Mataram (Suara NTB) – Harga telur di tingkat peternak terus merosot sejak usai Idulfitri 2026, membuat banyak peternak merugi, dan melego kandangnya untuk menutup cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Di daerah lain di Indonesia, peternak unggas bahkan melakukan aksi mandi telur di Solo, sebagai protes atas makin merosotnya harga telur.
Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat (Petarung) NTB, Ervin Tanaka, menyampaikan kondisi usaha peternakan ayam petelur saat ini sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
“Kalau bicara telur, perunggasan sekarang benar-benar hancur lebur,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurutnya, penurunan harga bukan semata-mata dipicu penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena masa libur sekolah. Faktor utama justru berasal dari melimpahnya produksi telur secara nasional akibat euforia pengembangan usaha peternakan ketika program MBG mulai berjalan.
Banyak peternak membangun kandang baru dan menambah populasi ayam pada tahun lalu dengan harapan permintaan telur meningkat karena MBG. Nyatanya, kini, ayam-ayam tersebut memasuki masa puncak produksi secara bersamaan sehingga pasokan telur membanjiri pasar.
“Memang ada pengaruh MBG, tapi bukan 100 persen. Yang paling besar karena overpopulasi. Tahun lalu banyak yang bangun kandang dan isi ayam. Sekarang semuanya panen bersamaan,” jelasnya.
Akibat kelebihan pasokan tersebut, harga telur di tingkat peternak turun hampir 30 persen dibandingkan sebelum Lebaran. Jika sebelumnya harga berkisar Rp53.000-Rp55.000 per tray, kini di sejumlah daerah hanya berada di kisaran Rp41.000 per tray. Bahkan, di Lombok Timur ditemukan peternak yang terpaksa menjual telur hanya Rp30.000 per tray.
Ironisnya, penurunan harga di tingkat peternak tidak diikuti turunnya harga di pasar yang justru harga telurnya masih tinggi. Ervin menilai, terdapat persoalan pada rantai distribusi yang menyebabkan keuntungan lebih banyak dinikmati para pengepul, sementara peternak terus menanggung kerugian.
“Yang aneh, di peternak harga hancur, tetapi di pasar masih tinggi. Berarti ada rantai pasok yang tidak beres,” katanya.
Hal serupa juga terjadi pada ayam pedaging. Saat harga ayam hidup di kandang hanya sekitar Rp14.000 per kilogram, harga ayam yang dijual kepada konsumen masih berkisar Rp25.000 hingga Rp32.000 per kilogram.
Karena telur merupakan komoditas yang mudah rusak, peternak tidak memiliki pilihan selain tetap menjual hasil produksinya meski dengan harga di bawah harapan.
“Kami tidak bisa menyimpan terlalu lama. Mau tidak mau tetap dijual walaupun rugi,” ujarnya.
Mulai Lelang Kandang untuk Bayar KUR
Tekanan harga yang berlangsung selama berbulan-bulan ini, kata Ervin, mulai berdampak pada kemampuan peternak membayar pinjaman usaha. Ervin mengungkapkan, banyak peternak yang sebelumnya membangun kandang menggunakan fasilitas KUR kini mengalami kredit macet.
“Banyak yang mulai lelang kandang. Ada yang menjual ayam, kandang, bahkan tanahnya untuk bayar KUR. Sekarang banyak yang macet cicilannya dan ada yang sudah terancam disita bank,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagian besar peternak yang mengalami kondisi tersebut merupakan peternak mandiri yang sebelumnya berekspansi saat prospek usaha terlihat menjanjikan.
Karena itu, Petarung NTB mendesak Pemerintah Provinsi NTB segera mengambil langkah konkret untuk melindungi peternak lokal. Salah satunya dengan memperketat pengawasan terhadap masuknya telur dan daging ayam dari luar daerah yang dinilai tidak melalui prosedur perizinan secara lengkap.
Ervin menilai NTB sebenarnya telah mampu memenuhi kebutuhan telur sendiri sehingga pemerintah seharusnya lebih melindungi pasar lokal ketika harga sedang terpuruk.
“Kita sudah swasembada telur. Jangan sampai peternak lokal hancur hanya karena barang dari luar terus masuk tanpa pengawasan,” katanya.
Ia mengaku masih menemukan telur maupun daging ayam dari luar daerah yang diduga masuk tanpa memenuhi seluruh persyaratan administrasi, seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV) maupun rekomendasi dari pemerintah kabupaten dan provinsi. (bul)

