Mataram (Suara NTB) – Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) bekerja sama dengan Transform NTB menggelar Bung Hatta Youth Leadership Program (BHYLP) 2026 di Kota Mataram pada 26–28 Agustus 2026. Kegiatan ini mempertemukan 20 anak muda berusia 18–35 tahun asal NTB dan NTT dari beragam latar belakang seperti sosial, jurnalistik, komunitas, hingga pemerintahan untuk mengikuti ruang pembelajaran kepemimpinan berbasis nilai dan karakter.
BHYLP memandang kepemimpinan secara luas dan tidak terbatas pada jabatan formal. Kepemimpinan dimaknai sebagai kemampuan menggunakan pengaruh, mengambil keputusan serta menjalankan tanggung jawab demi kepentingan masyarakat luas.
Program ini menekankan pentingnya membedakan antara kekuasaan dan kepemimpinan. Sebab, kewenangan tanpa integritas berisiko memicu dominasi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Untuk merespons tantangan tata kelola negara dan membangun sistem meritokrasi, BHYLP menjadikan nilai-nilai keteladanan Bung Hatt. Seperti kejujuran, kesederhanaan, rasionalitas, demokrasi, dan keberpihakan pada rakyat sebagai acuan utama.
Acara yang dihadiri langsung putri bungsu Bung Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A., menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Nilai antikorupsi, kejujuran, integritas dan tanggung jawab perlu ditanamkan pada generasi muda sebagai penerus bangsa.“Jadi kalau sudah kita mengatakan kita mau mengerjakan ini secara bersama-sama, komitmen. Enak enggak enak lakukan,” tegasnya.
Ia tidak memungkiri bahwa Indonesia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah dalam urusan tata kelola negara, khususnya ketidakadilan akibat korupsi. Berkaca dari kiprah Bung Hatta, anak muda didorong membangun sikap kejujuran dan integritas untuk memberantas korupsi dan menciptakan sistem meritokrasi.
“Nah, kalau ini memang belum terjadi, mungkin nanti kalau katakanlah satu dekade lagi di mana kalian semua sudah menjadi tokoh-tokoh masyarakat yang duduk di badan-badan mana pun, mudah-mudahan bisa mengalirkan suatu gerakan baru,” pesannya kepada para peserta.
Rangkaian kegiatan berlangsung intensif selama tiga hari dengan pendekatan reflektif dan kolaboratif. Pada hari pertama, peserta menerima materi kepemimpinan Bung Hatta dari Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A. dan Kabid SMA Dikpora NTB, Mohammad Tohajudin, SE, M.Si. Hari kedua,berfokus pada pembahasan integritas, antikorupsi, dan karakter wilayah kepulauan bersama Erry Riyana Hardjapamekas (Wakil Ketua KPK 2003–2007), Prof. Dr. Sitti Hilyana, M.Si. (Wakil Rektor Unram), serta Suster Fransiska Imakulata SSpS (TRUK-F NTT). Pada hari ketiga, peserta mendalami materi tata kelola publik bersama Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M. sebelum akhirnya merumuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Transformasi Nilai Menjadi Aksi Nyata
Bagi BHACA, tantangan kepemimpinan orang muda tidak berhenti pada persoalan pengetahuan. Kepemimpinan perlu dibangun melalui kemampuan menghubungkan nilai dengan pengetahuan, pengetahuan dengan tindakan dan tindakan dengan perubahan sosial yang adil, inklusif, demokratis, serta berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menjadi sangat krusial dalam konteks kawasan Nusa Tenggara yang menghadapi tantangan pembangunan cukup kompleks, seperti masalah kemiskinan, pendidikan, lingkungan, konektivitas wilayah kepulauan, tata kelola sumber daya, hingga perlindungan kelompok rentan. Mengusung semangat “Lead with Integrity. Create Impact,” BHYLP 2026 bertekad melahirkan generasi muda Nusa Tenggara yang siap merespons berbagai persoalan publik melalui aksi nyata yang bertanggung jawab dan berdampak luas bagi masyarakat. (sib/*)


