BerandaNTBKOTA MATARAMOperasional Insinerator TPST Sandubaya Habiskan Rp25 Juta per Tahun

Operasional Insinerator TPST Sandubaya Habiskan Rp25 Juta per Tahun

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mengalokasikan anggaran sekitar Rp25 juta per tahun untuk biaya listrik operasional dua unit insinerator di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya. Anggaran tersebut disiapkan guna mendukung pengelolaan dan pengurangan volume sampah di Kota Mataram selama tahun 2026.

Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengatakan operasional insinerator di TPST Sandubaya sepenuhnya menggunakan tenaga listrik sehingga kebutuhan anggaran lebih banyak dialokasikan untuk pembayaran daya listrik dibandingkan bahan bakar minyak (BBM).

“Pengoperasian insinerator menggunakan listrik, bukan BBM. Saat ini, kalau tidak salah, kami anggarkan sekitar Rp25 juta per tahun,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Menurut Nizar, keberadaan insinerator sangat membantu dalam mengurangi timbunan sampah harian yang masuk ke TPST Sandubaya. Saat ini, dua unit insinerator yang aktif mampu mengolah hingga 20 ton sampah per hari atau masing-masing sekitar 10 ton per unit.

“Target satu insinerator bisa mengolah sekitar 10 ton sampah per hari,” jelasnya.

Ia menerangkan, TPST Sandubaya sebenarnya memiliki tiga unit insinerator. Namun, satu unit belum dapat dioperasikan karena mengalami kendala teknis pada mesin. Insinerator tersebut merupakan bantuan dari RSUD Kota Mataram.

Kerusakan mesin menyebabkan proses pembakaran menghasilkan asap berlebihan dengan warna kecokelatan sehingga operasional alat dihentikan sementara. DLH memilih tidak mengoperasikan mesin tersebut demi menghindari dampak pencemaran udara dan keluhan masyarakat sekitar.

“Kalau dipaksakan beroperasi, asapnya terlalu banyak dan warnanya cokelat. Itu yang menjadi pertimbangan sehingga sementara tidak digunakan,” katanya.

Nizar menambahkan, pihaknya masih mengkaji kemungkinan perbaikan terhadap insinerator tersebut agar dapat kembali dimanfaatkan secara optimal. Sebab, keberadaan tambahan alat pengolah sampah dinilai penting untuk mendukung penanganan sampah di Kota Mataram yang volumenya terus meningkat setiap hari.

Ia menyebutkan, tiga unit insinerator yang dimiliki TPST Sandubaya berasal dari sumber yang berbeda. Satu unit merupakan bantuan hibah dari Pemerintah Provinsi NTB, satu unit bantuan dari RSUD Kota Mataram, dan satu unit lainnya dibeli menggunakan anggaran sekitar Rp3 miliar melalui kerja sama dengan Korea Selatan.

DLH berharap operasional insinerator dapat menjadi salah satu solusi pengurangan sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, pengolahan sampah menggunakan teknologi insinerator juga diharapkan mampu membantu meningkatkan efektivitas penanganan sampah di wilayah perkotaan yang setiap hari menghasilkan volume sampah cukup besar.

Di sisi lain, DLH Kota Mataram tetap mengedepankan pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber, termasuk melalui program pemilahan sampah rumah tangga, dan penguatan pengelolaan di tingkat lingkungan melalui program tempah dedoro.

Menurut Nizar, penggunaan teknologi insinerator hanya menjadi bagian dari sistem penanganan sampah secara menyeluruh dan bukan satu-satunya solusi. (pan)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO