BerandaHEADLINEMBG Dinilai Mampu Mendukung Proses Pemulihan Pasien TBC

MBG Dinilai Mampu Mendukung Proses Pemulihan Pasien TBC

PEMBERIAN Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada pasien Tuberculosis (TBC) dinilai mampu membantu mendukung proses pemulihan pasien TBC. Hal ini buka tanpa alasan, melainkan karena saat proses pemulihan, pasien penderita TBC membutuhkan gizi seimbang agar dapat meregenerasi jaringan.


Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) NTB, Lalu Hamzi Fikri menindaklanjuti pernyataan Menteri Kesehatan soal pemberian MBG kepada pasien TBC.


Ia menyampaikan, konsumsi protein yang cukup sangatlah krusial untuk memperbaiki kerusakan jaringan paru-paru akibat peradangan yang ditimbulkan oleh TBC.


“Dalam konteks inilah, makanan bergizi dapat membantu proses pemulihan dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TBC. Usulan kebijakan untuk menjadikan pasien TBC sebagai salah satu kelompok peneria MBG belum menjadi keputusan resmi, namun kami setuju jika menjadi keputusan formal,” ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026.


Menurutnya, pengaruh asupan gizi terhadap proses pemulihan pasien TBC di antaranya dapat memperkuat sistem imun, asupan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Asupan itu sangat penting untuk memproduksi sel darah putih dan antibodi, guna melawan bakteri Mycobacterium tuberculosis.


Selain itu, makanan bergizi juga dapat mencegah penurunan berat badan karena infeksi kronis yang meningkatkan metabolisme dasar tubuh.


“Jika tidak diimbangi kalori yang cukup, tubuh akan memecah cadangan lemak dan massa otot, menyebabkan malnutrisi dan tubuh semakin lemah,” lanjutnya.


Kekurangan gizi, sambungnya dapat menurunkan kekebalan tubuh, menghambat efektivitas obat, dan meningkatkan risiko komplikasi atau kematian. Oleh karena itu, asupan gizi yang baik berperan penting dalam membantu memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, menjaga status gizi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung pasien agar lebih kuat menjalani pengobatan hingga tuntas.


Adapun mengenai pernyataan Menteri Kesehatan terkait program MBG dapat membantu pemulihan TBC, hal tersebut dapat dipahami sebagai upaya mendukung proses pemulihan pasien, bukan menggantikan pengobatan utama. TBC merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan jangka panjang, umumnya selama 6-12 bulan.


“Durasi pengobatan tergantung pada tingkat keparahan penyakit, organ tubuh yang terinfeksi, serta respons tubuh terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang harus diminum secara teratur. Selama menjalani pengobatan, pasien sering mengalami penurunan berat badan, kekurangan gizi, serta penurunan daya tahan tubuh,” pungkasnya.


Pada pertengahan tahun 2025 lalu, ditemukan sebanyak 5.076 kasus penyakit Tuberculosis (TBC) di NTB. Dari jumlah itu, 5.048 di antaranya merupakan Tuberkulosis Standar Obat (TB SO), 28 lainnya merupakan Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO). Berdasarkan data, jumlah kasus TB yang telah diobati sebanyak 26,47 persen.

“Estimasi kasus TBC di tahun 2025 sebanyak 19.180 kasus. Dengan kasus TBC anak di pertengahan tahun sebanyak 417 kasus, dan TBC HIV sebanyak 68 kasus,” ungkap Fikri.
Dari 5.076 kasus yang dideteksi hingga pertengahan tahun ini, sebanyak 4.561 atau 90,35 persen telah mendapat penanganan TB SO dengan keberhasilan penanganan menyentuh angka 80,86 persen. 20 pasien lainnya mendapatkan penanganan TB RO dengan keberhasilan penanganan hingga 75 persen.


Berdasarkam data penemuan kasus, Kota Mataram tercatat sebagai daerah dengan penemuan kasus tertinggi di NTB, mencapai 54,69 persen. Disusul oleh Dompu sebanyak 39.75 persen, Sumbawa Barat 38.62 persen, Kota Bima 35,42 persen.


Selanjutnya ada Lombok Timur dengan penemuan 27,39 persen, Sumbawa 27,17 persen, Lombok Barat 25,02 persen, Bima 22,21 persen, Lombok Utara 17,75 persen, a dan Lombok Tengah 14,67 persen. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO