BerandaEKONOMIPemprov NTB Siap Sulap Air Nira Jadi Minuman Premium

Pemprov NTB Siap Sulap Air Nira Jadi Minuman Premium

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB mulai mendata potensi produksi air nira di dua desa sebagai langkah awal merealisasikan gagasan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menjadikan air nira sebagai minuman premium khas Lombok.
Pendataan dilakukan untuk memastikan kapasitas produksi sebelum produk tersebut dipasarkan ke sektor perhotelan dan restoran.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Lalu Wiranata, di Mataram, Senin, 29 Juni 2026 mengatakan, saat ini pihaknya memfokuskan pekerjaan pada pemetaan volume produksi harian air nira di dua Desa Berdaya, yaitu, Desa Mekarsari dan Desa Batu Mekar, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

“Saat ini kami sedang mendata berapa produksi harian dari pohon nira yang ada di dua desa dulu. Dari kunjungan ke Mekarsari dan Batu Mekar, kami melihat potensi air niranya sangat besar,” ujarnya.

Menurut Wiranata, pengembangan air nira menjadi minuman siap konsumsi tidak memerlukan proses yang rumit. Tantangan utamanya adalah menjaga agar air nira tidak cepat mengalami fermentasi setelah disadap dari pohon.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berencana menggunakan teknologi sinar ultraviolet (UV) yang mampu memperlambat proses fermentasi sehingga kesegaran air nira dapat dipertahankan lebih lama.

“Yang dilakukan hanya menunda proses fermentasi. Nanti menggunakan mesin ultraviolet sehingga air nira tidak cepat berubah rasa dan tetap segar,” katanya.

Ia menjelaskan, tanpa penanganan khusus, air nira hanya bertahan dalam waktu singkat. Bahkan dalam beberapa jam setelah disadap, cita rasanya mulai berubah akibat proses fermentasi alami.

Disperindag NTB juga tengah menghitung potensi keuntungan ekonomi dari pengembangan produk tersebut. Selama ini sebagian besar air nira diolah menjadi gula merah dengan tingkat penyusutan yang sangat tinggi.

Menurut Wiranata, sekitar 10 liter air nira hanya menghasilkan satu kilogram gula merah dengan harga jual berkisar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu. Artinya, sekitar 90 persen volume air nira hilang selama proses pemasakan.

Sebaliknya, apabila diproses menjadi minuman premium, nilai ekonominya diperkirakan meningkat berkali-kali lipat.

“Kalau 10 liter dijadikan gula merah, hasilnya sekitar Rp40 ribu sampai Rp60 ribu. Tetapi kalau dijual dalam bentuk minuman yang sudah diolah, nilainya bisa mencapai Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Nilai tambahnya jauh lebih besar,” jelasnya.

Karena itu, selain mendata kapasitas produksi, Disperindag juga mulai melakukan penjajakan pasar. Salah satu target utama adalah hotel dan restoran di NTB yang diharapkan dapat menyajikan minuman air nira sebagai welcoming drink bagi wisatawan.

“Pasarnya sedang kami telusuri, terutama hotel-hotel dan restoran sebagai welcoming drink,” ujarnya.

Untuk menjamin mutu dan keamanan produk, pemerintah akan melibatkan tenaga ahli serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan BBPOM. Pendampingan diperlukan agar proses pengolahan memenuhi standar keamanan pangan sebelum dipasarkan secara luas.

“Nanti ada ahli yang kita libatkan, termasuk dari Dinas Kesehatan, supaya produknya aman dikonsumsi dan memenuhi standar kesehatan,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengusulkan pengembangan air nira menjadi minuman premium khas Lombok saat mengunjungi Dusun Malaka, Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, dalam pelaksanaan Program Desa Berdaya, Kamis, 25 Juni 2026. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO