PERTANYAAN dari judul di atas kembali menyeruak jika membandingkan geliat pariwisata dua provinsi pariwisata, Bali, dan NTB. Bali terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dengan investasi, destinasi baru, dan aktivitas ekonomi yang nyaris tidak mengenal musim sepi. Sementara itu, Lombok dan Sumbawa terkesan stagnan. Masih bergulat dengan persoalan mendasar, mulai dari promosi, aksesibilitas, amenitas, keamanan, hingga tata kelolanya.
Bali dan Lombok begitu terasa kontras. Selama hampir sepekan berlibur bersama keluarga di Bali, di akhir Juni 2026, denyut pariwisata terlihat hidup di hampir seluruh wilayah. Mulai dari kawasan Bedugul di Kabupaten Tabanan, Nuanu Creative City, Pantai Sanur dengan Icon Bali Mall, Taman Renon, Pantai Kuta, hingga pusat oleh-oleh seperti Krisna dan Joger, semuanya dipadati wisatawan.
Antar-destinasi wisata bahkan dihubungkan oleh shuttle, sehingga sangat memudahkan wisatawan. Belanja dan bayar semua hampir serba digital, wisatawan luar negeri tak perlu lagi bawa uang rupiah. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan hampir tak kenal waktu, pusat kuliner ramai, toko-toko tetap hidup, bahkan saat Bali belum memasuki puncak musim liburan.
Sebaliknya, suasana berbeda terlihat saat tiba di Lombok di malam hari. Jalan bypass menuju Kota Mataram justru gelap, lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) tidak menyala. Kondisi ini bisa memberi kesan pertama yang kurang baik bagi wisatawan. Padahal, sektor pariwisata merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi NTB.
Bagaimana Faktanya Sektor Pariwisata Bali dan NTB dari Perspektif Praktisi dan Akademisi?
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, sekaligus Koordinator Bank Indonesia Bali Nusra, Achris Sarwani menyampaikan, kondisi yang dilihat saat ini Bali sedang tidak high season.
Hasil Focus Group Discussion (FGD) Balinomics yang diselenggarakan Bank Indonesia, ujarnya, wisatawan asal Tiongkok masih menjadi salah satu pasar terbesar dengan jumlah sekitar 400 ribu hingga 500 ribu kunjungan. Sebelum pandemi Covid-19 sempat mencapai lebih dari satu juta wisatawan.
Bali juga tengah menggagas jalan tol hingga transportasi massal berbasis MRT untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Di samping mendorong penguatan industri kreatif, sektor pertanian, perikanan, ekonomi digital serta investasi agar Bali tidak terlalu bergantung pada sektor pariwisata semata.
Data Dinas Pariwisata Bali, hingga Mei 2026, kunjungan wisatawan asing telah mencapai sekitar 3,2 juta orang, sementara wisatawan nusantara melampaui empat juta orang. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan sektor pariwisata Bali masih tumbuh positif.
Saat ini Bali memiliki sekitar 1.800 hotel berbintang dan sekitar 7.600 vila. Jika ditambah restoran serta berbagai bentuk akomodasi lainnya, jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 17 ribu unit.
NTB Belum Memiliki Fokus
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB, Lalu Fatwir Uzali, menilai Lombok, NTB masih tertinggal jauh dibanding Bali karena belum memiliki fokus yang sama dalam membangun sektor pariwisata.
“Masih banyak yang harus dibenahi. Yang paling mendasar adalah promosi, aksesibilitas, amenitas, keamanan, perizinan, hingga legalitas dan sertifikasi profesi pekerja pariwisata,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut sebenarnya telah lama diketahui, tetapi penyelesaiannya belum menjadi prioritas bersama. Ia menegaskan persoalan utama bukan hanya berada di pemerintah, melainkan juga seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha, masyarakat hingga media.
“Kita belum benar-benar fokus. Semua masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal kalau ingin pariwisata maju, semua harus punya tujuan yang sama,” katanya.
Fatwir yang setiap hari beraktivitas mendampingi wisatawan mengatakan masih banyak destinasi di Lombok yang dibiarkan berkembang tanpa penataan memadai.
Ia mencontohkan sejumlah objek wisata alam yang memiliki potensi besar, tetapi belum didukung infrastruktur, kebersihan, fasilitas, maupun keterlibatan pemerintah daerah secara optimal.
Padahal, menurutnya, akomodasi seperti hotel dan penginapan di kawasan selatan Lombok sebenarnya sudah berkembang cukup baik. Persoalan justru berada pada aspek pendukung lain yang menentukan kenyamanan wisatawan.
