PENGELOLAAN lahan tebu oleh PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang berlokasi di Dompu belum terkelola secara maksimal. Dari total 5.540 hektare lahan yang telah mengantongi Hak Guna Usaha (HGU), baru sekitar 704 hektare yang dapat dikelola.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Muhamad Riadi mengatakan, HGU di kawasan Doropeti seluas 1.650 hektare. Di kawasan Soritatanga seluas 3.889 hektare. ‘’Yang belum dimanfaatkan seluas 4.835 hektare,’’ ujarnya, Jumat, 17 Oktober 2025.
Kendala utama minimnya lahan yang baru dikelola oleh perusahaan SMS karena adanya gangguan dari ternak warga yang kerap merusak ladang tebu. Meski sudah diberikan batasan menggunakan kawat, hal itu tidak mampu mencegah sapi merusak ladang tebu tersebut.
‘’Yang menjadi persoalan, lahan PT SMS ini dekat dengan ladang penggembalaan. Sudah dipagar, dikasih kawat berdiri, tapi tebunya dimakan sapi. Itu sulit sekali diselesaikan sejak pertama kali PT ini berdiri,” katanya.
Akibatnya, di tahun 2024 lalu perusahaan tersebut mesti melakukan impor bahan gula mentah atau raw sugar untuk menutupi kekurangan produksi tebu akibat dimakan sapi. Untuk keluar dari ketergantungan ekspor, Riadi mengaku seluruh lahan HGU PT SMS harus bisa dimaksimalkan.
“Kalau petani kita semuanya bisa nanam di 5.540 hektare itu, sudah besar sekali. Belum lagi yang ada di petani-petani lain. Petani kita aman dia, tapi kalau punya PT ini selalu nggak aman,” jelasnya.
Selain persoalan ternak, sebagian petani di sekitar HGU memilih menanam jagung yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang. Meski demikian, Kepala Biro Umum Setda NTB itu menegaskan konsumen tebu telah jelas pembelinya meski membutuhkan proses yang panjang.
Lebih lagi, keuntungan dari tebu juga cukup tinggi apabila kadar gula dalam varietas yang ditanam juga sesuai kebutuhan pasar. “Kalau satu varietas itu kadar gulanya tinggi, maka keuntungannya besar. Makanya menentukan varietas itu benar-benar penting, karena investasinya panjang,” pungkasnya. (era)



