Sumbawa Besar (Suarantb.com) – Dari sebuah dapur sederhana berdinding bata merah di salah satu rumah yang berada di Desa Marga Karya, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, tercipta sebuah narasi tentang ketangguhan perempuan. Di bawah cahaya remang lampu dari dapur tanpa keramik tersebut jemari Nur Aeny bergerak cekatan namun penuh ketelitian.
Ia meneliti butir demi butir biji kopi Robusta pilihan yang dibeli dari para petani Desa Punik, kecamatan Batulanteh seharga Rp74.000 per kilogram. Tak boleh ada sebutir kerikil atau biji cacat pun yang lolos. Dari sanalah, kopi dengan racikan khas pedesan disulap menjadi sesuatu produk kopi bernama: Kocimar (Kopi Racik Marga).
Kocimar lahir dari sebuah warisan turun temurun keluarga yang menjelma sebagai minuman khas ramah tama dan tanda kekeluargaan. Dari meja kayu sederhana, ia menyuguhkan racikan kopi pekat disempurnakan dengan jahe putih pilihan dan rempah rahasia yang diwariskan secara turun-temurun. Sehingga setiap tegukan menawarkan rasa hangat bagi siapapun yang datang bertamu.

Nur Aeny menceritakan, mimpi besar tersebut berawal dari modal nekat senilai Rp100.000 untuk membeli beberapa kilogram biji kopi mentah dari petani lokal. Bagi Aeny racikan kopi kaya rempah tersebut bukan hanya sekedar usaha rumahan yang digeluti sejak tanggal 18 November 2022. Dibalik usaha itu ada ruang bagi ibu-ibu sekitar tempat tinggalnya mendapatkan pendapatan tambahan.
“Awalnya kopi rempah ini saya racik untu kebutuhan keluarga dan orang-orang yang datang kerumah. Alhamdulillah responnya sangat bagus dan ada juga yang minta untuk dibawa pulang,” katanya kepada Suara NTB, Kamis (30/7/2026).
Respon bagus membuat dirinya bersama perempuan di lingkungan tempat tinggalnya bersemangat untuk meningkatkan produksi. Dari produksi awal hanya 1-kilogram menjadi 2- kilogram. Kopi dengan cita rasa khas Sumbawa tersebut seakan-akan menjadi pengobat rindu penikmat kopi yang dimanjakan kopi sachet pabrikan.
“Saya masih ingat kopi yang dibawa pulang oleh tamu masih dalam bentuk polos tanpa kemasan dan hanya plastic gula kiloan yang menjadi wadah untuk menampung hasil produksi,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha rumahan dari dapur kecil tersebut terus berkembang bersama harumnya aroma kopi rempah yang khas. Bahkan kopi racikan tersebut menjadi minuman khas setiap kegiatan di Masyarakat termasuk saat rapat di kantor desa.
“Produksi kembali meningkat menjadi 3-kilogram, peningkatan jumlah produksi ini menjadi penyemangat kami bersama perempuan lainnya di desa Marga Karya untuk terus mengenalkan kopi racik khas Sumbawa,” terangnya.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil yang baik. Tepatnya di tahun 2023 hingga 2024 melalui program Bale Berdaya yang digagas PT Amman sebagai “penyelamat”. Program tersebut menjadi wadah bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal untuk terus berkembang termasuk mengenalkan kopi khas pedesaan secara Nasional dan Internasional.
“Saya sempat minder saat awal mengenalkan kopi tersebut untuk program Bale Berdaya. Karena saat itu saya hanya menggunakan plastic gula kiloan sebagai wadah dan yang lainnya sudah menggunakan kemasan, tetapi saya tetap semangat dan yakin akan produk kopi dihasilkan,” ceritanya.
Dari pelatihan dan pembinaan yang dilakukan oleh Perusahaan melalui program Bale Berdaya menjadi angin segar bagi UMKM lokal untuk terus memperbaiki diri. Mulai dari system wirausaha, cara mengenalkan mereka (branding), cara pengemasan, hingga cara pemasaran produk yang ia hasilkan.
“Dari situ lah saya baru tau yang namanya wirausaha dan system pembukuan dari sebelumnya yang hanya sebatas menjual hasil produksi saja. Tanpa memikirkan branding dan pengemasan hasil produk supaya lebih tahan lama,” ujarnya.
Pola pendampingan, pembinaan, dan cara pemasaran yang intens PT Amman melalui program Bale Berdaya menjadi awal munculnya kemasan yang menarik dari Kocimar tepatnya di tahun 2025. Kemasan dan branding tersebut menjadi produk yang layak untuk dijual ke Masyarakat secara luas.
“Alhamdulillah dari proses itu produksi kami terus meningkat dari 3-kilogram menjadi 12- kilogram yang terus berjalan sampai saat ini dengan keuntungan Rp5 juta per bulan. Apalagi dengan adanya bantuan mesin pengelohan membuat kami terus berusaha meningkatkan produksi,” ujarnya.
