spot_img
Rabu, Februari 25, 2026
spot_img
BerandaNTBDiisi Penduduk Lokal, Pemprov NTB akan Bentuk Tim Rescue Rinjani

Diisi Penduduk Lokal, Pemprov NTB akan Bentuk Tim Rescue Rinjani

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB berencana membentuk tim Rescue di Gunung Rinjani. Pembentukan dan pelatihan tim rescue ini akan bekerja sama dengan pihak Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Tim rescue ini bertujuan untuk membangun sistem keselamatan pendaki di Rinjani. Disebut, tim rescue ini akan diisi dan digerakkan oleh penduduk lokal.

Salah satu anggota FKTI, Disyon mengatakan pihaknya diminta Gubernur untuk membentuk tim rescue yang nantinya diisi oleh penduduk lokal. Selain penduduk lokal, tim rescue ini nantinya akan diisi oleh para porter, guide, serta relawan. Mereka nantinya akan diberikan pelatihan yang bersertifikasi.

“Bersertifikasi secara nasional dan juga secara internasional. Dan, itu semua nanti di bawah FPTI yang memang dia mempunyai bidang seperti itu dan juga FPTI kita itu ada di bawah UIAA (Federasi Panjat dan Pendakian Gunung Internasional),” ujarnya, Rabu, (2/7/2025).

Dengan bernaung di bawah federasi internasional, sistem penyelamatan tim rescue Rinjani diharapkan berkelas dunia juga.

Ia menyebut, tim rescue Rinjani ini merupakan kesatuan di luar Search and Rescue (SAR). Meski demikian, kolaborasi tetap akan dilakukan dengan pihak-pihak terkait, termasuk tim SAR.

Sementara itu, salah satu pendiri FPTI dan vertikal Rescue Indonesia (VRI), Hari Suliastiarto menyebut, pelatihan anggota tim rescue Rinjani nantinya akan dipimpin langsung oleh Gubernur NTB, Dr.H. Lalu Muhamad Iqbal.

Hari menjelaskan, pembentukan tim Rescue Rinjani ini bukan bertujuan membentuk Basarnas swasta. Tetapi untuk membacku-up Basarnas dan menangani secara cepat kecelakaan pendakian yang terjadi di Rinjani.

“Jadi kita bukan bikin Basarnas swasta bukan. Sekali lagi bukan. Basarnas itu menangani kecelakaan seluruh kecelakaan di Indonesia. Jadi Rinjani akan dibikin pasukannya oleh pak Gubernur,” jelasnya.

Adapun jumlah anggota yang akan dilatih untuk mengisi tim Rescue nantinya diperkirakan sebanyak 6 sampai 12 orang. Kemudian akan ditambah secara bertahap hingga 30 orang. “Jadi memang orang sini. Harus orang Rinjani. Itu yang paling efektif,” terangnya

Pelatihan anggota rescue Rinjani direncanakan akan dilangsungkan selama sepuluh hari dan dimulai sejak hari ini.

Ia menyebut, selain membangun sistem rescue, dirinya juga memberi usulan untuk pembuatan saftey line (garis pengaman) yang dibuat dengan tanda dan rambu yang jelas, serta tali pengaman. “Nah, sekarang tali-tali akan dipull (tarik) ke tingkat atas sampai di pos-pos itu akan ada tali. Jadi kalau terjadi kecelakaan, maka kita ambil tali itu dari atas ke bawah. Jadi akan pakai sistem itu,” tuturnya.

Pemprov NTB juga mengusulkan ke Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk dibangun pos rescue bagi Tim SAR di daerah rawan seperti Pelawangan dan Torean yang disebut sering terjadi kecelakaan.

Kepala Diskominfotik NTB, Yusron Hadi mengatakan, berkaitan dengan usulan itu, Gubernur akan berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan untuk meminta bantuan berupa peralatan yang dibutuhkan pos rescue nantinya.

“Bantuan peralatan yang mungkin nanti bisa dihibahkan ke pemerintah daerah. Supaya untuk mengisi pos rescue tadi. Yang mungkin bisa saja dibangun nanti dari bantuan Kementerian Kehutanan di daerah Pelawangan, katanya.

Ia menyebut, pembangunan tim serta pos rescue tersebut merupakan wujud kepedulian Pemprov NTB terhadap wisata Gunung Rinjani. “Artinya bahwa pemerintah provinsi sangat mengatensi apa yang menjadi tuntutan kebutuhan. Apalagi sekarang lagi musim puncak barangkali kunjungan ke Rinjani,” pungkasnya. (sib)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO