Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram terus berupaya mencegah kasus kekerasan terhadap anak atau pelajar, termasuk bullying (perundungan) di lingkungan satuan pendidikan. Langkah ini sebagai bentuk komitmen Disdik untuk menciptakan lingkungan sekolah inklusi ramah anak.
Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf pada Senin, 10 November 2025 mengatakan, sebagai implementasi atas langkah antisipatif itu, pihaknya akan membentuk tim satuan tugas (Satgas) yang berperan memantau langsung aktivitas pelajar di sekolah.
“Akan ada tim yang dibentuk, Satgasnya dari Dinas (Disdik), dan Satgas dari sekolah juga,” ujarnya.
Yusuf menjelaskan, pembangunan lingkungan inklusi ramah anak ini juga bagian dari proyek perubahan Disdik Mataram sendiri. Ia memastikan, proyek ini dalam proses pengimplementasian. “Jadi kita akan membentuk forum anak juga nanti,” sebutnya.
Perilaku kekerasan ini juga tak lepas dari pengaruh gawai berikut aplikasi dan gim yang ada. Yusuf menekankan, pelarangan murid membawa gadget ke sekolah juga menjadi atensi Pemkot dan Disdik Kota Mataram.
“Kan sudah dikeluarkan Surat Edaran (SE) Wali Kota tentang pelarangan membawa HP. Sudah tidak ada sekarang yang membawa HP ke sekolah,” terangnya.
Kasus kekerasan terhadap anak belakangan kerap terjadi. Terbaru, 96 siswa SMAN 72 Jakarta menjadi korban ledakan yang diduga dilakukan oleh seorang siswa di sekolah yang sama. Motif kasus tersebut masih didalami oleh pihak kepolisian, tapi tak sedikit menduga kejadian tersebut akibat kasus perundungan (bullying).
Yusuf menegaskan, meskipun kejadian ini di luar Kota Mataram, tetapi pihak terkait tidak boleh abai. Diperlukan langkah antisipatif dan pencegahan awal untuk meminimalisasi kejadian serupa terjadi di daerah.
“Ini kan kejadian di luar. Kalau ada kejadian seperti itu kita harus segera meminimalisir dan mengingatkan kepala sekolah jangan sampai terjadi,” tandasnya. (sib)


