendidikan.
Dian juga membagikan beberapa alur tahapan penerapan inovasi Sedepa dalam proses pembelajaran. Pertama adalah mengidentifikasi kebutuhan siswa dan pemetaan kemampuan digital dasarnya. Kedua, pembuatan konten digital interaktif yang berbasis google site sesuai topik pembelajaran. Ketiga, pelatihan dan sosialisasi kepada guru mengenai penggunaan Sedepa.
Keempat, sosialisasi dan bimbingan teknis kepada siswa dalam mengakses materi pembelajaran digital. Kelima, implementasi pembelajaran menggunakan Sedepa secara bertahap di kelas. Keenam, pemantauan keterlibatan siswa dan evaluasi hasil belajar melalui kuis interaktif dan ulangan harian. Ketujuh, refleksi serta penyempurnaan materi berdasarkan umpan balik guru dan siswa. “Kolaborasi antara guru dan siswa sangat ditekankan dalam proses ini,” tambahnya.
Akhirnya, penerapan Sedepa, khususnya di SMPN 22 Mataram telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, meningkatkan kemandirian, dan membantu mereka memahami materi dengan mudah. Inovasi ini juga menjadi solusi inklusif, memberikan akses pendidikan berkualitas bagi siswa dari latar belakang ekonomi rendah.
“Sedepa membuktikan bahwa dengan sistem yang tepat dan inovatif, keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu,” pungkasnya.
Inovasi pembelajaran ini juga dapat diaplikasikan oleh semua guru di seluruh Indonesia untuk mendukung peningkatan proses pembelajaran di kelas masing-masing. (sib/*)


