BerandaEKONOMIOJK: Masyarakat Jangan Tergiring Opini Ancaman Krisis Ekonomi

OJK: Masyarakat Jangan Tergiring Opini Ancaman Krisis Ekonomi

Mataram (Suara NTB) – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, Rudi Sulistyo, meminta masyarakat tidak mudah tergiring opini terkait ancaman krisis ekonomi. Menurutnya, kondisi sektor jasa keuangan nasional maupun daerah hingga saat ini masih berada dalam kondisi stabil dan terjaga.

Dalam pertemuan Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) NTB di Mataram, Jumat, 29 Mei 2026, Rudi menegaskan berbagai indikator ekonomi dan perbankan masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan kredit nasional masih berada di kisaran 9 persen secara year on year (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sekitar 13 persen.

“Ekonomi nasional ini masih terjaga stabil. Jadi bapak ibu jangan tergiring opini bahwa kita akan krisis. Kita semua harus menjaga supaya tidak terjadi krisis, karena kalau sampai krisis yang repot bukan hanya perbankan dan ekonomi, tetapi juga bisa berdampak sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan Bali-Nusa Tenggara yang mencatat pertumbuhan sekitar 8 persen. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi masih bergerak positif.

Dari sisi intermediasi perbankan, Loan to Deposit Ratio (LDR) masih berada di level sehat, yakni sekitar 84,64 persen. Sementara profitabilitas perbankan juga dinilai tetap kuat dengan Return on Assets (ROA) sekitar 4 persen.

Selain itu, ketahanan modal perbankan juga masih sangat baik. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat mencapai 25,09 persen, jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.

“Dari sisi permodalan sangat terjaga. Profil risiko juga masih aman, terlihat dari rasio kredit bermasalah atau NPL gross di kisaran 2,14 persen dan net sekitar 0,83 persen,” katanya.

Rudi juga memaparkan sektor jasa keuangan nonbank turut menunjukkan perkembangan positif. Industri dana pensiun tumbuh sekitar 6,71 persen, sedangkan sektor asuransi yang sebelumnya sempat tertekan kini mulai kembali tumbuh positif pada Maret 2026.

Pada sektor pembiayaan, pertumbuhan tercatat tipis sebesar 0,61 persen dengan rasio kredit bermasalah sekitar 2,83 persen. Sementara pinjaman daring atau fintech lending terus meningkat dengan outstanding pembiayaan mencapai sekitar Rp100 triliun dan pertumbuhan mencapai 26,25 persen.

Di sisi lain, transaksi aset kripto juga masih menunjukkan peningkatan jumlah pengguna. Konsumen kripto nasional tumbuh dari sekitar 20 juta menjadi 21 juta pengguna, meskipun nilai transaksinya masih relatif kecil dibandingkan sektor keuangan lainnya.

Untuk wilayah NTB, OJK mencatat penyaluran kredit tetap tumbuh sebesar 6,67 persen dan DPK tumbuh 5,32 persen. Pertumbuhan kredit terutama ditopang sektor non lapangan usaha dan pertambangan.

Meski demikian, Rudi mengakui terdapat sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, terutama meningkatnya rasio kredit macet atau NPL/NPF, khususnya pada sektor konstruksi.

Ia juga menyebut peningkatan LDR di NTB terjadi karena pertumbuhan kredit masih lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK. Kondisi itu menyebabkan kebutuhan pembiayaan perbankan di NTB turut didukung likuiditas dari luar daerah.

Dalam kesempatan ini, OJK NTB juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO