BerandaHEADLINE‘’Nyemulak’’, Awal Rekonstruksi Kampung Adat Sade

‘’Nyemulak’’, Awal Rekonstruksi Kampung Adat Sade

- Advertisement -


Praya (Suara NTB) – Tahapan rekonstruksi Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng), Kamis (3/9) dimulai. Proses rekonstruksi diawali dengan tradisi Nyemulaq (pemasangan perdana tiang pancang rumah adat) yang dipimpin tokoh adat setempat.


Rekonstruksi diisi upacara adat dan proses penyembelihan hewan berupa ayam di lubang tiang pancang pertama yang dipasangkan.


Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal beserta Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P.,M.A.P., hadir langsung memasang tiang pancang pertama rumah adat Sade yang paling tua, sebagai tanda dimulainya pembangunan ulang kampung yang habis terbakar pada Sabtu (22/8) malam lalu tersebut.


Sejumlah pejabat lingkup Pemprov NTB dan Pemkab Loteng beserta jajaran Forkompida juga hadir bersama perwakilan lembaga dan badan donatur yang turut terlibat membantu proses rekonstruksi Kampung Adat Sade. Dalam proses rekonstruksi total akan ada sebanyak 75 rumah adat yang akan dibangun ulang. Ditambah satu masjid, toilet, art shop serta satu museum.


Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal pada kesempatan ini menyampaikan jika rekonstruksi rumah adat Sade yang terbakar tidak dilakukan hanya sekedar membangun kembali fisik bangunan yang rusak.


Orientasi pembangunannya menurut orang nomor satu di NTB ini, tetap harus mengembalikan nilai sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat Sade.


Gubernur meminta proses rekonstruksi dilakukan secara matang dan tidak terburu-buru. Menurutnya, masyarakat tidak datang ke Sade hanya untuk melihat bentuk bangunan, tetapi untuk menyaksikan nilai sejarah dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.


“Orang datang ke Sade bukan untuk melihat bangunan. Bangunan di tempat lain banyak. Orang datang ke Sade karena melihat bangunan yang tidak bisa bicara, tetapi penuh dengan cerita,” kata Iqbal.


Menurutnya, setiap bangunan di Sade memiliki cerita mengenai kehidupan masyarakat masa lalu, kearifan lokal, adat, pengalaman leluhur hingga berbagai ritual yang diwariskan secara turun-temurun.


“Karena itu, kita sedang merekonstruksi bukan sekadar bangunan, tetapi kita sedang merekonstruksi sejarah dan peradaban,” tegasnya.


Harus Libatkan Banyak Ahli
Untuk memastikan rekonstruksi berjalan sesuai nilai sejarah dan budaya Sade, Iqbal meminta tim rekonstruksi dibentuk secara multidisipliner. Tidak hanya melibatkan arsitek, tetapi juga ahli teknik sipil, kehutanan, kesehatan masyarakat, desain interior hingga arkeologi.


Keterlibatan ahli kehutanan, misalnya, diperlukan untuk mengidentifikasi jenis pohon yang dahulu digunakan masyarakat Sade dalam membangun rumah. Sementara ahli kesehatan masyarakat dapat memberikan masukan mengenai sanitasi dan tata ruang agar bangunan tetap mempertahankan karakter tradisional, tetapi memenuhi aspek kesehatan.


“Karena kita membangun ini tidak tiap tahun. Mungkin yang kita bangun sekarang inilah yang akan kita wariskan untuk 30-40 tahun yang akan datang. Jadi sekali kita membangun, ayo kita bangun yang benar sekalian,” ujarnya.


Ia juga meminta proses rekonstruksi menggali informasi dari masyarakat setempat. Pengetahuan mengenai teknik pembangunan rumah, penggunaan kayu hingga perlakuan terhadap material bangunan perlu ditelusuri dari generasi ke generasi agar hasil rekonstruksi tidak kehilangan keaslian.


Iqbal bahkan menekankan agar pembangunan rumah adat tidak dipaksakan selesai dalam waktu singkat. Jika diperlukan waktu satu tahun untuk mendapatkan hasil terbaik, pemerintah dan tim rekonstruksi harus mengambil waktu tersebut.


