Selasa, Maret 10, 2026

BerandaNTBKOTA MATARAMStunting Bukan Sekadar Soal Makanan, Tapi Soal Pola Asuh dan Usia Pernikahan

Stunting Bukan Sekadar Soal Makanan, Tapi Soal Pola Asuh dan Usia Pernikahan

PENURUNAN angka stunting di Kota Mataram patut diapresiasi. Namun, di balik capaian statistik tersebut, terdapat persoalan mendasar yang perlu terus diperhatikan dan ditangani secara menyeluruh, yaitu pola asuh keluarga dan kasus pernikahan usia dini.

Data terbaru dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) mencatat prevalensi stunting di Kota Mataram saat ini berada di angka 6,7 persen per Mei 2025. Angka ini menurun drastis dibandingkan tahun 2022 yang masih menyentuh 17 persen.

Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menegaskan bahwa pekerjaan rumah belum selesai, terutama dalam membenahi faktor-faktor penyebab di tingkat akar rumput.

Seorang kader Posyandu di wilayah Kota Mataram, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan bahwa stunting bukan hanya terlihat dari angka pertumbuhan anak, tetapi juga bisa dikenali dari keseharian mereka.

“Kalau di Posyandu kami, biasanya kami bisa tahu anak itu stunting dari beberapa hal. Pertama, ya dari pengukuran tinggi badan dan berat badan sesuai usianya. Kalau pertumbuhannya tidak sesuai grafik, itu sudah jadi sinyal. Terutama kalau berat badan nggak naik-naik atau tinggi badannya jauh di bawah rata-rata anak seusianya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tanda-tanda perilaku juga menjadi petunjuk penting dalam mendeteksi stunting. “Anak stunting itu biasanya lebih pendiam, kurang aktif, gampang sakit, dan kadang lambat bicara atau bergeraknya. Tapi itu juga harus kita lihat bareng data ukurannya, nggak bisa nebak-nebak aja,” tambahnya.

Salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah tingginya kasus stunting yang berasal dari pasangan muda, terutama yang menikah di usia dini. Banyak dari mereka, kata sang kader, belum memiliki pengetahuan cukup tentang gizi dan pola asuh anak yang benar. “Kadang ibunya sendiri masih remaja, kurang nutrisi sejak hamil, terus nggak ngerti pentingnya ASI eksklusif, imunisasi, atau MPASI yang benar,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H.Emirald Isfihan, menegaskan bahwa penyebab stunting tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.

“Stunting ini adalah dampak dari pola asuh, pola konsumsi makanan, dan adanya penyakit. Jadi ada banyak faktor,” ujarnya, Jumat, 4 Juli 2025.

Ia menekankan pentingnya mempersiapkan calon ibu sejak sebelum kehamilan. Usia cukup dan kondisi kesehatan yang baik menjadi syarat agar kehamilan berlangsung sehat dan anak lahir tanpa risiko stunting.

“Yang terpenting adalah bagaimana ibu hamil ini dipersiapkan dari awal, sebelum dia hamil. Dia harus tahu dulu kondisi kesehatannya, dipastikan usianya mencukupi untuk hamil. Karena menikah di usia dini itu menunjukkan belum siapnya mental, kemampuan organ untuk hamil, dan melahirkan anak yang sehat. Itu hulunya,” tegasnya.

Persiapan itu juga mencakup asupan gizi dan dukungan dari lingkungan terdekat. Dinkes Mataram bahkan meluncurkan program Ibu Hamil Bahagia untuk mendampingi calon ibu secara menyeluruh.

“Makanya kita punya program Ibu Hamil Bahagia, dengan pendampingan bersama suami dan keluarga. Suaminya juga harus tahu, jangan bikin istrinya stres. Kalau istrinya stres, nanti janinnya bisa kerdil di dalam, karena perkembangan tidak maksimal. Lahir dan stunting,” jelasnya.

Dinkes Kota Mataram terus mendorong edukasi lintas pihak, tidak hanya menyasar ibu dan ayah, tetapi juga anggota keluarga lain yang berperan dalam pola asuh anak.

“Karena di NTB ini pola asuh anak kadang bukan cuma oleh orang tua, tapi juga oleh nenek, bibi, dan kerabat lain. Makanya semua pihak harus terlibat, termasuk kader Posyandu untuk memantau dan mengedukasi masyarakat soal pola asuh yang baik,” pungkasnya.(hir)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO