BerandaPENDIDIKANKrisis Penutur, Bahasa Sasak Perlu Direvitalisasi

Krisis Penutur, Bahasa Sasak Perlu Direvitalisasi

Mataram (Suara NTB) – Bahasa Sasak dinilai kian krisis penutur. Krisis ini terutama di kalangan pemuda. Revitalisasi dianggap penting dilakukan untuk memastikan Bahasa Sasak tetap hidup dan menjadi tuturan utama masyarakat.

Wacana penguatan bahasa daerah ini mencuat dalam Sarasehan Bahasa dan Sastra Sasak, di Taman Budaya pekan kemarin.  Dalam Sarasehan itu disampaikan, Bahasa Sasak memiliki dialek yang beragam. Secara umum dibagi menjadi lima dialek yakni, Kuto-Kute, Meno-Mene, Ngeno-Ngene, dan Meriaq-Merikuq.

Keragaman ini kerap membuat sesama masyarakat Sasak sulit memahami dialek satu sama lain, sehingga mereka lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.

Ketua Komite Seni Budaya Nasional (KSBN) NTB, Dr. TGH. Hazmi Hamzar mengatakan, keragaman Bahasa Sasak terjadi pada bahasa kesehariannya. Sementara, bahasa halusnya hampir seragam.  “Kita ingin meneruskan kepada anak-anak kita ini bisa memahami bahasa halus itu,” ujarnya.

Kekurangan penutur Bahasa Sasak menurut Hazmi, juga diakibatkan karena kurangnya sosialisasi, terutama pada anak muda. Alhasil, mereka jarang mengetahui bahasa ibunya dan lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia.

Senada dengan Hazmi, Budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurrahman juga menyoroti makin lebarnya jarak antara generasi muda dan bahasa daerahnya. Penggunaan Bahasa Sasak sebagai bahasa pergaulan kini kian mengikis. “Bahkan di desa-desa sekarang. Anak-anak sudah pakai Bahasa Indonesia,” terangnya.

Lalu Agus menilai perlu ada langkah konkret untuk menyelamatkan Bahasa Sasak. Salah satunya melalui penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak. Forum ini diharapkan menjadi wadah bagi pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, dan instansi terkait untuk merumuskan satu dialek standar yang disepakati bersama.

“Kongres bahasa ini yang boleh memutuskan bahasa mana yang akan kita gunakan dan harus dalam kesepakatan seperti yang saya katakan tadi, bersikap bijaksana dalam berbahasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketiadaan standar bahasa umum menjadi akar masalah redupnya Bahasa Sasak, termasuk hilangnya mata pelajaran muatan lokal (Mulok) di sekolah akibat minimnya bahan ajar berstandar. Meski demikian, perumusan bahasa standar tidak boleh menghapuskan keberagaman dialek lokal yang ada.

“Dialek harus tetap hidup, tidak boleh mati. Tapi sebagai bahasa Lingua Franca (bahasa pergaulan) dialek yang bisa dipahami oleh semua orang harus ada,” tegasnya.

Dari sudut pandang kebahasaan, Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa NTB, Kasman menerangkan bahwa penurunan jumlah penutur dipicu terputusnya transfer bahasa dari generasi tua ke generasi muda. Selain itu, faktor perkawinan silang, mobilitas penduduk dan pengaruh bahasa luar turut memengaruhi. Pihaknya terus menggalakkan program revitalisasi bahasa daerah. “Alhamdulillah, kita sudah melahirkan sekitar 100 orang guru utama Bahasa Sasak,” tutur Kasman.

Kendati demikian, ia menegaskan perlindungan dan penguatan Bahasa Sasak harus terus dipacu bersama pemerintah daerah. Ia mencatat meski beberapa kabupaten di NTB, telah menerbitkan peraturan daerah terkait penggunaan bahasa daerah pada situasi tertentu, sehingga dukungan dari wilayah lain masih ditunggu. “Dan yang kita tunggu ini Kota Mataram belum ada,” ungkapnya. (sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO