Selong (Suara NTB) – Upaya pemadaman kebakaran kawasan Hutan Tanam Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dilaksanakan hingga pukul 1.30 dini hari, Sabtu (8/8). Luas kawasan yang terbakar mencapai lebih dari 30 hektare.
Aksi pemadaman cepat ini melibatkan personel gabungan dari Polres Lombok Timur, Polsek Sembalun, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II BTNGR, Pemadam Kebakaran (Damkar) Lombok Timur, hingga tim Manggala Agni dari Mataram.
Kebakaran mulai terdeteksi sejak Jumat sore sekitar pukul 17.00 Wita berdasarkan laporan dari masyarakat setempat. Titik api menyebar di sekitar area Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung (Petung) yang merupakan kawasan konservasi TNGR.
Meski armada pemadam diterjunkan, petugas sempat menghadapi tantangan berat karena titik api berada di lokasi perbukitan yang sulit dijangkau oleh kendaraan. Tim gabungan akhirnya melakukan pemadaman secara manual menggunakan alat gepyok (ranting pohon) serta jet shooter untuk memotong jalur api.
Usaha keras tersebut membuahkan hasil. Tepat pada Sabtu (8/8) pukul 01.30 Wita, kobaran api utama dipastikan padam penuh.
Kapolres Lombok Timur, AKBP Ariakta Gagah Nugraha, mengonfirmasi bahwa penanganan cepat ini sangat krusial untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap aktivitas warga maupun wisatawan yang hendak mendaki. Kebakaran tidak merembet ke kawasan lainnya dan dipastikan tidak mengganggu aktivitas wisatawan yang hendak melaksanakan pendakian maupun warga di sekitar lokasi,
Terkait penyebab utama kebakaran, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Penyebabnya masih dalam tahap penyelidikan, kita belum bisa mengambil kesimpulan. Namun kondisi cuaca yang ekstrem dan kering memang sangat rentan memicu terjadinya kebakaran hutan,” tambahnya.
Kepala Seksi SPTN II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Lombok Timur, Ma’ruf Hadi, mengapresiasi tinggi kolaborasi solid lintas instansi yang bergerak cepat di lapangan. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Kapolres, teman-teman Manggala Agni, Damkar, dan semua pihak yang sudah berkolaborasi. Upaya penanganan cepat seperti ini harus terus kita tingkatkan,” ungkapnya.
Ma’ruf mengakui bahwa keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) serta kendala sumber air di lapangan masih menjadi tantangan utama. Ke depan, BTNGR akan menambah kekuatan personel dari resort-resort terdekat, memperketat patroli di kawasan rawan kebakaran, serta memperkuat koordinasi dengan BPBD jika dibutuhkan penanganan skala besar.
Guna memastikan situasi benar-benar kondusif, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Prosedur pembasahan (pendinginan) dan pemantauan selama satu kali 12 jam terus diberlakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Mengingat kawasan TNGR berbatasan langsung dengan pemukiman warga, pihak TNGR mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk selalu waspada. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melapor jika melihat titik api agar tim bisa bergerak cepat. (rus)

