Mataram (Suara NTB) – Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Mataram (Unram), Dani dan Antia, menorehkan prestasi membanggakan. Keduanya sukses masuk tiga besar dalam Sayembara Desain Booth American Pillo yang diselenggarakan PT Balifoam Nusamegah untuk mendesain booth pameran produk-produk mereka.
Meski masih duduk di semester enam, Dani dan Antia mampu bersaing melawan ratusan peserta lainnya yang diikuti peserta dari dalam dan luar NTB, membuktikan bahwa persaingan berlangsung ketat, yang mayoritas adalah arsitek profesional. Keberhasilan ini menjadikan mereka satu-satunya tim mahasiswa yang berhasil menembus posisi tiga besar dalam kompetisi tersebut.
“Perasaannya senang karena melawan praktisi yang sudah terjun langsung di lapangan. Dan kami sebagai mahasiswa, senang dapat pengalaman, itu sih yang lebih berharga,” ujar Dani, Kamis, 26 Juni 2025.
Karya Dani dan Antia berhasil menarik perhatian dewan juri karena menawarkan konsep yang berani dan berbeda. Konsep yang mereka angkat adalah “Rumah Dalam Mall”, sebuah gagasan untuk membawa nuansa kenyamanan rumah ke dalam ruang pameran modern.
“Kami ingin menciptakan suasana seperti di rumah, meskipun booth-nya berada di dalam mal,” jelas Antia.
Konsep tersebut dirancang sebagai ruang semi tertutup yang hangat, mengundang, dan menenangkan. Melalui pendekatan material alami, pencahayaan lembut, serta zona-zona personal yang dirancang khusus, booth ini menciptakan transisi emosional dari keramaian mal menuju ruang relaksasi pribadi.
“Persiapan desainnya hanya tiga hari sebelum dikumpulkan. Tapi kami yakin dengan konsep kami yang sederhana namun kuat secara atmosfer dan makna,” tambah Antia.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTB, Lalu Agus Supriadi, mengapresiasi capaian tersebut. Ia menyebut, mahasiswa arsitektur memang sebaiknya aktif mengikuti sayembara sejak dini.
“Seorang arsitek sejak mahasiswa harus mulai belajar berkreasi, termasuk mengikuti lomba-lomba seperti ini. Tujuannya, pertama untuk mengasah kemampuan desain, dan kedua untuk membangun jaringan dengan sesama arsitek,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa untuk menjadi arsitek profesional, mahasiswa perlu mengikuti beberapa tahapan: menyelesaikan S1, melanjutkan ke Program Profesi Arsitek (PPArs) selama satu tahun, magang selama dua tahun, mengikuti ujian STRA, dan kemudian mendapatkan lisensi berdasarkan peraturan gubernur.
“Bakat arsitek kita di NTB ini luar biasa. Waktu pemetaan program studi dulu, arsitektur adalah salah satu jurusan dengan potensi tinggi meski ditempatkan di wilayah manapun,” ujar Lalu Agus.
Prestasi Dani dan Antia membuktikan bahwa generasi muda arsitek NTB tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga keberanian dan daya saing yang tinggi. Konsep “Rumah Dalam Mall” mereka menjadi simbol bahwa kenyamanan bisa diciptakan di tengah hiruk-pikuk, dan bahwa karya mahasiswa pun mampu berdiri sejajar dengan para profesional.(hir)