“Kalau wisatawan baru turun di bandara lalu melewati jalan yang gelap, kesan pertama sudah terbentuk. Belum lagi kalau menemui persoalan akses, pelayanan, atau fasilitas yang belum memadai,” ujarnya.
Tingkat Kunjungan Ulang Wisatawan ke Lombok Masih Rendah
Ia juga menyoroti rendahnya tingkat kunjungan ulang wisatawan ke Lombok. Menurutnya, daerah tujuan wisata yang sehat bukan hanya mampu mendatangkan wisatawan baru, tetapi juga membuat mereka kembali berkunjung.
“Yang kita harapkan adalah repeat visitor. Wisatawan datang lagi, bahkan beberapa kali. Itu indikator destinasi yang berhasil,” katanya.
NTB selama ini memang sering menjadikan Bali sebagai referensi belajar pengembangan pariwisata. Namun setelah puluhan tahun, hasil yang dicapai masih belum mampu mendekati keberhasilan Pulau Dewata.
“Ibarat anak sekolah, NTB ini disuruh belajar terus. Dan seperti ada kesan, yang penting lulus dan tidak rapor merah. NTB ini begitu pariwisatanya, ada kesan, ya asal jalan. Bagaimana bisa menyamai wisata Bali kalau begini terus,” ujarnya.
Fatwir menilai NTB sebenarnya tidak membutuhkan strategi yang rumit. “Kuncinya fokus. Kalau semua serius menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi, maka program, anggaran, kebijakan, masyarakat, pelaku usaha sampai media harus bergerak bersama,” katanya.
Menurutnya, selama sektor pariwisata belum menjadi prioritas bersama, Lombok akan terus tertinggal dan hanya menjadi daerah yang “terus belajar” dari Bali tanpa pernah benar-benar mengejar ketertinggalannya.
Pariwisata NTB Harus Bangun Daya Saing
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan tantangan utama pariwisata NTB saat ini bukan sekadar mengejar ketertinggalan dari Bali, tetapi membangun daya saing yang lebih kuat melalui peningkatan kualitas seluruh ekosistem pariwisata.
“Yang kita usung sekarang adalah quality tourism. Tujuannya bagaimana NTB bisa menjadi destinasi yang kompetitif, bukan sekadar membandingkan kalah atau menang dengan daerah lain,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan pariwisata di NTB sebenarnya telah dimulai sejak era 1980-an. Namun, dalam perjalanannya masih terjadi stagnasi, sehingga diperlukan penyesuaian terhadap tren dan perkembangan industri pariwisata global.
Karena itu, konsep quality tourism dipilih sebagai arah baru pembangunan pariwisata daerah. Konsep tersebut tidak hanya berbicara mengenai peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga membangun sistem pariwisata secara menyeluruh.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyusun panduan (guidebook) pengembangan pariwisata berkualitas yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni penguatan destinasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaan, pengembangan industri pariwisata, serta strategi pemasaran.
“Empat komponen ini menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing pariwisata NTB. Dari evaluasi yang dilakukan nantinya akan muncul rekomendasi mengenai aspek-aspek yang perlu diperbaiki maupun dipertahankan agar tercipta ekosistem pariwisata yang ideal,” katanya.
Menurut Ahmad Nur Aulia, penguatan destinasi juga mencakup pembenahan berbagai unsur pendukung seperti atraksi wisata, amenitas, akomodasi, aktivitas wisata hingga berbagai fasilitas penunjang lainnya agar mampu mengikuti perubahan tren wisata global.
Butuh Kolaborasi Semua Pemangku Kepentingan
Ia menegaskan, mewujudkan pariwisata berkualitas bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri, masyarakat, akademisi hingga media.
“Pariwisata adalah sektor yang sangat dinamis dan terus mengikuti perkembangan tren dunia. Karena itu, seluruh komponen harus bergerak bersama. Tidak mungkin pemerintah bekerja sendiri untuk mewujudkan pariwisata berkualitas,” tegasnya.
Menurutnya, hanya dengan kolaborasi seluruh pihak, NTB dapat membangun pariwisata yang lebih kompetitif dan berkelanjutan, sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Kini pertanyaannya bukan lagi apa yang harus dipelajari dari Bali. Melainkan, sampai kapan NTB hanya belajar. Pengalaman Bali menunjukkan bahwa membangun pariwisata membutuhkan konsistensi dan kesamaan langkah seluruh stakeholders. (bul)

