BerandaHEADLINEBRIN Berencana Sulap Air Laut Sekotong Jadi Air Bersih Siap Minum

BRIN Berencana Sulap Air Laut Sekotong Jadi Air Bersih Siap Minum

- Advertisement -

Mataram (Suara NTB) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan rencana riset penyulingan air laut jadi air bersih siap minum di Kawasan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Tawaran ini menyusul kawasan Selatan Lombok yang rawan kekurangan air, sehingga perlu ada langkah dalam mengatasi masalah ini.


Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB, I Gede Putu Ariyadi, mengatakan penyulingan air laut di Sekotong bertujuan agar 15 pulau kecil yang ada di wilayah tersebut mendapatkan kemudahan akses air bersih. Rencananya, penyulingan ini akan menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), sama dengan yang digunakan di Sulawesi.


“Memang dia ditawarkannya di wilayah Sekotong. Apakah nanti akan dikembangkan ke daerah lain, pilot project-nya di Sekotong dulu,” ujarnya, Selasa, 11 Agustus 2026.


Menurutnya, terdapat 15 pulau kecil yang kini menjadi kawasan pariwisata di kawasan Sekotong. Dengan adanya teknologi penyulingan menggunakan SWRO, masyarakat hingga pelaku pariwisata di kawasan tersebut tidak perlu lagi membeli air bersih yang dikirim dari Gerung.


Adanya teknologi penyulingan SWRO, sambungnya bisa langsung mensuplai kebutuhan air bersih siap minum, bahkan pada saat musim kering. Dengan teknologi ini, masyarakat bisa menjangkau air bersih dengan lebih mudah dan ekonomis. Bahkan, pemerintah bisa memberikan subsidi kepada masyarakat, dan menjual dengan harga normal kepada pelaku pariwisata.


“Tapi kalau untuk perusahaan kan bisa dijual, dibisniskan. Mungkin nanti yang ngelola BUMD atau BUMD kita bisa untuk ngelola ini supaya ada keberlanjutan itu. Oleh karena itu tadi saya memang tertarik, saya minta itu proposal KAK-nya itu dikirim kepada Gubernur,” jelasnya.


Apabila usulan BRIN ini disetujui oleh Gubernur untuk ditindaklanjuti di NTB, Mantan Kadisnakertrans NTB itu mengungkapkan BRIN siap mendampingi Pemprov NTB selama setahun untuk mengelola teknologi tersebut. Termasuk juga melakukan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat.


“Karena ini cepat programnya. Anggarannya sudah di BRIN, tinggal kita pendampingan untuk masyarakat dan menyiapkan tenaga ahli yang juga dari kita. Jadi ini bisa membuka lapangan kerja juga,” katanya.


Karena di Sekotong ada 15 pulau kecil, Gede mengaku masih belum mengetahui apakah teknologi SWRO ini akan dibangun di satu lokasi yang kemudian disalurkan ke 15 gili tersebut. Atau dengan membangun masing-masing satu SWRO di tiap pulau.


Alasan BRIN memilih Sekotong sebagai lokasi pilot project penyulingan air di NTB karena kawasan ini tidak mendapatkan aliran air dari Gunung Rinjani. Berbeda dengan daerah di Lombok Selatan lain seperti Mandalika dan Sekaroh yang diduga masih ada aliran sungai bawah tanah. Begitupun dengan tiga gili yang ada di Kabupaten Lombok Utara, meski kawasan ini masih krisis air, namun dinilai masih ada aliran air bawah tanah dari Rinjani.


Adapun kondisi masyarakat yang ada di kawasan pesisir Sekotong ketika musim kering benar-benar kesulitan air. Mereka harus membeli air bersih yang dibawa dari Gerung menggunakan kapal-kapal kecil.

Sementara itu, saat ini rencana penggunaan Isotop untuk mengatasi krisis air bersih di daerah-daerah rentan kering masih dalam tahap kajian. BRIN sudah meminta Pemprov NTB untuk menyiapkan dokumen geologi sebagai tahap lanjut riset T


Penggunaan teknologi Isotop sangat berpotensi untuk dimaksimalkan di NTB. Rencananya, teknologi ini akan menggunakan air tanah yang selama ini belum terserap agar bisa diserap dan disalurkan kepada masyarakat. Apalagi, NTB memiliki potensi air tanah yang cukup tinggi dialiri dari Rinjani.


Gede mengungkapkan, penggunaan isotop pernah diterapkan di kawasan kering seperti Gunungkidul, Yogyakarta. Kawasan itu didominasi oleh kawasan perbukitan kapur yang dekat dengan pesisir. Dari jenis topografi, wilayah Lombok Selatan memiliki kemiripan dengan Gunungkidul, untuk itu Pemprov NTB mencoba menerapkan teknologi itu di NTB.


“Nah kalau di Yogya yang bukit tandus aja bisa. Apalagi di NTB. Sekarang kan kita bisa lihat secara kasat mata air tawar munculnya di pinggir pantai. Jadi potensinya besar lah,” jelasnya.


Air ini, sambungnya akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti untuk kebutuhan air minum, mandi, dan sebagainya. Selain itu, air dari teknologi isotop juga sebagai salah satu upaya Pemprov NTB untuk menggaet wisatawan, apalagi di kawasan Lombok Selatan memiliki potensi pariwisata tinggi karena keindahan alam dari pesisir laut.


“Mandalika, ini kan kawasannya memang destinasi super prioritas. Masa tidak didukung dengan air bersih, kan berdampak pada masyarakat juga nanti. Untuk kesehatan, menangani masalah kemiskinan,” pungkasnya. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO