Kota Bima (Suara NTB) – Limbah tahu dan kotoran sapi warga di Kelurahan Penatoi, dinilai mulai mengancam program pengendalian banjir perkotaan di Kota Bima. Limbah yang selama ini dibuang ke drainase primer atau sungai berpotensi mengganggu sistem pengendalian banjir yang sedang dikembangkan melalui Program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima, Hj. Komalasari mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena limbah cair ternak berpotensi mencemari sungai dan memperburuk kondisi lingkungan perkotaan.
Berdasarkan hasil survei Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima terhadap kelompok peternak di wilayah tersebut, produksi limbah kotoran sapi mencapai sekitar satu ton per hari. Sebagian besar limbah masih dibuang langsung ke saluran drainase dan sungai.
“Sebagian besar limbah ternak masih dibuang langsung ke saluran maupun sungai,” ujarnya, Selasa (12/5).
Menurutnya, kondisi itu tidak bisa dibiarkan karena pencemaran limbah dapat berdampak terhadap kualitas lingkungan dan sistem drainase perkotaan.
Selain limbah ternak, limbah tahu milik warga juga masih mengalir ke drainase primer yang menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir Kota Bima.
Komalasari menjelaskan pembangunan IPAL di Kelurahan Penatoi, memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Program tersebut direncanakan menyasar 10 penerima manfaat dengan alokasi anggaran sekitar Rp10 juta untuk setiap unit IPAL.
Namun, kebutuhan pembangunan serta volume limbah yang harus ditangani dinilai lebih besar dibanding kemampuan anggaran yang tersedia.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bima, Drs. H. Muhammad Fakhrunnraji, ME., menegaskan pembangunan IPAL harus segera dilaksanakan, agar tidak menghambat program lanjutan NUFReP yang didukung Bank Dunia.
Ia meminta seluruh pihak segera menunjukkan progres nyata di lapangan.
“Jika dinas teknis tidak mampu selesaikan, saya yang akan selesaikan. Ini penting dilakukan segera, jangan karena hal sepele mengorbankan program selanjutnya dari Bank Dunia,” tegasnya.
Selain pembangunan IPAL, pihaknya juga berupaya melakukan edukasi kepada pemilik ternak, agar kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk kompos sehingga tidak lagi dibuang ke saluran air dan sungai. (hir)

