BerandaHEADLINENTB Siapkan DBHCHT Rp32 Miliar untuk Petani

NTB Siapkan DBHCHT Rp32 Miliar untuk Petani

PROVINSI Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalokasikan Rp32 miliar untuk para petani lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Dana tersebut akan digunakan untuk berbagai program yang menyasar petani tembakau di daerah sentra produksi.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah menyatakan, anggaran DBHCHT tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan langsung, tetapi juga digunakan untuk penguatan kelembagaan dan berbagai program pendukung lainnya.
“Itu di-push memang untuk petani. Kalau dari angka dinas pertanian itu sekitar Rp32 miliar lah dari DBHCHT,” ujarnya, Kamis, 4 Juni 2026.


Menurutnya, seluruh alokasi tersebut diperuntukkan bagi petani melalui berbagai skema bantuan. Seperti untuk fasilitasi kelembagaan, bantuan pupuk, dan kebutuhan petani lainnya. Anggaran senilai tersebut rencananya akan disalurkan ke wilayah-wilayah sentra produksi tembakau di NTB.
“Kalau data nggak saya hafal, karena banyak itu. Tembako yang jelas, sentra-sentra kita yang di Lombok Timur, Lombok tengah, pasti mereka yang lebih banyak mendapatkan bantuan,” lanjutnya.


Di tengah dinamika swasembada pangan yang fokus menanam padi, Mirza menilai tidak terlalu mempengaruhi kondisi petani tembakau. Hal tersebut didukung oleh beberapa harga sejumlah komoditas pertanian lain yang mengalami kenaikan. Misalnya saja, harga komoditas jagung saat ini memiliki harga cukup baik sehingga dapat menjadi penyeimbang ketika harga komoditas lain mengalami tekanan.


“Iya, karena komoditi yang lain kan bagus ini. Jagung juga bagus sekarang kan. Artinya ada komoditi yang lain yang jadi penyeimbang,” katanya.


Selain jagung, harga gabah juga dinilai lebih stabil setelah pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).


Adapun di tengah kondisi menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu, Distanpangan NTB akan mendorong penerapan teknologi climate smart agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim. Teknologi ini menurutnya diarahkan pada tiga aspek utama, yakni peningkatan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit, serta keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.


Implementasinya di lapangan antara lain melalui penggunaan air secara hemat dengan sistem “macak-macak”, pemupukan berimbang berbasis uji tanah, serta penggunaan benih unggul. Selain itu, sistem tanam jajar legowo juga akan terus didorong untuk meningkatkan hasil panen.
“Ke depan, penggunaan alat ukur unsur hara tanah akan kita optimalkan, sehingga pemupukan lebih tepat sasaran dan tidak merusak lahan,” pungkasnya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO