Jakarta (Suara NTB) – Sebuah prestasi gemilang datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. M. Dimas Ibnu Pratama, siswa SMA Negeri 1 Terara, berhasil meraih peringkat ke-3 sebagai Penulis Terbaik dalam Lomba Cerpen “Bahasa Berdaya” Tingkat Nasional tahun 2026. Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Lomba cerpen nasional yang mengusung tema pemberdayaan perempuan lewat pendidikan. Lomba diikuti oleh lebih 2.113 peserta dari seluruh Indonesia. Hanya 20 karya terbaik yang lolos ke babak final, masing-masing 10 dari jenjang SMP dan SMA. Dimas terpilih sebagai salah satu pemenang, sejajar dengan pelajar-pelajar terbaik dari berbagai daerah. Keberhasilannya membawa nama NTB ke panggung literasi nasional.

M. Dimas Ibnu Pratama, siswa SMA Negeri 1 Terara, Lombok Timur, NTB. Dalam kompetisi ini, ia menulis cerpen berjudul “Tiket Sekali Jalan” yang menyoroti fenomena pekerja migran di NTB.
Kompetisi berlangsung sejak 10 Maret hingga 8 April 2026. Pengumuman resmi pemenang dilakukan pada 16 April 2026, diperkuat melalui Surat Keputusan Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Nomor 0110 Tahun 2026. Puncak kegiatan pemantapan penulisan dan seremoni penghargaan digelar pada 19–22 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.
Seluruh penulis terpilih diundang mengikuti Pemantapan Penulisan Cerpen Bahasa Berdaya di ARTOTEL Gelora Senayan, Jakarta. Sekaligus penyerahan penghargaan berlangsung di kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rawamangun, Jakarta.
Cerpen Dimas menarik perhatian dari dewan juri karena keberaniannya mengangkat isu sosial yang sangat dekat dengan realitas masyarakat NTB yaitu pekerja migran. Berdasarkan data yang ia kumpulkan, NTB menempati peringkat keempat nasional sebagai daerah pengirim pekerja migran pada semester pertama 2025. Sekitar 65 persen memilih Malaysia sebagai tujuan, namun sepanjang tahun 2024 tercatat 79 jenazah pekerja migran dipulangkan ke NTB. Data inilah yang menjadi pijakan emosional sekaligus intelektual cerpennya.
Melalui tokoh bernama Jagad, Dimas menggambarkan pergulatan remaja yang berada di persimpangan antara tuntutan ekonomi keluarga, tekanan sosial yang menganggap merantau sebagai jalan “pasti”, dan keinginan untuk tetap bersekolah. Ia tidak sekadar bercerita, tetapi menyampaikan kritik sosial yang tajam. Bahwa merantau di usia remaja kerap diwariskan sebagai kewajiban, bukan pilihan. Di titik ini, Dimas berani mempertanyakan sesuatu yang telah lama dianggap “normal”.
Selama empat hari pemantapan (19–22 April 2026), para peserta mengikuti sesi intensif bersama pemateri. Puncaknya pada 21 April 2026, seluruh peserta mengenakan pakaian adat masing-masing. Dimas tampil dengan busana adat Sasak, berdiri penuh kebanggaan sebagai simbol bahwa identitas lokal mampu berdiri sejajar di panggung nasional.
Penghargaan secara resmi diserahkan oleh Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, dan turut disaksikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993–1998, Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menegaskan bahwa ajang tersebut bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari upaya strategis membangun ekosistem literasi nasional serta melahirkan generasi muda yang kritis, berdaya, dan berkarakter.
Dalam wawancara usai menerima penghargaan, Dimas menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya.
“Pencapaian ini tidak terlepas dari bimbingan bapak dan ibu guru di SMA Negeri 1 Terara. Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi persembahan untuk sekolah dan daerah sebelum saya menamatkan SMA tahun ini. Saya berharap capaian ini bisa menjadi jalan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri,” ujar Dimas.
Ia juga menegaskan misi di balik tulisannya.
“Cerpen ini saya tulis untuk teman-teman di NTB, sekaligus pengingat untuk diri saya sendiri. Kita harus berani memutus rantai yang menganggap merantau di usia remaja sebagai satu-satunya jalan menuju hidup yang layak. Pendidikan tetap menjadi jalan paling ideal dan berkelanjutan, sesuai semangat Ibu Kartini,” jelasnya.
Prestasi Dimas menjadi kebanggaan bagi SMA Negeri 1 Terara, masyarakat NTB. Di tengah tantangan sosial yang nyata, lahir seorang pelajar yang memilih bersuara melalui karya. Ini membuktikan bahwa sastra bukan sekadar kemampuan menulis, melainkan keberanian berpikir dan mengubah cara pandang.
Lebih menggembirakan lagi, data terbaru BPS dan Perpustakaan Nasional tahun 2026 menunjukkan bahwa NTB justru berhasil menembus peringkat kedua nasional dalam tingkat minat baca. Capaian ini memperlihatkan bahwa budaya literasi di NTB tengah tumbuh kuat, dan keberhasilan Dimas adalah bukti nyata bahwa dari daerah ini lahir generasi muda yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga berpikir kritis, peka terhadap realitas sosial, dan berani menyuarakannya melalui karya. (r)

