Mataram (Suara NTB) – Pemerintah pusat mendistribusikan ratusan buku ke setiap sekolah dalam rangka peningkatan kualitas literasi siswa. Distribusi buku sasarannya siswa jenjang sekolah dasar,sekolah menengah pertama dan sejumlah sekolah luar biasa.
Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa NTB, Lentera Nurani mengatakan, pendistribusian buku ke sekolah ini merupakan wujud upaya pemerintah untuk mendongkrak kualitas literasi pelajar, khususnya di NTB.
Diketahui, kualitas literasi NTB tergolong rendah. Berdasarkan hasil asesmen pada 2025, terdapat pelajar yang kategori literasinya berada tingkat 1 atau merah.
“Jadi ini salah satu intervensi dari pusat untuk membuat nilai literasi anak-anak meningkat, yaitu dengan memberikan buku bacaan bermutu yang sesuai dengan jenjangnya, sudah dilabeli dengan jenjang kemahiran membaca siswa,” ujarnya, kepada Suara NTB, Senin (24/8).
Lentera menyampaikan, program ini menyasar siswa jenjang SD-SMP kategori 1 (merah) di 10 kabupaten/kota. Pendistribusiannya telah berlangsung sejak Juli dan berakhir September, 2026.
Untuk jumlah bukunya, bervariasi. Jenjang SD diberikan sebanyak masing-masing 200 eksemplar. Sementara, jenjang SMP 300 eksemplar.
“Dan itu ada kurang lebih 100 judul, jadi per judul ada 2 eksemplar. Kami berharap guru-guru bisa melakukan pemanfaatan,” harapnya.
Terkait jenis buku, Lentera menyebut, buku yang didistribusikan merupakan hasil seleksi pusat. Buku non-teks atau fiksi menjadi genre yang paling dominan.
“Itu, karena memang untuk jenjang bawah, kelas bawah, yaitu kelas SD dan SMP masih. Jadi kebanyakan bukunya masih yang nonteks, yang fiksi,” terangnya.
Untuk memastikan buku tersebut dapat betul-betul dimanfaatkan, Balai Bahasa NTB sebagai perpanjangan tangan turut melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus monitoring-evaluasi (Monev). Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah perwakilan sekolah penerima di Mataram.
Dalam sosialisasi tersebut, Balai Bahasa menerangkan terkait pemanfaatan buku dengan tepat. Dimana, tingkat bacaan siswa tidak dilihat dari usia atau jenjang kelas saja. Tapi dari kemampuan membacanya.
“Karena meskipun kelas 1 SD, bisa jadi jenjang membacanya sudah sama seperti siswa kelas 3 SD begitu. Dan siswa kelas 3 SD mungkin jenjang membacanya masih sama seperti kelas 1 SD, seperti itu,” jelas Lentera.
Distribusi Bertahap
Lentera menyebut, pendistribusian buku untuk sekolah di Lombok dapat dipastikan sudah tersalurkan. Namun, ia belum memastikan penyaluran sudah menjangkau kabupaten lain seperti Dompu, Bima, dan Kabupaten Bima.
Balai Bahasa NTB akan terus memantau perkembangan distribusi buku daerah-daerah tersebut. Termasuk akan melaporkannya ke pemerintah pusat agar segera didistribusikan hingga September.
“Jadi masih ada waktu untuk pembagian buku ini memang, gitu. Jadi bukan keterlambatan, tapi memang masih proses. Mungkin karena memang jaraknya yang cukup jauh. Jadi bertahap,” ucapnya.
Pengadaan buku menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menggenjot kualitas literasi siswa. Mengingat, salah satu faktor stagnasi literasi adalah keterbatasan akses siswa ke buku.
Pemerintah melalui Balai Bahasa NTB akan terus melakukan evaluasi terhadap dampak program ini.
Selain akses bacaan, Lentera menyebut, faktor yang menghambat peningkatan kualitas literasi siswa adalah rendahnya pemahaman pada literasi digital. Literasi digital adalah pengetahuan siswa untuk menggunakan gawai.
Kemampuan ini, lanjutnya, masih belum merata pada semua siswa. Hal tersebut membuat mereka tidak punya akses yang cukup atau sama dengan teman-teman lainnya terkait akses untuk ujian literasinya sendiri.
Dari segi substansi beberapa dari mereka sudah bagus. Tetapi karena akses literasi digitalnya kurang, mengakibatkan sebagian dari mereka tidak bisa menyalurkan apa yang ada di kepala mereka sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang punya literasi digital mumpuni.
“Jadi langkah selanjutnya mungkin kami juga akan melaporkan bahwa tidak hanya bahan bacaan bermutu yang mereka butuhkan, tapi akses literasi digital tadi,” terangnya.
Ia berharap, dengan adanya intervensi pemerintah melalui pengadaan buku ini, kualitas literasi siswa, khususnya di NTB dapat meningkat.
“Sehingga ini menjadi bukti bahwa memang literasi di Nusa Tenggara Barat makin tinggi, terutama di sekolah formal di SD dan SMP begitu,” pungkas Lentera. (sib)


