BerandaNTBKOTA MATARAMDinsos Siapkan Jalan Niaga Jadi Kawasan Hiburan untuk Relokasi PPKS

Dinsos Siapkan Jalan Niaga Jadi Kawasan Hiburan untuk Relokasi PPKS

Mataram (Suara NTB) – Dinas Sosial berencana mengubah wajah Jalan Niaga, Kecamatan Ampenan, menjadi kawasan hiburan publik yang mengadopsi konsep Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika di Kota Bandung. Kawasan tersebut akan dijadikan ruang bagi para Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), seperti badut, manusia silver, pengamen, hingga pelaku seni jalanan untuk menampilkan kreativitas mereka secara lebih tertib.

Langkah ini disiapkan sebagai solusi penataan aktivitas PPKS yang selama ini banyak beroperasi di persimpangan jalan dan sejumlah ruang publik di Kota Mataram. Selain mengurangi keberadaan pengamen maupun manusia silver di jalan raya, pemerintah juga berharap kawasan tersebut dapat menjadi destinasi hiburan baru yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Muzakkir Walad, mengatakan konsep penataan tersebut terinspirasi dari kawasan Braga di Bandung yang memadukan aktivitas seni, hiburan, dan ruang publik dalam satu kawasan yang tertata.

“Rencana kami konsepnya seperti di Bandung agar Jalan Niaga menjadi tempat relokasi PPKS yang lebih tertata,” ujarnya, Jumat (24/7).

Menurut Muzakkir, Jalan Niaga nantinya akan diisi berbagai pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat. Selain atraksi badut dan manusia silver, kawasan itu juga akan menghadirkan cosplay anime, pertunjukan musik jalanan, hingga kesenian tradisional maupun hiburan lokal lainnya. Dengan demikian, para pelaku seni jalanan tetap memiliki ruang untuk mencari penghasilan tanpa harus turun ke persimpangan jalan.

Dinsos juga akan melakukan pendataan dan pembinaan terhadap para PPKS yang selama ini beraktivitas di jalanan. Anak-anak jalanan yang menjadi pengamen akan diarahkan untuk tampil di lokasi tersebut sehingga aktivitas mereka lebih terkontrol dan tidak lagi menimbulkan gangguan terhadap pengguna jalan.

Ia menegaskan, relokasi tersebut bukan semata-mata upaya penertiban, melainkan bagian dari pendekatan sosial agar para PPKS tetap memperoleh kesempatan mencari nafkah secara lebih layak. Pemerintah ingin mengubah pola penanganan dari sekadar razia menjadi pembinaan yang berkelanjutan.

Menurutnya, keberadaan kawasan hiburan tersebut juga diharapkan mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan Ampenan. Kehadiran pengunjung diperkirakan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro, pedagang kaki lima, maupun sektor pariwisata setempat.

“Mudah-mudahan Agustus mendatang sudah bisa kami realisasikan. Konsepnya ala Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga,” pungkasnya.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram memastikan akan terus meningkatkan penertiban terhadap pengamen jalanan yang dinilai meresahkan masyarakat. Sejumlah laporan menyebutkan, sebagian pengamen beroperasi dengan cara memaksa pengguna jalan maupun warga untuk memberikan uang sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Aktivitas pengamen, badut, manusia silver, hingga anak punk selama ini tersebar di sejumlah titik strategis, seperti kawasan Eks Bandara Selaparang, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, area stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), serta sejumlah simpang jalan di kawasan Majapahit hingga Cakranegara. Titik-titik tersebut menjadi sasaran penertiban karena dinilai mengganggu ketertiban umum dan kelancaran lalu lintas. (pan)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO