Praya (Suara NTB) – Rencana rekonstruksi kampung adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) hingga kini terus dimatangkan. Fokus utama saat ini penyelesaian masterplan dan desain kampung yang habis terbakar pada 22 Agustus 2026 lalu tersebut. Sejumlah kementerian pun terlibat dalam proses ini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Loteng H. Lalu Firman Wijaya, S.T.,M.T., kepada awak media di kantornya, Rabu (9/9/2026), mengungkapkan untuk penyusunan desain kampung adat Sade sendiri melibatkan tim ahli dari Universitas Mataram (Unram). Dengan proses sampai saat ini sudah sekitar 80 persen lebih.
“Setelah desain dan masterplan selesai disusun, baru kemudian akan difinalisasikan bersama sejumlah kementerian,” sebutnya.
Dalam proses finalisasi tersebut, masing-masing kementerian yang terlibat nantinya akan mengambil peran sesuai tugas pokoknya. Misalnya, untuk penanganan penataan kawasan kampung adat itu ada Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kemudian soal penanganan aspek budaya, Kementerian Kebudayaan yang bertugas.
Selanjutnya, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Sosial akan menangani aspek pariwisata serta dampak sosialnya. Begitu juga dengan BNPB, Pemprov NTB dan Pemkab Loteng juga akan ikut terlibat sesuai beban dan tugasnya masing-masing.
“Banyak pihak yang memang terlibat dalam proses rekonstruksi kampung adat Sade. Karena rekonstruksi kampung adat Sade bukan rekonstruksi biasa,” jelas Firman.
Sembari proses finalisasi masterplan dan desain kampung adat Sade berjalan, fokus pembangunan di kampung adat Sade saat ini yakni menyelesaikan pembangunan Masjid Sade serta Museum Sade. Di mana untuk Museum Sade sendiri ditargetkan selesai sebelum ajang MotoGP Mandalika digelar pada 9-11 Oktober 2026 mendatang.
Ada juga pembangunan galeri bersama kampung adat Sade. Yang nantinya direncanakan akan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung adat Sade.
“Khusus untuk Museum Sade, selain akan memajang berbagai koleksi benda, artefak maupun sisa kebakaran juga akan disiapkan fasilitas virtual tour,” imbuhnya.
Di fasilitas tersebut nantinya wisatawan bisa melihat kondisi kampung adat Sade sebelum kebakaran secara virtual. Untuk menyiapkan fasilitas tersebut pihaknya akan bekerja sama dengan Poltekpar Lombok.
Terkait dampak ekonomi, pemerintah saat ini juga tengah menyiapkan pemberian Jaminan Hidup (Jadup) bagi warga terdampak kebakaran. Rencananya, jadup akan diberikan selama enam bulan.
“Tapi untuk jumlah berapa yang akan diterima belum ditentukan. Karena sedang dalam proses pembahasan,” tandas mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng ini. (kir)