“Pembangunan rumahnya tidak usah buru-buru. Pastikan ini sebaik mungkin, sebagus mungkin. Kalaupun harus setahun, setahun ini,” katanya.


Gubernur juga berharap pembangunan fasilitas sementara dipercepat agar aktivitas masyarakat tidak ikut terhenti selama proses rekonstruksi berlangsung.


Ia mendorong segera diselesaikannya museum semi permanen yang dapat menjadi ruang aktivitas ekonomi, seni dan budaya masyarakat Sade.
“Yang harus cepat adalah pembangunan museumnya, pembangunan rumahnya tidak usah buru-buru,” ujarnya.


Selain museum, pemerintah juga diminta menyiapkan sentra tenun lengkap dengan tempat display. Dengan demikian, masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata, kerajinan dan tenun dapat kembali beraktivitas.


Iqbal menilai momentum pascakebakaran Sade menjadi kesempatan besar karena perhatian dan dukungan dari berbagai pihak sedang mengalir. Ia meminta seluruh bantuan tersebut dikelola secara transparan.


Ia menginstruksikan koordinator rekonstruksi segera membentuk kelompok kerja atau satuan tugas serta membuka rekening bersama untuk menampung seluruh bantuan.


“Kalau ada akun tunggal, maka semua bantuan masuk di situ. Kita kumpulkan nanti untuk proses rekonstruksinya,” katanya.


Pengelolaan dana tersebut, lanjutnya, harus transparan dan akuntabel sehingga masyarakat maupun para pemberi bantuan dapat mengetahui penggunaannya.
“Jadi mumpung banyak yang membantu, ayo kita buat sebuah proyek yang benar-benar jadi landmark-nya NTB. Ini bukan proyek arsitektur, tapi proyek sejarah, proyek peradaban,” katanya.


Dalam kesempatan itu, Iqbal juga mengungkapkan pentingnya memberikan status formal terhadap Sade sebagai desa adat. Selama ini, Sade telah dikenal dan ditetapkan sebagai desa wisata, namun menurutnya belum memiliki penetapan formal sebagai desa adat.


Ia meminta Dinas Kebudayaan NTB segera memulai proses pengakuan tersebut bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB.


“Pengakuan bahwa Sade itu desa adat belum pernah secara formal. Karena itu saya minta kepada Dinas Kebudayaan, mulai dengan Balai Pelestarian Kebudayaan di sini, mulailah proses sekarang,” tegasnya.


Iqbal menyebut, pengakuan tersebut penting agar Sade tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai situs budaya dan adat yang memiliki nilai sejarah.


Ia menyebut, selama puluhan tahun NTB berada dalam cakupan Balai Pelestarian Kebudayaan di Bali. Namun, sejak akhir 2025, Kementerian Kebudayaan menyetujui pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan NTB.
“Ini kesempatan kita untuk benar-benar membangun karakter budaya dan tradisi kita sendiri. Salah satunya adalah Sade,” katanya.


Hal senada juga disampaikan Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P.,M.A.P., Menurutnya, waktu dimulainya pembangunan ulang kampung adat Sade merupakan hasil kesepakatan bersama para tokoh masyarakat setempat. Awal bulan September dipilih sebagai waktu dimulainya rekonstruksi karena masih dalam suasana bulan Rabiul Awal kalender hijriah yang merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.


Di mana oleh masyarakat setempat bulan ini dinilai sebagai waktu yang baik untuk memulai proses pembangunan ulang Kampung Adat Sade. “Karena proses pembangunannya akan butuh waktu, maka diharapkan masyarakat bersabar. Yang jelas pemerintah ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat Sade,” ujarnya.


Sementara itu, Koordinator Rekonstruksi Sade, Lalu Moh. Faozal, melaporkan kebakaran yang melanda rumah adat Dusun Sade I pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, menimbulkan kerusakan cukup besar.


Berdasarkan laporan tersebut, kebakaran berdampak terhadap 75 kepala keluarga (KK). Selain itu, sebanyak 8 unit gazebo atau berugaq, 6 sekenem, 1 masjid, 1 museum, 2 toilet, serta 69 tempat usaha atau art shop ikut terdampak. (bul/kir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN










VIDEO