Giri Menang (Suara NTB) – Transformasi digital dan keberlanjutan mulai dipandang bukan sekadar strategi bisnis perhotelan, tetapi sebagai fondasi pengembangan pariwisata berkualitas di Lombok, Provinsi NTB.
Temuan tersebut dikemukakan dalam Focus Group Discussion (FGD) “Transformasi Digital dan Sustainability dalam Penciptaan Kinerja Bisnis Perhotelan di Lombok” di Ballroom Holiday Resort Lombok, Sabtu, 8 Agustus 2026.
FGD ini merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali yang dilakukan General Manager Holiday Resort Lombok, I Ketut Murta Jaya Kusuma, M.Tr.Par., CHA.
Forum menghadirkan berbagai pemangku kepentingan pariwisata NTB, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku industri perhotelan, karyawan, masyarakat sekitar, customer, media, hingga unsur terkait lainnya.
Yang menarik, hasil riset ini, tidak hanya dibahas sebagai temuan akademik. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB bahkan mendorong penerapannya di desa wisata sebagai pilot project.
Dalam pemaparannya, Ketut Jaya yang juga Ketua Asosiasi Hotel Senggigi ini menjelaskan, peningkatan kinerja hotel berbintang di Lombok tidak bisa dilakukan secara instan hanya dengan mengandalkan teknologi digital atau kampanye keberlanjutan.
Penelitiannya menggunakan pendekatan Stimulus-Organism-Response (SOR) untuk melihat hubungan antara stimulus, kesiapan internal, hingga respons yang dihasilkan dalam proses transformasi bisnis.
Hasil penelitian menunjukkan sustainability awareness atau kesadaran terhadap keberlanjutan menjadi salah satu stimulus dominan. Namun, kesadaran tersebut harus ditopang oleh employee readiness atau kesiapan karyawan dan management commitment atau komitmen manajemen.
Dengan kata lain, keberlanjutan tidak cukup hanya dipahami. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik nyata di dalam perusahaan.
Penelitian juga menemukan adanya peran komitmen pemerintah dalam memperkuat kesiapan karyawan. Namun, dukungan pemerintah tidak serta-merta menggantikan peran manajemen dalam membangun komitmen internal perusahaan.
Temuan berikutnya menunjukkan praktik berkelanjutan yang dibangun melalui komitmen manajemen berhubungan dengan terbentuknya customer experience atau pengalaman pelanggan.
Pengalaman positif tersebut kemudian berlanjut pada customer loyalty, sebelum akhirnya berkontribusi terhadap business performance.
Rangkaian ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar agenda lingkungan. Jika dikelola secara konsisten, ia dapat menjadi bagian dari strategi bisnis yang menghasilkan pengalaman positif, loyalitas pelanggan, dan peningkatan kinerja perusahaan.
Koordinator Program Doktor (S3) Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali, Prof. Dr. I Putu Astawa, SE., MM., menilai FGD menjadi tahapan penting dalam proses akademik penelitian disertasi.
Menurutnya, hasil penelitian seorang mahasiswa doktoral harus diuji dan divalidasi dengan kondisi nyata di lapangan. Karena itu, keterlibatan pemerintah, industri, karyawan, masyarakat dan stakeholder pariwisata menjadi penting.
“Nilai-nilai atau asumsi yang diperoleh selama riset harus didukung atau divalidasi oleh stakeholder,” katanya.
Ia menilai penelitian Ketut Jaya menjawab tantangan nyata yang sedang dihadapi Lombok, terutama dalam membangun industri pariwisata yang berkelanjutan.
Namun, Astawa mengingatkan agar keberlanjutan tidak berhenti sebagai jargon atau strategi pemasaran semata. Ia menyinggung fenomena greenwashing, ketika sebuah usaha mengklaim telah menerapkan prinsip ramah lingkungan tetapi praktiknya belum sesuai dengan klaim tersebut.
Karena itu, keberlanjutan harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Menurut Astawa, praktik yang dilakukan Holiday Resort Lombok menjadi contoh bahwa gagasan keberlanjutan dapat diterjemahkan ke dalam operasional bisnis. Dampaknya bahkan dirasakan langsung oleh tamu.
