Mataram (Suara NTB) – Tingginya tingkat pengangguran terbuka bukan hanya dipicu minimnya lowong pekerjaan. Persoalan ini justru disebabkan sulitnya perusahaan mencari pekerja sesuai kebutuhan. Dunia pendidikan semestinya melahirkan lulusan berdasarkan kebutuhan dunia industri dan dunia usaha.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, Ida Wayan Putra Ekantara menjelaskan, fenomena mismatch atau tidak sinkronnya antara kebutuhan perusahaan dengan pekerja menjadi persoalan di Indonesia, termasuk di Kota Mataram. Kualifikasi pendidikan calon pekerja justru tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Padahal, lowongan pekerja sangat banyak tetapi terkendala kualifikasi pendidikan.
Hal ini disebabkan lulusan dari perguruan tinggi maupun sekolah menengah kejuruan tidak berorientasi pada dunia usaha dan dunia industri. Semestinya, lembaga pendidikan mencetak lulusan berdasarkan kebutuhan perusahaan. “Perguruan tinggi di Indonesia banyak melahirkan sarjana tetapi mereka belum siap kerja,” terang Putra dikonfirmasi pekan kemarin.
Ketidaksesuaian antara kebutuhan perusahaan dengan angkatan kerja berpengaruh terhadap tingkat penganguran terbuka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Mataram sebut Putra, tingkat pengangguran terbuka di Ibukota Provinsi NTB, mencapai 4,80 persen. Penurunan angka pengangguran ini dari tahun ke tahun relatif kecil.
Mantan Sekretaris Inspektorat Kota Mataram menegaskan, fenomena mismatch perlu dicarikan solusi untuk menutupi kebutuhan perusahaan. Salah satu yang dilakukan adalah menggelar pelatihan sesuai kebutuhan dunia industri dan dunia usaha. “Kita melakukan pemetaan dulu sebelum melakukan pelatihan. Pemetaan ini penting untuk mengetahui kebutuhan dunia industri dan dunia usaha,” jelasnya.
Di Kota Mataram sambung Putra, tren usaha yang berkembang adalah kedai kopi. Pihaknya menyiapkan pelatihan khusus barista atau peracik kopi. Selanjutnya, pelatihan perbaikan AC, bengkel motor dan lain sebagainya.
Putra menegaskan, penurunan angka pengangguran terbuka tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Peran dunia pendidikan juga sangat penting, sehingga dunia pendidikan tidak hanya berpatokan kepada kurikulum dan silabus. Artinya, perguruan tinggi maupun sekolah kejuruan mencoba melihat potensi yang ada di daerah. “Misalnya, disnaker kabupaten/kota dan provinsi diajak berdiskusi guna memetakan kebutuhan dunia usaha. Jangan hanya melahirkan sarjana itu-itu saja,” kritiknya.
Ia menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi maupun sekolah menengah kejuruan disiapkan untuk bekerja berdasarkan keterampilan mereka. Keterampilan harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan,sehingga mahasiswa atau siswa yang lulus langsung berkarier. “Jadi mereka tidak nganggur dan pusing mencari pekerjaan,” katanya. (cem)



