spot_img
Sabtu, Januari 17, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIMomen Tahun Baru, Pesanan Hotel di Senggigi Tak Sampai Seratus Persen

Momen Tahun Baru, Pesanan Hotel di Senggigi Tak Sampai Seratus Persen

 

 

Mataram (suarantb.com) — Momentum libur Natal dan Tahun Baru 2026 belum sepenuhnya mendorong tingkat hunian hotel di kawasan wisata Senggigi mencapai angka maksimal. Meski okupansi tergolong tinggi, pesanan kamar hotel di kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata legendaris Pulau Lombok tersebut belum menembus angka 100 persen.

Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, Ketut Murtajaya, menyampaikan bahwa rata-rata tingkat hunian hotel di kawasan Senggigi selama perayaan Tahun Baru 2026 berada di kisaran 90 persen.

Angka okupansi ini dinilai cukup baik, namun masih di bawah ekspektasi jika dibandingkan dengan citra Senggigi sebagai ikon pariwisata Lombok yang telah dikenal sejak era awal perkembangan pariwisata NTB.

“Okupansi hotel lumayan tinggi. Untuk kawasan Senggigi rata-rata sekitar 90 persen. Ada hotel tertentu yang mendekati penuh, seperti kami di Holiday Resort yang mencapai 97 persen,” ujar General Manager Holiday Resort ini, Kamis (1/1/2026).

Namun demikian, Ketut mengakui tingkat hunian tersebut belum mencapai kondisi penuh atau sold out. Menurutnya, belum maksimalnya okupansi hotel pada momen Tahun Baru dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan wisatawan, baik dari pasar domestik maupun mancanegara.

“Memang tidak sampai 100 persen. Salah satu faktornya karena berkurangnya demand, baik dari wisatawan domestik maupun overseas,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sejatinya tidak jauh berbeda dengan capaian tahun sebelumnya. Pada libur Natal dan Tahun Baru 2025, tingkat hunian hotel di Senggigi juga belum menyentuh angka penuh.

“Tahun lalu kurang lebih sama. Bahkan tahun lalu rata-rata hanya sekitar 96 persen,” ungkap Ketut.

Senggigi sendiri dikenal sebagai destinasi wisata legendaris di Lombok yang telah berkembang sejak puluhan tahun lalu. Kawasan ini menjadi pintu gerbang pariwisata Lombok sebelum berkembangnya destinasi lain seperti Gili Trawangan dan Mandalika. Pantai Senggigi menawarkan panorama matahari terbenam, garis pantai landai, serta fasilitas akomodasi yang lengkap, mulai dari hotel berbintang hingga penginapan menengah.

Meski demikian, Ketut menilai pola kunjungan wisatawan ke Lombok telah mengalami pergeseran. Menurutnya, puncak okupansi hotel tidak selalu terjadi pada akhir tahun. Justru, tingkat hunian tertinggi secara bulanan biasanya terjadi pada musim liburan pertengahan tahun.

“Puncak liburan memang saat Natal dan Tahun Baru, tapi untuk okupansi tertinggi dalam setahun biasanya terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Pada periode itu, wisatawan lebih lama menginap. Sementara Desember, kunjungannya cenderung hanya di penghujung tahun,” jelasnya.

Menurut Ketut, diperlukan penguatan promosi, peningkatan kualitas layanan, serta sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat agar Senggigi tetap menjadi pilihan utama wisatawan.

“Senggigi punya sejarah dan daya tarik yang kuat. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaga kualitas destinasi ini agar tetap diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” pungkasnya. (bul)



RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO