Mataram (Suara NTB) — Unit Pelaksana Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Bumigora kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun karakter generasi muda melalui kegiatan Sosialisasi dan Diskusi Edukatif Proyek MKWK yang dilaksanakan di SMKN 4 Mataram. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Nilai Moderasi Beragama, Bela Negara, dan Kesadaran Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Generasi Muda di Lingkungan Sekolah.”
Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut menjadi ruang edukatif bagi para siswa untuk memahami pentingnya toleransi, nasionalisme, kesadaran HAM, serta pencegahan bullying di lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial masyarakat. Di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks, generasi muda dinilai perlu memiliki fondasi karakter yang kuat agar mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berkembang di ruang publik maupun media sosial.
Koordinator Pelaksana MKWK Universitas Bumigora, Dr. Suriadi Ardiansyah, M.Pd., atau yang akrab disapa Dr. Radit, menegaskan, moderasi beragama dan kesadaran sosial merupakan bagian penting dalam membangun generasi muda yang berkeadaban.
“Moderasi beragama, bela negara, dan kesadaran HAM harus menjadi fondasi karakter generasi muda agar mereka mampu tumbuh sebagai pribadi yang toleran, humanis, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan lingkungan sosialnya,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh tim dosen MKWK Universitas Bumigora, yakni Dr. Yorman, M.Pd., Nurhafni, M.Pd., dan Wiwik Wida Ferawati, M.Pd. Kehadiran para dosen memberikan penguatan akademik sekaligus motivasi kepada para siswa untuk terus mengembangkan karakter positif di lingkungan sekolah.
Selain itu, mahasiswa lintas fakultas Universitas Bumigora juga dilibatkan sebagai pemateri edukatif sesuai dengan karakteristik program studi masing-masing. Mahasiswa dari Fakultas Kesehatan dan Kedokteran yang terdiri dari Program Studi S1 Kedokteran, S1 Gizi, dan S1 Farmasi membahas pentingnya moderasi beragama dalam menjaga kesehatan mental dan keharmonisan sosial.
Mahasiswa Fakultas Teknik dari Program Studi Ilmu Komputer mengangkat tema bela negara di era digital melalui edukasi literasi digital, etika bermedia sosial, serta bahaya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Sementara mahasiswa Fakultas Seni dan Desain dari Program Studi Desain Komunikasi Visual menghadirkan kampanye kreatif stop bullying sebagai bentuk penguatan kesadaran HAM di lingkungan sekolah.
Adapun mahasiswa dari Fakultas Ilmu Humaniora, Hukum, dan Pariwisata yang diwakili oleh Program Studi S1 Sastra Inggris menekankan pentingnya komunikasi lintas budaya, penghormatan terhadap keberagaman, dan penguatan nilai humanisme dalam kehidupan bermasyarakat.
Kepala SMKN 4 Mataram, Iwan Supryadi, A.Md., S.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi tentang moderasi beragama dan anti bullying sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini, terlebih SMKN 4 Mataram merupakan lingkungan pendidikan yang memiliki keberagaman suku, agama, dan latar belakang budaya.
“Momentum kegiatan ini sangat cocok dilaksanakan di lingkungan SMKN 4 Mataram karena sekolah kami memiliki keberagaman suku, agama, dan ras. Di sini ada siswa dari agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya. Karena itu, penguatan moderasi beragama, toleransi, dan sikap saling menghormati sangat penting untuk terus ditanamkan kepada para siswa,” ungkap Iwan Supryadi.
“Kegiatan ini sangat positif bagi siswa karena memberikan pemahaman tentang pentingnya toleransi, menghargai sesama, serta membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua,” tambahnya.
Para siswa pun terlihat aktif mengikuti jalannya diskusi. Perwakilan siswa dari jurusan Perhotelan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga etika sosial dan toleransi dalam dunia kerja.
“Kami belajar bahwa menghargai perbedaan adalah bagian penting dalam dunia pelayanan dan kehidupan sosial,” ujarnya.
Siswa dari jurusan Tata Boga juga menilai materi bela negara sangat relevan dengan generasi muda saat ini.
“Bela negara tidak hanya soal fisik, tetapi juga bagaimana menjaga persatuan, menghormati orang lain, dan bijak menggunakan media sosial,” katanya.
Sementara itu, siswi jurusan Kecantikan mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya kesadaran HAM dan bahaya bullying di lingkungan sekolah.
“Kami jadi lebih sadar bahwa bullying bisa berdampak buruk bagi mental seseorang dan harus dicegah bersama-sama,” tuturnya.
Testimoni juga datang dari siswa Jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) yang menilai kegiatan tersebut sangat penting dalam membentuk karakter siswa yang humanis dan komunikatif.
“Di dunia pariwisata dan pelayanan, kami harus mampu menghargai keberagaman budaya dan karakter setiap orang. Karena itu, materi tentang toleransi dan anti bullying sangat bermanfaat bagi kami,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan pembagian brosur kampus Universitas Bumigora kepada siswa, siswi, dan guru SMKN 4 Mataram sebagai bentuk pengenalan dunia pendidikan tinggi kepada generasi muda. Suasana semakin semarak dengan yel-yel kebanggaan “Universitas Bumigora… The Best, The Best, The Best… UNGGUL!” yang disambut meriah oleh siswa dengan yel-yel “SMK Bisa! SMK Hebat!”
Melalui kegiatan ini, Unit Pelaksana MKWK Universitas Bumigora berharap nilai moderasi beragama, bela negara, kesadaran HAM, dan budaya anti bullying dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda sebagai fondasi menuju masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban. (r)


