Bima (Suara NTB) – Warga Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima memblokade jalan pada, Kamis (16/7). Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes atas melambungnya harga elpiji 3 kilogram mencapai Rp80 ribu.
Berdasarkan pantauan, aksi blokade menyebabkan kemacetan panjang dari dua arah. Sejumlah kendaraan tertahan hingga aparat bersama pemerintah turun ke lokasi untuk membuka kembali akses jalan.
Salah seorang warga Desa Tambe, Ina Nisa mengaku masyarakat sudah berulang kali kesulitan mendapatkan elpiji 3 kilogram. Menurutnya, warga bahkan harus menunggu lima hingga enam minggu untuk memperoleh gas subsidi.
“Kita ini sebagai ibu rumah tangga disuruh tunggu lima sampai enam minggu. Apa iya kita mampu. Harapan kami gas ini tersedia setiap pekan,” ujarnya.
Ia mengatakan, harga elpiji yang semestinya berada di kisaran Rp18 ribu-Rp25 ribu per tabung kini melonjak menjadi Rp50 ribu-Rp70 ribu. Bahkan, di sejumlah wilayah mencapai Rp80 ribu.
Puluhan warga sehari sebelumnya,juga menghadang truk pengangkut elpiji 3 kilogram yang melintas di depan Kantor Desa Ngali, Kecamatan Belo. Aksi spontan itu, dipicu kelangkaan elpiji subsidi dan tingginya harga jual di tingkat pengecer.
Dalam aksinya, warga menuntut agar elpiji dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu per tabung. Warga juga menduga sebagian elpiji lebih banyak dijual kepada tengkulak, sehingga mereka harus membeli kembali dengan harga Rp50 ribu-Rp80 ribu per tabung.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bima, Juraidin, ST., M.Si., mengatakan, pihaknya langsung turun ke Desa Tambe untuk menangani aksi blokade yang dipicu persoalan elpiji.
“Iya, lagi buka blokir jalan di Desa Tambe masalah LPG hari ini. Masih di Tambe ini,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan lebih lanjut dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bima, mengenai langkah penanganan terhadap lonjakan harga elpiji subsidi yang dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Bima. (hir)

