Mataram (Suara NTB) – Gelaran MotoGP Mandalika 2026 yang akan berlangsung pada Oktober tahun ini mulai dirasakan efeknya oleh pengelola hotel di Senggigi, Lombok Barat. Pesanan kamar hotel di destinasi wisata legendaris di Lombok ini terbilang sudah tinggi. Diatas 50 persen.
General Manager Hotel Holiday Resort Lombok, sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, I Ketut Murta Jaya mengemukakan, di Holiday Resort sendiri, tingkat booking untuk periode MotoGP bahkan sudah mendekati 70 persen.
Ketut Murta Jaya, mengatakan, angka tersebut menjadi sinyal positif bagi industri perhotelan. Apalagi, gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika bukan lagi event baru bagi pelaku pariwisata NTB.
Menurutnya, sekitar 70 persen pemesanan yang masuk saat ini belum seluruhnya dapat dipastikan merupakan tamu yang datang khusus untuk menonton MotoGP. Sebagian lainnya kemungkinan menjadikan momentum balapan sebagai kesempatan untuk berlibur di Lombok.
Karena itu, ia melihat angka booking tersebut masih berpeluang terus meningkat hingga mendekati pelaksanaan event.
“Sekarang masih Agustus. Masih ada waktu untuk memaksimalkan tingkat hunian. Kalau untuk persiapan MotoGP, karena ini sudah beberapa kali, kita sudah sangat terbiasa mengantisipasi kebutuhan wisatawan maupun kebutuhan operasional,” katanya.
Untuk kawasan Senggigi secara umum, Murta Jaya mengatakan pemesanan kamar mulai bergerak, meski belum terlalu signifikan.
Namun, pola perjalanan wisatawan saat ini membuat pelaku hotel tidak terlalu khawatir. Tren last minute booking semakin kuat seiring kemudahan teknologi dan berkembangnya platform pemesanan akomodasi secara daring.
Wisatawan bisa dengan cepat membandingkan harga, fasilitas dan lokasi hotel sebelum menentukan pilihan.
“Dengan kemajuan teknologi, mereka kadang berpikir nanti saja pesan. Mereka bisa dengan mudah melihat jenis akomodasi yang menjadi pilihan,” katanya.
Karena itu, hotel-hotel di Senggigi tidak melakukan persiapan khusus yang berlebihan. Pengalaman menghadapi MotoGP pada tahun-tahun sebelumnya menjadi modal untuk membaca kebutuhan pasar.
Menariknya, peningkatan permintaan menjelang MotoGP belum membuat tarif hotel di Senggigi melonjak tajam. Murta Jaya menyebut harga kamar saat ini masih bergerak secara organik, mengikuti mekanisme pasar.
“Saya amati hotel-hotel yang ada, harganya masih organik. Tidak ada harga yang signifikan,” ujarnya.
Kondisi ini berbeda dengan penyelenggaraan MotoGP pada periode awal. Saat itu, permintaan kamar tidak hanya datang dari penonton balapan, tetapi juga rombongan pemerintahan, anggota DPRD dari berbagai daerah dan kelompok lainnya . Demand yang sangat tinggi membuat harga kamar ketika itu ikut terdorong.
Kini pasar MotoGP dinilai lebih terbentuk. Hotel dan wisatawan sama-sama sudah memiliki pengalaman, sehingga harga lebih rasional dan mengikuti hukum supply and demand.
Asosiasi Hotel Senggigi berharap MotoGP tahun ini tidak hanya mendongkrak tingkat hunian hotel selama dua atau tiga malam saat balapan berlangsung.Lebih jauh, event tersebut diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan.
“Harapannya MotoGP mendongkrak tingkat kunjungan dan okupansi. Bukan hanya stay dua atau tiga malam, tetapi lebih dari itu,” katanya.
Wisatawan yang datang untuk menonton MotoGP diharapkan memanfaatkan kesempatan untuk berlibur bersama keluarga sebelum maupun setelah balapan. Pola extend stay ini dinilai jauh lebih penting bagi ekonomi pariwisata NTB. Sebab, manfaat MotoGP tidak berhenti di kamar hotel.
Jika wisatawan memperpanjang masa tinggal, uang mereka akan mengalir lebih luas ke restoran, transportasi, destinasi wisata, pusat oleh-oleh dan pelaku UMKM.
“Ini juga bisa dijadikan momen liburan untuk mereka sekeluarga. Jadi bisa extend sebelum atau setelah event. Di luar usaha akomodasi, UMKM juga akan bisa mendapatkan manfaat,” tandasnya. (bul)