Produk olahan tangan-tangan tangguh perempuan Marga Karya ini juga menjangkau pasar di Jawa Barat hingga dibawa mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sebanyak 100 bungkus sebagai buah tangan khas Nusantara. Prinsip Aeny sederhana namun mengakar kuat, siapa pun yang berkunjung ke desa Marga Karya, belum lengkap rasanya jika belum menyesap hangatnya Kocimar.
“Meski belum terlalu besar hanya 5-kilogram ke Jawa Barat, tetapi modal besar itu menjadi momentum bagi dirinya bersama perempuan tangguh lainnya untuk terus berikhtiar untuk terus mengenalkan kopi kaya rempah ke Masyarakat secara umum,” jelasnya.
Dampak terbesar dari harumnya Kocimar tidak hanya tercatat dalam buku kas penjualan semata, melainkan pada peta sosial Desa Marga Karya. Desa yang dikenal sebagai salah satu wilayah binaan Imigrasi Sumbawa karena tingginya angka perempuan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri kini mulai diminimalisir.
“Seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi Kocimar, saya tidak bisa berjalan sendirian. Sehingga saya mengajak perempuan sekitarnya untuk tumbuh bersama. Kami bertekad, dengan brand Kocimar ini, kami ingin menekan niat ibu-ibu di desa kami pergi menjadi PMI. Perempuan Desa Marga Karya harus bisa berdaya dan berpenghasilan tanpa harus berpisah dari anak dan keluarganya,” tegas Aeny.
Bukan tidak ada tantangan untuk terus mengenalkan produk olahannya, tetapi tantangan tersebut dijadikan penyemangat dengan keyakinan membaja untuk tidak pantang mundur. Apalagi produk olahan yang dihasilkan itu sampai dengan saat ini belum ada satupun yang masuk ke ritel-ritel modern.
“Saya berprinsip daripada harus menunggu masuk ritel modern, kenapa tidak saya gunakan pola pemasaran melalui media social terus dilakukan untuk menjaring pembeli. Alhamdulillah dari pola tersebut banyak yang beli sehingga kopi yang saya produksi selalu habis,” terangnya.
Ia pun berharap agar pemerintah bisa mengambil peran dalam mengenalkan produk olahan UMKM lokal ini. Minimal di setiap kegiatan pemerintah Kocimar selalu dihadirkan sebagai minuman khas Sumbawa. Sehingga akan memberikan dampak terhadap keberlanjutkan produk yang dihasilkan para UMKM lokal.
“Minimal produk UMKM lokal diberikan tempat untuk dipasarkan secara luas. Jika tidak bisa masuk ke ritel modern minimal pemerintah bisa membantu para UMKM dengan tetap menggunkan produk lokal sebagai minuman utama bagi para tamu yang berkunjung,” tambahnya.
Ia pun berkomitmen untuk tetap menjaga rasa Kocimar yang kaya rempah pilihan sebagai modal besar untuk bertahan di industry olahan kopi. Termasuk takaran biji kopi, jahe, dan bahan racikan warisan turun temurun juga tetap dijaga. Sehingga konsumen yang sudah mengenal Kocimar tidak kecewa dengan rasa.
“Lebih kita pelihara dia (Kopi) dibandingkan dengan yang lain untuk menjaga rasa agar konsumen tidak kecewa saat melakukan pemesanan berikutnya. Alhamdulillah dari usaha kopi sudah memberikan dampak maksimal dalam membantu ekonomi keluarga dan perempuan di lingkungan tempat tinggalnya,” tukasnya.
Gandeng Bank Himbara Bantu UMKM
Pemkab Sumbawa memastikan sudah menyiapkan skema khusus untuk membantu para UMKM lokal untuk terus berkembang. Salah satunya dengan menggandeng Bank Milik Negara (Himbara) untuk membantu para UMKM mendapatkan modal usaha
“Selalu kita hadirkan para bank Himbara sebagai narasumber di setiap kegiatan pelatihan UMKM. Sehingga para pelaku usaha bisa mendapatkan akses dalam bentuk modal pengembangan usaha,” Kata kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DISKUKM Indag) Kabupaten Sumbawa, E. S. Adi Nusantara.
Kehadiran Bank Himbara ini selaras dengan harapan Kanwil Perbendaharaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kabupaten Sumbawa masih sangat rendah. Padahal program KUR sengaja disiapkan pemerintah untuk membantu UMKM untuk mendapatkan modal usaha.
“Kita tetap akan mendorong agar bank Himbara bisa memberikan akses secara luas kepada para pelaku UMKM dengan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Sehingga kedepanUMKM kita bisa terus berkembang,” ucapnya.
Ikhtiarkan Produk UMKM Masuk Ritel Modern
Selain membentu dari segi permodalan, pemerintah juga akan terus mendorong ritel modern untuk menyediakan space khusus bagi produk unggulan UMKM. Pemerintah siap menjadi fasilitator bagi para UMKM lokal mendapatkan tempat di ritel modern sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih dikenal oleh Masyarakat.
“Setiap perizinan untuk pembangunan ritel baru wajib menyiapkan space bagi produk UMKM lokal. Bahkan kewajiban mereka harus menyiapkan 20 persen dari etalase yang ada unuk produk lokal Masyarakat yang sudah memenuhi standar pemasaran,” jelasnya.
