BerandaNTBSUMBAWASedimentasi di Perairan Teluk Saleh, Pemkab Sumbawa Khawatir Ganggu Ekosistem Paus

Sedimentasi di Perairan Teluk Saleh, Pemkab Sumbawa Khawatir Ganggu Ekosistem Paus

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa, memastikan akan memberikan atensi terkait sedimentasi yang cenderung meningkat setiap tahunnya di wilayah Perairan Teluk Saleh. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap ekosistem perairan di wilayah tersebut.

“Hasil penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memang laju sedimentasi di Teluk Saleh meningkat signifikan. Kami juga akan tetap memberikan atensi khusus terhadap persoalan ini,” kata Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, Selasa (12/5).

Dedy melanjutkan, sedimentasi di Perairan Teluk Saleh terjadi akibat kegiatan pertanian terutama tanaman jagung. Banyaknya sedimentasi dinilai sangat mengganggu kesehatan perairan di wilayah tersebut.

Pemkab Sumbawa sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan masyarakat dan pihak lainnya. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem,karena dampak kerusakan yang ditimbulkan nantinya sangat besar.

“Kami akan melakukan pendekatan secara komprehensif terkait masalah ini, baik di kawasan laut itu sendiri maupun di kawasan darat. Sehingga bisa diminimalisir kerusakan ekosistem yang terjadi saat ini,” jelasnya.

Selain itu lanjutnya, pemerintah juga akan terus memasifkan gerakan Sumbawa Hijau Lestari untuk menekan laju kerusakan hutan. Ia tidak menampik program tersebut belum menyasar wilayah tersebut, tetapi pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan program pemerintah daerah.

Pihaknya juga akan melakukan skema pertanian terasering di sekitar lokasi tersebut. Tujuannya untuk menekan laju air langsung ke laut, terutama air yang membawa zat kimia seperti pestisida dan jenis obat-obatan pertanian lainnya.

“Di daerah yang memiliki kemiringan diatas 15 persen, cara tanamnya harus secara terasering. Sehingga air tidak langsung menuju ke laut dan kami akan terus sosialisasi ke masyarakat,” timpalnya.

Tantangan terbesar saat ini, lanjut Dedy adalah menjaga ekosistem laut tempat dari hiu paus berada dari segala gangguan. Hal itu dianggap penting dilakukan supaya tidak terjadi tindakan yang mengganggu. Salah satunya aktivitas pengeboman ikan.

“Kami meminta kepada semua pihak untuk menjaga ekosistem ini supaya terhindar dari aktivitas pengeboman ikan dan mengganggu ekosistem yang ada, karena hiu paus ini merupakan khazanah luar biasa,” katanya mengingatkan. (ils)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO