Kamis, April 30, 2026

BerandaBIMAPetani Diminta Tunda Tanam Jagung

Petani Diminta Tunda Tanam Jagung

Bima (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, meminta petani menunda penanaman jagung. Hal ini disebabkan meluasnya serangan hama wereng jagung.

Salah satu petani asal Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Sumarni membenarkan, Pemerintah Kabupaten Bima telah meminta petani menghentikan sementara penanaman jagung dan beralih menanam komoditas lain, karena serangan hama wereng yang meluas. Ia mengikuti arahan pemerintah, agar tidak mengalami kerugian.

“Kami diminta menunda dulu tanam jagung karena ada hama nyamuk itu (wereng). Disarankan juga kalau bisa diganti komoditas lain sama pihak pertanian,” ujarnya, Selasa (28/4).

Petani lainnya Edi juga mengaku sudah lebih awal menanam jagung di lahan miliknya, namun tanaman tersebut kini rusak akibat serangan hama, sehingga mengaku rugi sekitar Rp2 juta.

Tanaman jagung yang terserang hama mengalami kerdil dengan daun melengkung. Penyemprotan sudah dilakukan tetapi tidak memberikan hasil maksimal.

“Tanaman jagung saya pada kerdil. Harusnya sudah dilakukan pemupukan pertama. Karena itu saya rencananya mau ditanami kacang tanah di sela-sela jagung itu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Ir. H. Muhammad Natsir mengatakan, pihaknya telah mengimbau petani untuk sementara waktu menunda menanam jagung akibat serangan hama wereng yang meluas. Penundaan menanam jagung merupakan strategis pengendalian hama. Pola tanam jagung secara monokultur dalam skala luas turut memicu perkembangan hama.

“Iya benar. Pola tanam itu untuk memutus rantai hama. Jagung ini monokultur di area luas, jadi menyediakan inang terus-menerus bagi hama. Karena itu dihentikan dulu untuk memutus rantai makanan hamanya,” ujar Natsir.

Petani juga diarahkan mengatur pola tanam seperti padi, kacang tanah, atau kedelai, guna menekan populasi hama di lapangan.

Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan insektisida untuk membantu pengendalian di lapangan yang pelaksanaannya dilakukan secara terarah melalui petugas teknis.

Ia menambahkan, hama wereng jagung memiliki daya sebar cepat karena dapat terbawa angin dan berpindah antarwilayah. Karena itu, pengendalian dilakukan secara terpadu melalui pengaturan pola tanam dan penyemprotan insektisida.

“Daya sebarnya sangat cepat, bisa terbawa angin. Jadi selain penundaan tanam dan pergantian komoditas, juga dilakukan penyemprotan insektisida untuk pengendalian di lapangan,” pungkasnya.

Selain mengganggu sektor pertanian, serangan hama ini juga mulai meresahkan warga. Serangga yang diduga tertarik cahaya itu kerap berkumpul di sekitar rumah pada malam hari hingga membuat sebagian warga memilih mematikan lampu. Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan di sejumlah permukiman di wilayah Kabupaten Bima. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO