BerandaBIMATenun Kain Kafan Sangiang Bertahan Sejak Letusan Gunung

Tenun Kain Kafan Sangiang Bertahan Sejak Letusan Gunung

Bima (Suara NTB) – Tradisi menenun kain kafan masih bertahan di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, hingga kini. Tradisi yang terutama ditekuni perempuan itu berkembang kuat setelah letusan Gunung Sangiang pada 1984, ketika warga Pulau Sangiang harus dievakuasi ke daratan.

Fungsional Perencana Muda Bappeda Kabupaten Bima, Vivi Misbach Rabiatun menjelaskan, tenun kain kafan merupakan salah satu budaya khas Sangiang yang diwariskan secara turun-temurun. Kain tersebut sekaligus menjadi sumber mata pencaharian perempuan yang membantu perekonomian keluarga.

“Budaya tenun yang turun temurun masih dikerjakan sampai sekarang yaitu tenunan kain kafan yang merupakan sumber mata pencaharian bagi kaum hawa,” kata Vivi kepada Suara NTB pada, Sabtu (12/9).

Menurut Vivi, kebutuhan terhadap kain kafan berkaitan dengan kondisi masyarakat Sangiang pada masa lalu. Saat masih bermukim di Pulau Sangiang, warga kesulitan memperoleh kain kafan ketika ada penduduk yang meninggal, karena transportasi dan akses informasi masih terbatas.

Kondisi itu semakin terasa setelah letusan Gunung Sangiang pada 1984. Warga Pulau Sangiang akhirnya dievakuasi ke daratan dan bermukim di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Sangiang Darat.

Meski telah berpindah, hubungan masyarakat dengan pulau asal mereka tidak sepenuhnya terputus. Pada musim tanam wijen, warga masih menyeberang ke Pulau Sangiang untuk tinggal dan bercocok tanam hingga musim panen.

“Ketika musim tanam wijen, mereka akan menyeberang ke Pulau Sangiang, tinggal dan bermukim di sana,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, keterampilan menenun kain kafan terus diwariskan. Kain putih polos itu dibuat secara tradisional dengan tenaga manusia dan tidak melalui proses produksi pabrik. “Keunikan dari tenun kain kafan ini adalah tenunan polos yang dibuat tanpa adanya campur tangan dari pabrik atau jauh dari kata modern, karena masih menggunakan tenaga manusia,” jelasnya.

Benang yang digunakan didatangkan dari Manggarai. Proses pemotongan kain pun memiliki cara tersendiri. Penenun tidak menggunakan gunting karena pada kain putih polos tersebut, telah terdapat serat yang diatur sedemikian rupa sebagai batas potongan.

Kain produksi Wera itu dikenal dengan nama Malanta Taki atau Malanta Kaba. Dalam catatan sejarah budaya Bima, kain putih panjang tersebut juga disebut pernah dibawa ke lingkungan Istana Bima untuk membungkus lampion.

Selain kain kafan, masyarakat Sangiang mengenal tenunan khas lain, seperti tenun hitam atau tembe me’e dan tembe nggoli. Namun, kain kafan memiliki tempat tersendiri karena tetap digunakan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

“Tenun putih polos ini penuh sarat makna dan filosofi yang cukup berarti, yaitu bahwa setelah kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan alam baqa,” kata Vivi.

Hingga 2026, tenun kain kafan masih menjadi sumber mata pencaharian perempuan Desa Sangiang. Mereka menenun di sela aktivitas rumah tangga dan membantu suami yang umumnya bekerja di sektor pertanian. “Tenunnya masih dipertahankan sampai sekarang,” sebutnya.

Satu lembar kain membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk diselesaikan, bergantung pada waktu luang penenun. Masyarakat Sangiang juga tetap menggunakan kain hasil tenunan sendiri untuk keperluan pemakaman.

Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan, sejarah dan kebudayaan masyarakat Sangiang saling berkaitan. Kain putih tanpa corak itu bukan sekadar hasil kerajinan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga ke penghujung kehidupan. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN










VIDEO