Mataram (Suara NTB) – Wabah hantavirus yang menyebabkan kematian tiga orang di kapal pesiar M/V Hondius di Samudera Atlantik menggegerkan dunia. Termasuk Pemprov NTB yang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit yang diduga dari kotoran tikus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MARS., mengatakan pihaknya mulai memitigasi berbagai langkah sebagai antisipasi agar NTB tetap terhindar dari ancaman virus tersebut. Ia telah diminta meningkatkan kewaspadaan khususnya di pintu masuk wisatawan asing.
“Kita diminta waspada terutama di pintu masuk di bandara dan pelabuhan,” ujarnya, Kamis, 7 Mei 2026.
Kasus hantavirus, lanjutnya pernah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia seperti Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Utara. Namun hingga kini, belum ada laporan kasus di NTB. Meski demikian, pengawasan di sejumlah pelabuhan terus diperketat, terutama di Pelabuhan Gili Mas yang menjadi jalur keluar masuk kapal asing pembawa wisatawan internasional.
Dalam hal ini, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) disiagakan untuk melakukan deteksi dini terhadap seluruh penumpang yang tiba di NTB.
Pemeriksaan dilakukan melalui pengecekan suhu tubuh dan kondisi kesehatan lainnya. Jika ditemukan gejala yang mengarah pada sindrom penyakit tertentu, termasuk dugaan hantavirus, penumpang akan dikategorikan sebagai suspek.
Setiap kapal asing yang datang juga akan menjalani pemeriksaan langsung, baik di area pelabuhan maupun di atas kapal. Karena kapal asing umumnya memiliki tim medis sendiri, mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini menilai koordinasi dengan petugas kesehatan dapat dilakukan apabila ditemukan penumpang dengan gejala mencurigakan.
Kewaspadaan juga difokuskan terhadap wisatawan yang berasal dari negara dengan laporan kasus hantavirus seperti Cina, Korea, Rusia, sejumlah negara di Eropa, Amerika Utara, hingga Amerika Selatan.
Meski pengawasan diperketat, pemerintah menegaskan langkah tersebut tidak boleh mengganggu sektor pariwisata maupun aktivitas ekonomi daerah. ‘’Fokus utama tetap pada pencegahan dan penguatan sistem deteksi dini,” katanya.
Masyarakat pun diminta tetap tenang dan tidak panik menghadapi isu hantavirus. Sebab, Indonesia sebelumnya telah menghadapi situasi yang lebih besar seperti pandemi Covid-19.
Jika ditemukan kasus suspek, pasien dapat menjalani isolasi dan pemeriksaan lanjutan. Apabila membutuhkan penanganan lebih serius, pasien akan dirujuk ke rumah sakit kabupaten maupun rumah sakit provinsi yang telah menyiapkan ruang isolasi.
“Penetapan kasus positif tentu harus melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan darah,” katanya.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, Pemerintah Provinsi NTB telah menyiapkan ruang isolasi di RSUD Provinsi NTB. Rumah sakit rujukan tersebut disebut memiliki lebih dari 10 ruang isolasi yang siap digunakan sewaktu-waktu. “Jika jumlah kasus meningkat, kapasitas ruang isolasi dapat diperluas,” terangnya.
Selain RSUD Provinsi NTB, rumah sakit kabupaten juga dinilai cukup siap menghadapi kemungkinan munculnya kasus hantavirus. Pengalaman saat pandemi Covid-19 disebut menjadi modal penting dalam memperkuat kesiapan tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski demikian, tambahnya, setiap kasus suspek nantinya akan dibuktikan melalui pemeriksaan Laboratorium Kesehatan (Labkes) di Puskesmas maupun rumah sakit pertama. Puskesmas, katanya memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dugaan kasus melalui sistem surveilans kesehatan.
“Kesiapsiagaan sebenarnya tidak hanya dilakukan untuk hantavirus, tetapi juga berbagai penyakit zoonosis lainnya,” tambahnya.
Selain pengawasan di pintu masuk, masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan rumah guna mencegah berkembangnya hewan pengerat seperti tikus dan curut. Hal ini karena tikus cenderung berkembang biak di tempat yang kotor dan lembap.
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularannya dapat terjadi melalui kotoran, urine, maupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi.
Gejala umum infeksi hantavirus biasanya ditandai dengan demam tinggi yang muncul secara mendadak. Virus ini juga berpotensi menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru berat, serta demam berdarah yang disertai gangguan ginjal. (era)

