BUKU Parenting di Negara Gagal merupakan karya terbaru dari Kalis Mardiasih, seorang penulis dan aktivis yang kerap menyuarakan isu perempuan dan kesetaraan gender. Buku ini merupakan buku ke-enam yang ditulis Kalis. Sebelumnya ia banyak menulis soal keadilan gender dan kritis sosial, ia kini hadir menulis buku soal pengasuhan anak.
Dalam buku setebal 108 halaman itu, kalis mencoba menjelaskan bagaimana beban pengasuhan anak dan situasi politik suatu negara memiliki keterkaitan. Ia menegaskan bahwa pengasuhan anak bukan hanya soal tanggung jawab individu, tetapi juga berkaitan erat dengan sistem sosial politik yang ada. Itulah yang membuat buku “parenting” yang ditulis wanita kelahiran Blora, Jawa Tengah ini cukup berbeda. Karena bagi Kalis, lingkungan yang kurang baik bagi tumbuh kembang anak, mula-mula muncul dari kebijakan politik yang tak berpihak.
Untuk menjelaskan keterkaitan pengasuhan anak dan kondisi sosial-politik suatu negara, Kalis menyajikan buku ini dalam lima bab. Pada bab pertama ia mengkritik soal hilangnya ruang komunal dan rasa aman pada anak. Ia mencontohkan bagaimana sebuah lapangan yang dulunya sebagai tempat bermain anak-anak di kampungnya kini telah berubah menjadi perumahan. Hilangnya ruang komunal tersebut menyumbang pergeseran pola asuh pada masyarakat saat ini.
Para orang tua tak lagi merasa aman jika anaknya tidak berada di day care atau berada di tempat les seharian. “Saya curiga, terbatasnya interaksi bebas anak dengan teman sebaya, dengan anak yang lebih kecil, dan orang-orang dewasa, ikut menyumbang perasaan tak aman muncul,” tulisnya.
Di bab berikutnya, penulis buku “Muslimah yang Diperdebatkan” itu berbicara tentang martabat yang melekat dalam diri setiap manusia. Bagaimana hal ini berkaitan dengan pengasuhan anak?. Semua manusia bermartabat, seorang anak harus tahu bahwa temannya juga memiliki martabat yang sama. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan rasa saling menghargai. Kalis sedikit menyenggol bagaimana program makan bergizi gratis (MBG) telah mencederai “martabat” tersebut. Pelaksanaan MBG secara asal-asalan menurutnya sama saja dengan mencederai martabat seorang manusia.
Mengenal konsep kekayaan menjadi pembahasan selanjutnya dalam buku ini. Ibu satu anak ini mengkhawatirkan bagaimana saat ini seseorang mudah sekali membandingkan diri dengan orang yang ia lihat di media sosial. Ditambah lagi, sejak belia anak sudah dihadapkan dengan tontonan pejabat dan selebriti yang hobi pamer harta.
Menurut Kalis, penting bagi orang tua untuk membuka obrolan dengan anak soal ketimpangan sosial. Karena tidak semua orang, kaya, mampu, dan mapan. Anak perlu memahami tentang asal kekayaan struktural dan asal kemiskinan struktural.
Selanjutnya, Kalis berbicara terkait pentingnya kerja-kerja perawatan. Secara umum, anak laki-laki tidak familiar dengan kerja-kerja perawatan, karena masyarakat yang patriarkis hanya menuntut mereka atas keberhasilan materi. Penulis ikut menyinggung bagaimana para pemimpin politik yang berlomba-lomba untuk terlihat membangun sesuatu dari nol, alih-alih memperbaiki program lama dengan meningkatkan kualitas.
Menurutnya, kerja-kerja perawatan memerlukan waktu yang panjang, berkebalikan dengan kerja produktif yang selalu butuh kecepatan dengan imbalan yang besar. Kerja perawatan seperti membersihkan rumah, mencuci piring, dan lainnya seharusnya tidak hanya dibebankan kepada anak dengan gender tertentu. Ia menekankan perlunya pengasuhan yang setara oleh orang tua sejak anak usia dini.
Sebagian aktivitas pengasuhan adalah kegiatan menjawab pertanyaan anak. Di bab kelima buku ini, Kalis menyinggung bagaimana orang tua harus mengajarkan sejarah kepada anaknya. Bukan hanya sejarah asal-usul keluarga. Dia mencontohkan bila suatu hari nanti anak perempuannya bertanya mengapa ia memiliki kulit gelap dan merasa dirinya kurang menarik. Ia sebagai ibu mengaku sulit menjawab pertanyaan tersebut tanpa membicarakan secara blak-blakan sejarah tubuh perempuan di Indonesia.
Pada penutup buku ini, Kalis mengkritik gaya negara dan orang tua yang sama-sama menerapkan pola “parenting otoriter” yang memaksa anak tunduk tanpa ruang dialog. Sehingga anak tumbuh dalam tekanan, rasa takut, dan kehilangan kebebasan berpikir.
Pola asuh itu menurutnya dapat merusak kepercayaan diri, memunculkan pemberontakan, bahkan agresivitas pada anak. Karena itu, orang tua dan negara seharusnya membangun hubungan yang berlandaskan dialog, kasih sayang, dan keadilan agar anak-anak dapat tumbuh sebagai manusia merdeka.
Salah satu yang paling menarik dalam buku ini adalah pembaca disediakan rencana bermain dengan anak di setiap bab. Jadi, Kalis mendesain agar orang tua dan anak melatih keterampilan tertentu berdasarkan yang telah ia jelaskan lewat rencana bermain tersebut.
Meskipun hadir dengan identitas sebagai buku “parenting”, buku ini bukan panduan teknis pengasuhan anak secara praktis. Kalis lebih banyak menghadirkan keresahan, refleksi, dan kritiknya terhadap kondisi sosial-politik negara dan kaitannya dengan pola pengasuhan anak. Oleh karenanya, buku ini tidak hanya relevan dibaca para orang tua, tetapi juga oleh siapa saja yang ingin memahami bagaimana kebijakan negara dapat memengaruhi seorang anak bertumbuh. (Nurmita)