Tidak hanya penyiapan tempat, ritel modern juga diminta untuk melakukan pendampingan para pelaku UMKM. Sehingga produk yang sudah masuk bisa terus bertahan dan produksinya tetap berlanjut. Jangan sampai pembinaan yang dilakukan hanya sebatas formalitas saja dan kemudian ditinggalkan sebelum berkembang.
“Sudah ada beberapa ritel modern yang sudah kita tegur agar tetap memberikan ruang bagi produk UMKM masuk ke etalase mereka bukan malah memperluas area parkir. Karena sudah jelas kewajiban mereka untuk membina para pelaku UMKM,” terangnya.
AMMAN Diminta Jadi Jembatan Pemasaran UMKM Lokal
Pemerintah pada prinsipnya sangat mendukung adanya program Bale Berdaya dengan pendampingan dan pembinaan terhadap para pelaku UMKM. Tetapi peran Amman seharusnya tidak sampai disitu melainkan bisa menjadi jembatan (Hub) bagi pelaku UMKM ke para investor agar usaha kecil yang mereka rintis bisa terus berkembang.
“Tanggung jawab moral kepada masyarakat terutama bagi para pelaku UMKM harus bisa terangkat derajat kehidupanya dengan adanya kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Perusahaan. Jangan sampai ada kesan ayam mati di lumbung padi,” ucapnya.
Munculnya perusahaan sebagai hub (jembatan) yang membawahi UMKM-UMKM bersama pemerintah daerah untuk mencari offtaker. Sehingga pemasaran terhadap produk UMKM ini bisa lebih masif dilakukan bukan hanya sekedar pembinaan setelah itu ditinggalkan begitu saja tanpa ada keberlanjutan.
“Bisa juga Perusahaan langsung mengambil produk UMKM untuk dipasarkan kepada para karyaan untuk membantu keberlanjutan program yang telah dicanangkan. Sehingga produk yang dihasilkan para UMKM bisa terus bertumbuh,” tukasnya.
Bale Berdaya dan Keberpihakan Perusahaan Terhadap UMKM Lokal
Bale Berdaya merupakan program pemberdayaan UMKM dalan mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sumbawa, khususnya di 7 Kecamatan. Sumbawa, Ropang, Lunyuk, Lantung, Lenangguar, Moyo Hulu, dan Orong Telu. Menariknya lagi hampir 60 persen partisipasi dan pemilik UMKM merupakan perempuan.
“Keterlibatan perempuan sebagai peserta program ini menunjukkan komitmen inklusivitas PT Amman melalui Bale Berdaya. Sehingga berdampak pada peningkatan serapan tenaga kerja hingga 135 orang di masyarakat sekitar,” kata Priyo Pramono selaku Vice President Social Impact AMMAN.
Priyo melanjutkan, program ini merupakan inisiatif PT Amman, bekerja sama dengan Pemkab Sumbawa dan KUMPUL untuk terus memberdayakan para pelaku UMKM. Program ini sudah berjalan sejak Mei 2024 dengan menjaring lebih dari 100 UMKM dari sekitar 500 pendaftar yang tersebar di tujuh kecamatan.
Program Bale Berdaya turut memfasilitasi UMKM dalam pengurusan legalitas seperti NIB, BPOM, Halal, dan HAKI, serta mendukung peningkatan kapasitas di bidang kewirausahaan, pengembangan bisnis, branding, dan promosi. Hasilnya, pendapatan UMKM meningkat 29 persen. 95 persen UMKM memiliki NIB, 94 persen mengadopsi teknologi dalam operasionalnya.
“Pengetahuan UMKM mengenai kewirausahaan juga naik 43 persen, dan 30 persen lainnya merupakan produk inovasi baru lahir, seperti produk lip balm dari ampas madu di Kecamatan Lunyuk,” ucapnya.
Pencapaian berharga ini tidak lepas dari kolaborasi strategis antar pemangku kepentingan, dengan dukungan pemantauan untuk memastikan kelancaran program di lapangan dan evaluasi pasca kegiatan. Selain pembelajaran langsung dari praktisi bisnis dalam pengelolaan usaha, peserta Bale Berdaya juga dibimbing Residence Buddy, yaitu pemuda daerah yang diberdayakan dan dilatih khusus oleh Bale Berdaya untuk mendampingi pertumbuhan UMKM.
Bimbingan ini mencakup perumusan visi dan misi, proposal usaha, rencana produksi, alur rantai pasok, serta strategi branding dan promosi. Mereka juga didorong melakukan analisis SWOT, mengidentifikasi produk unggulan, menggunakan kanvas model bisnis, menerapkan kontrol kualitas, dan mengadopsi teknologi dalam menjalankan bisnis.
“Program Bale Berdaya adalah salah satu bentuk komitmen AMMAN dalam mendukung pengembangan UMKM lokal. Sehingga mampu meningkatkan daya saing para pelaku UMKM. Kami memfasilitasi pemberdayaan masyarakat sehingga usaha kecil dapat tumbuh berkembang dan menyerap tenaga kerja,” tutupnya. (ils)


