Praya (Suara NTB) – Ada cerita ekonomi baru yang tumbuh dari potensi sumber daya pohon kelapa masyarakat Dusun Gawah Bongak, Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Buah kelapa yang sebelumnya hanya diolah menjadi minyak untuk kebutuhan lokal, kini sudah diproses menjadi virgin coconut oil (VCO) dan sejumlah produk turunan, pasarnya adalah wisatawan eropa.
VCO, atau yang biasa disebut masyarakat lokal adalah minyak katak (minyak mentah), adalah produk unggulan yang kini sudah dihasilkan dari Gawah Bongak, sudah dikemas, diberi merek, dan sudah dijual kepada wisatawan-wisatan Eropa.
Bagaimana ceritanya? tokoh pemuda Gawah Bongak, Burhanudin, Sabtu, 19 September 2026 menunjukkan botol berisi VCO, ada juga sabun, antinyamuk, deodoran, tabir surya, hingga bahan wax yang digunakan untuk papan selancar. Produk-produk yang sudah didukung oleh Pertamina Patra Niaga ini, menurut Burhan, adalah jawaban dari upaya masyarakat di Dusun Bongak mencari sumber ekonomi baru dari potensi sumber daya alam yang ada di sekitar.
Produksi minyak goreng yang sebelumnya dilakukan oleh perempuan di kampung ini sejak lama, telah diubah menjadi produksi VCO, dan aneka turunan produk lainnya agak nilai pasarnya lebih tinggi.
“Setelah kita tahu ada yang lebih menjanjikan, virgin coconut oil ini dengan biaya produksi lebih murah, bahan baku lebih murah, dan hasilnya lebih mahal, kita beralih menjadi produksi virgin coconut oil,” kata Burhanudin.
Perubahan bukan hanya terjadi pada produk, tetapi juga pasar. Jika sebelumnya produk dipasarkan untuk konsumen lokal, VCO kini lebih banyak diperkenalkan kepada wisatawan mancanegara.
Menurut Burhanudin, wisatawan Eropa termasuk konsumen yang menunjukkan minat tinggi terhadap VCO. Produk tersebut digunakan untuk kebutuhan perawatan kulit dan rambut serta keperluan lainnya.
“Yang paling banyak dibeli itu virgin coconut oil. Sama wisatawan, apalagi wisatawan Eropa, mereka senang sekali,” ujarnya.
Dalam sekali kunjungan, seorang wisatawan dapat membeli beberapa botol VCO. Bahkan, menurut Burhanudin, pembelian bisa mencapai 10 hingga 15 botol per orang.
Pasar ini tumbuh seiring semakin banyaknya wisatawan yang datang ke Gawah Bongak untuk mengikuti berbagai kegiatan berbasis masyarakat di daerah penyangga Kawasan Mandalika ini.
Dari VCO, sabun, antinyamuk, deodoran, tabir surya, hingga bahan wax yang digunakan untuk papan selancar, seluruhnya diproduksi sendiri oleh masyarakat melalui Gawah Bongak Foundation, dengan melibatkan pemuda dan ibu-ibu setempat.
Keunikan produk Gawah Bongak juga terletak pada konsep bisnis yang menggabungkan ekonomi dengan pemulihan lingkungan.
Burhanudin mengatakan setiap penjualan produk dialokasikan sebagian untuk kegiatan penanaman pohon. Untuk produk yang dijual Rp100 ribu, misalnya, sekitar 10 persen atau Rp10 ribu disisihkan untuk penanaman.
“Setiap penjualan produk, satu botol terjual itu sama dengan menanam satu pohon di Bongak. Kita sisihkan setiap hasil penjualan itu untuk menanam pohon,” katanya.
Pohon yang ditanam diarahkan untuk memenuhi tiga fungsi, yakni menghasilkan air, buah, dan pakan ternak.
Konsep ini menjadi bagian dari upaya pemuda Gawah Bongak menghubungkan pemulihan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi. Sebelumnya, pada 2021 mereka menanam sekitar 13.000 bibit pohon dari 10 jenis, terutama lamtoro, untuk mengatasi kondisi lahan yang sebelumnya gersang sekaligus membantu menyediakan pakan bagi ternak masyarakat.
Kehadiran wisatawan asing kemudian memberikan pasar sekaligus memperkuat model ekonomi yang dibangun masyarakat.
Burhan mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Bongak cukup besar. Selain wisatawan umum, terdapat pula wisatawan yang datang untuk menjadi relawan maupun kelompok dari yayasan dan perusahaan luar negeri.
Jaringan dengan Prancis menjadi salah satu pintu yang terus dikembangkan. Burhanudin sendiri aktif membangun jejaring di negara tersebut, termasuk mencari peluang kolaborasi untuk pemasaran produk Gawah Bongak.
“Sekarang dokumen kita sudah ke Spanyol dan Perancis, yang sedang saya urus,” katanya.
Ia menyebut daya tarik produk Gawah Bongak bagi mitra luar negeri bukan semata-mata produknya, tetapi dampak sosial dan lingkungan yang melekat di dalamnya.
Konsep itu membuat VCO tidak sekadar menjadi produk olahan kelapa, tetapi bagian dari model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan produk, pariwisata, pendidikan, ekonomi dan pemulihan lingkungan. (bul)



