Giri Menang (Suara NTB) – Warga Lombok Barat (Lobar) mengeluhkan gas elpiji subsidi 3 kilogram yang mulai langka di pasaran. Kelangkaan ini terjadi sejak dua pekan terakhir. Kendati warga bisa membeli gas elpiji, namun harganya di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) berkisar Rp22-25 ribu per tabung. Kondisi ini dikeluhkan warga, lantaran menghambat kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Indrawati, warga Kediri mengaku sejak dua pekan terakhir ia kesulitan mendapatkan gas elpiji. Selain langka harganya juga naik. “Ya langka, terus harganya naik lagi,” kata dia, Kamis (16/4/2026).
Di wilayah Kediri dan sekitarnya, gas elpiji sulit didapat, kalaupun bisa diperoleh warga harus membeli dengan harga lebih mahal. Warga membeli gas dengan harga Rp23-25 ribu per tabung berisi 3 kilogram, sedangkan HET elpiji subsidi di haga Rp18-19 ribu.
Ia biasa membeli dua tabung gas elpiji. Ia dapat membeli dengan harga Rp25 ribu per tabung. “Biasanya kita beli Rp22 ribu tapi sekarang 25 ribu,” tuturnya. Elpiji subsidi juga sulit diperoleh. Ia mencari sampai ke desa tetangga, itu pun sulit diperoleh.
Hal senada diakui Nur, warga Gerung, sejak beberapa hari terakhir sulit mendapatkan gas. “Sulit mau cari gas sekarang ini, langka,” aku dia. Harganya pun naik, dibanding biasanya Rp20 ribu hingga Rp 21 ribu per tabung tetapi naik menjadi Rp23 ribu hingga 25 ribu.
Sementara itu, Kadis Perdagangan Lobar H. M. Adnan mengklaim dari hasil koordinasi dengan sejumlah pihak SPBE, stok gas elpiji hmasi aman. Seperti stok di SPPBE Om Agus Lembar dan SPPBE di Kuripan. “Masih aman stoknya,” imbuhnya.
Namun, menyikapi situasi keluhan warga ini, pihaknya akan mengambil langkah cepat dengan bersurat ke Pertamina untuk tidak mengurangi jatah stok Lobar. “Ini untuk menjaga ketersediaan di bawah,” sambungnya.
Terkait harga, pihaknya juga akan mengecek lebih lanjut baik di tingkat pengecer maupun Pangkalan. Kemungkinan kenaikan harga terjadi di tingkat pengecer, sebab di distributor dan pangkalan tidak boleh menaikkan harga. (her)

