Mataram (Suara NTB) – Tanaman kurma di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai dikembangkan tidak hanya untuk menghasilkan buah. Kurma juga dinilai berpotensi menjadi tanaman konservasi di kawasan lereng sekaligus sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Pelopor Kurma Ukhwah Datu Nusantara, Wak Dollah atau Arif Munandar, mengatakan kurma yang ditanam dari biji dapat diarahkan untuk menghasilkan nira. Karena itu, jenis kurma tersebut lebih cocok ditanam di kawasan perbukitan atau lahan miring.
“Kalau yang ditanam dari biji, kita prioritaskan untuk nira. Ini bisa diarahkan ke lahan-lahan yang memiliki kemiringan,” kata Wak Dollah kepada Suara NTB, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurutnya, kurma memiliki sistem perakaran yang dapat tumbuh jauh ke dalam tanah. Kondisi ini berpotensi membantu menahan tanah dan mengurangi erosi di kawasan lereng. Ia menyebut akar kurma bisa mencapai kedalaman sekitar 15-25 meter.
“Tidak mungkin menahan banjir bandang 100 persen karena itu pekerjaan Tuhan. Tetapi setidaknya jangan kita biarkan lahan-lahan itu begitu saja,” ujarnya.
Kurma, lanjutnya, bisa ditanam berjajar di pinggir lahan pertanian dengan jarak sekitar 25 meter. Tanaman ini juga dapat ditanam berdampingan dengan tanaman pangan seperti jagung.
“Kurma tidak musuhan dengan jagung. Kalau musuhan dengan jagung, pasti dicabut masyarakat,” katanya.
Selain fungsi lingkungan, kurma juga menawarkan potensi ekonomi melalui penyadapan nira.
Dari uji coba yang dilakukan, satu pohon kurma bisa menghasilkan sekitar 7 liter nira dalam sekali penyadapan. Penyadapan tidak dilakukan setiap hari agar pohon tetap terjaga. Jika dalam sebulan penyadapan dilakukan sekitar 10 hari, satu pohon diperkirakan menghasilkan sekitar 70 liter nira.
Dengan asumsi harga Rp10 ribu per liter, nilainya mencapai sekitar Rp700 ribu per pohon per bulan. Jika satu keluarga mengelola 10 pohon, secara hitungan sederhana potensinya mencapai sekitar Rp7 juta per bulan.
“Tidak usah kita pakai harga seperti di Malaysia. Kita anggap saja Rp10 ribu per liter. Kalau 70 liter, berarti Rp700 ribu satu pohon dalam satu bulan,” jelasnya.
Nira tersebut juga bisa diolah lebih lanjut menjadi gula kurma, cuka kurma dan produk turunan lainnya. Uji coba penyadapan kurma saat ini telah dilakukan di Gondang, Lombok Utara.
Wak Dollah meyakini kurma bisa dikembangkan lebih luas di NTB. Ia menyebut kajian yang melibatkan BRIN dan King Saud University menunjukkan NTB memiliki kondisi yang cocok untuk tanaman kurma.
Selain NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga dinilai memiliki karakter lingkungan yang mendukung. Kondisi tanah, iklim dan perbedaan suhu siang-malam menjadi sejumlah faktor yang disebut mendukung pertumbuhan kurma.
Pengembangan Kurma Ukhwah Datu Nusantara saat ini masih dalam tahap awal. Wak Dollah menyebut terdapat sekitar 500 pohon yang dikembangkan dalam lima klaster uji coba.
Sementara tanaman kurma yang ditanam masyarakat secara mandiri di rumah maupun kebun belum terdata secara pasti. Ia berharap pemerintah dapat mendorong pengembangan kurma sebagai bagian dari program ekonomi sekaligus konservasi lingkungan. (bul)