Ketenangan lingkungan, suasana alami hingga berbagai aktivitas berbasis lingkungan menjadi bagian dari pengalaman wisatawan selama berada di kawasan hotel.
“Yang penting bukan hanya belajar, tetapi bagaimana hasilnya diaktualisasikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Chandra Aprinova, mengatakan penelitian Ketut Murtajaya ini sangat relevan dengan arah pengembangan pariwisata NTB yang saat ini mengarah pada konsep quality tourism atau pariwisata berkualitas.
“Ini sangat relevan karena mendukung terciptanya quality tourism yang kita bangun,” ujarnya.
Menurut Chandra, digitalisasi memiliki dampak berlapis bagi industri pariwisata. Di sektor perhotelan, pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan efisiensi operasional, pendapatan, hingga kepuasan tamu yang pada akhirnya mendorong terbentuknya pelanggan loyal dan wisatawan yang kembali berkunjung atau repeater. Konsep ini juga dinilai relevan untuk diterapkan di desa wisata.
Chandra mencontohkan, wisatawan saat ini semakin terbiasa dengan transaksi digital seperti QRIS. Karena itu, pengelola desa wisata harus memiliki literasi digital yang memadai, baik untuk transaksi maupun mempromosikan potensi wisata melalui platform digital.
“Desa wisata pun harus melek digital,” tegasnya.
Pemprov NTB, kata Chandra, terbuka untuk mengadopsi hasil penelitian ini. Bahkan, pihaknya akan mendorong I Ketut Murta Jaya Kusuma untuk membina salah satu desa wisata di NTB sebagai pilot project.
Tujuannya untuk melihat secara langsung bagaimana model transformasi digital dan keberlanjutan yang diterapkan di industri perhotelan dapat memberikan dampak terhadap masyarakat desa.
“Makanya kita minta nanti Pak Ketut Jaya membina salah satu desa wisata menjadi pilot project hasil penelitian ini,” katanya.
Menurut dia, model ini memiliki tiga dimensi yang sejalan dengan prinsip Triple Bottom Line, yakni planet, people, dan profit.
Artinya, pengembangan pariwisata tidak semata mengejar keuntungan ekonomi. Aspek lingkungan serta manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar harus berjalan beriringan.
Chandra menilai praktik yang telah diterapkan Holiday Resort Lombok dapat menjadi salah satu contoh. Hotel ini telah mengembangkan sejumlah praktik keberlanjutan, termasuk eco farm dan pengelolaan sampah organik maupun anorganik. Pola ini, menurutnya, dapat direplikasi oleh hotel maupun desa wisata lainnya di NTB.
“Pemberdayaan lingkungan masuk, masyarakat masuk, dan keberlanjutan ekonomi juga masuk,” ujarnya.
Chandra menambahkan, transformasi digital juga memiliki hubungan erat dengan agenda keberlanjutan.
Digitalisasi dapat mengurangi penggunaan kertas, membuat proses bisnis lebih ringkas, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Hal ini menjadi semakin penting karena wisatawan global semakin memperhatikan aspek lingkungan dalam menentukan destinasi maupun akomodasi yang mereka pilih.
“Sekarang isu lingkungan dan perubahan iklim sudah menjadi tren global,” katanya.
Karena itu, menurut Chandra, penerapan transformasi digital dan sustainability sejalan dengan upaya NTB membangun pariwisata berkualitas.
Pariwisata berkualitas bukan hanya soal mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu, wisatawan yang datang diharapkan mendapatkan pengalaman, kenyamanan dan pelayanan yang baik sehingga memiliki alasan untuk kembali.
“Berkualitas itu pasti berlanjut,” ujarnya.
Bagi NTB, pola ini dinilai dapat menjadi jalan untuk membangun destinasi yang tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memiliki industri pariwisata yang efisien, ramah lingkungan, memberi manfaat bagi masyarakat dan mampu mempertahankan wisatawan sebagai pelanggan jangka panjang.
FGD menjadi salah satu tahapan penting untuk memastikan hasil riset doktoral tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Temuan penelitian didorong untuk diuji di lapangan, ditularkan ke industri dan desa wisata, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat arah pariwisata NTB menuju destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan. (bul)

