BerandaPENDIDIKANDari Sampah Jadi Ikon Wisata, KKN PMD Unram Hadirkan Plang Mangku Sakti...

Dari Sampah Jadi Ikon Wisata, KKN PMD Unram Hadirkan Plang Mangku Sakti Berbahan Ecobrick Dukung Wisata Desa Sajang

- Advertisement -

Selong (Suara NTB) – Sampah plastik yang biasanya hanya dibuang begitu saja ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menarik. Hal inilah yang dilakukan mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram (Unram) Desa Sajang tahun 2026 melalui program pengelolaan sampah berbasis ecobrick.

Salah satu hasil program tersebut adalah pembuatan plang nama destinasi wisata Mangku Sakti dengan memanfaatkan ecobrick. Mangku Sakti sendiri merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Selain plang nama, mahasiswa KKN PMD Unram juga menghasilkan produk berupa Bangku dan Pot berbahan ecobrick yang ditempatkan di kawasan wisata Mangku Sakti. Produk-produk tersebut diharapkan dapat menambah fasilitas sekaligus memperindah kawasan wisata. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh pengelola wisata Mangku Sakti sebagai bentuk dukungan terhadap pemanfaatan ecobrick dalam pengembangan lingkungan dan wisata desa.

Tak berhenti pada pembuatan plang, mahasiswa KKN PMD Unram juga menyediakan tempat pengumpulan ecobrick di SD Negeri 1 Sajang.

Kepala SD Negeri 1 Sajang, Virin Wirakbakti, S.Pd., menyambut baik adanya program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi siswa untuk belajar menjaga lingkungan. “Kami sangat mendukung kegiatan ecobrick ini karena anak-anak bisa belajar mengelola sampah sejak dini. Semoga kebiasaan ini bisa terus mereka lakukan, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah,” ujarnya.

Agar gerakan ini tetap berjalan setelah masa KKN berakhir, mahasiswa KKN PMD Unram turut membentuk Tim Eco Sajang. Tim ini diharapkan menjadi penggerak keberlanjutan program ecobrick.

Kontribusi terhadap SDGs

SDG 4 (Pendidikan Berkualitas)
Kontribusi SDG 4 diwujudkan melalui edukasi dan praktik pengelolaan sampah kepada siswa. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan pemilahan dan pembuatan ecobrick. Praktik tersebut memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan dalam menerapkan perilaku hidup berkelanjutan. Hubungan tersebut diperkuat oleh (Gagaramusu et al., 2024), yang menunjukkan bahwa ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan mengenai gaya hidup berkelanjutan sekaligus meningkatkan kreativitas siswa. Pendekatan ini membangun pengetahuan sekaligus keterampilan praktis.

SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Kontribusi SDG 8 diwujudkan melalui pemanfaatan ecobrick sebagai fasilitas pendukung kawasan wisata, seperti bangku, pot bunga, dan plang nama di kawasan Air Terjun Mangku Sakti. Pemanfaatan tersebut dapat meningkatkan daya tarik kawasan wisata dan berpotensi mendukung peluang ekonomi bagi warga lokal dan pemuda desa.

SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
SDG 11 diwujudkan melalui pemanfaatan ecobrick sebagai fasilitas di kawasan Air Terjun Mangku Sakti. Bangku, pot bunga, dan plang nama mendukung kawasan wisata yang lebih tertata, bersih, nyaman, dan memiliki nilai edukatif.

SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab)
SDG 12 menjadi salah satu kontribusi utama karena program menerapkan prinsip pemanfaatan kembali sampah plastik. Sampah tidak langsung dibuang, tetapi dikumpulkan, dipilah, diolah menjadi ecobrick, kemudian digunakan sebagai produk fungsional. Pengolahan limbah plastik non-organik menjadi ecobrick secara langsung menerapkan prinsip reuse (menggunakan kembali) sekaligus mengurangi volume sampah plastik di tingkat desa. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kegiatan ecobrick yang menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)
Kontribusi SDG 13 dalam program ini bersifat pendukung melalui penguatan perilaku peduli lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program tidak melakukan pengukuran langsung terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sehingga dampak terhadap SDG 13 tidak dinyatakan sebagai capaian kuantitatif.
Kontribusi utamanya berada pada pembentukan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan pengembangan wisata yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Laporan akhir juga mencantumkan SDG 13 sebagai bagian dari arah program melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan wisata ramah lingkungan.

SDG 14 (Ekosistem Laut)
Kontribusi terhadap SDG 14 dilakukan secara tidak langsung melalui upaya mencegah plastik yang tidak terkelola hanyut ke sungai dan berakhir di lautan. Hal ini melindungi biota laut dari bahaya mikroplastik.

SDG 15 (Ekosistem Daratan)
Kontribusi terhadap SDG 15 diwujudkan melalui pengurangan pencemaran tanah akibat penimbunan sampah plastik secara terbuka (open dumping) maupun pembakaran sampah liar yang dapat merusak kualitas tanah dan lingkungan desa.

KKN PMD Unram Desa Sajang berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan menjadi kebiasaan bersama, sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa, tetapi terus dilanjutkan oleh masyarakat dan generasi muda Desa Sajang. (r)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO