Mataram (Suara NTB) – Kabar membanggakan datang dari dunia musik NTB. Grup band, Lombok Ethno Fusion, masuk lima besar nominasi AMI Awards 2026 kategori “Karya Produksi Musik Global”.
Tembusnya Lombok Ethno Fusion di kancah nasional ini menjadi bukti nyata, karya putra daerah mempunyai nilai dan kualitas tersendiri.
Gitaris Lombok Ethno Fusion, Chandra Irawan, menyampaikan rasa sukur atas keberhasilan yang dicapai band dan teman-temannya. Menurutnya, tembus sampai lima besar di ajang bergengsi nasional bukan pencapaian mudah. Terlebih, band yang ikut serta tidak sedikit.
“Jadi, kami terpilih lima besar dari semua grup yang yang mendaftarkan karyanya di kategori musik global atau world music itu, kami benar-benar syukur dan tentunya bikin kami lebih termotivasi untuk berkarya lagi,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa (22/9/2026).
Masuknya Lombok Ethno Fusion dalam radar musik nasional bukan tanpa alasan. Sejak awal, band asal Lombok itu memang telah mengusung konsep memadukan musik tradisional dan musik modern.
Hal ini bisa dilacak dari nama band. Lombok Ethno yang mengerucut kepada elemen musik etnis Lombok yakni Sasak. Sementara kata “Fusion” mengacu pada sub genre dari Jazz. Chandra menegaskan, musik-musik karya Lombok Ethno Fusion bukan sepenuhnya jenis tradisional melainkan perpaduan. Berbanding terbalik dari anggapan masyarakat selama ini.
“Jadi semua karya kita rata-rata benang merahnya ke percampuran antara musik tradisi dan jazz. Karena kalau menurut saya musik jazz itu lebih lebih lentur atau lebih universal untuk digabungkan dibandingkan dengan jenis musik lain,” terangnya.
Sejak berdiri pada 2023, Lombok Ethno Fusion telah merilis sebanyak tujuh lagu. Terdiri dari tiga musik berlirik dan empat instrumental. Penggunaan bahasa pun beragam. Ada bahasa Inggris, Indonesia, dan Sasak.
“Lebih banyak instrumen instrumental. Kayak yang masuk di AMI Awards 2026 ini nominasinya karya kita yang instrumental,” tuturnya.
Adapun keputusan mengambil konsep memadukan musik tradisional dan modern ini tidak terlepas dari upaya band untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi Sasak secara khusus dan NTB pada umumnya.
Dengan adanya elemen modern, karya musik yang pada dasarnya mengandung kekhasan tradisi dan budaya, diharapkan dapat dinikmati oleh pendengar dari berbagai negara.
Chandra menerangkan, di era digitalisasi yang pesat, sebuah band dituntut menciptakan inovasi yang maju. Karena itu, Lombok Ethno Fusion memutuskan mengambil selangkah ke depan dalam membuat karya musiknya.
Dengan keputusan tersebut, musik Lombok Ethno Fusion tidak hanya dinikmati oleh pendengar di kancah domestik, tapi mancanegara. Bahkan, band tersebut telah tour di Eropa pada 2024.
Antara lain, di Moscow Jazz Festival dan di Igor Butler Jazz Club. Kemudian, di nasional, Lombok Ethno Fusion sempat manggung di Jogja, Magelang, hingga Bali.
“Prinsip saya, kita orang Lombok mau main rock, mau main jazz, mau main blues, mau main pop, kita harus memunculkan identitas kita sebagai orang Lombok,” kata Chandra.
Menurut Chandra, keinginan tembus internasional sejalan dengan visi pemerintah daerah yakni NTB mendunia. Banyak elemen kebudayaan dan pariwisata yang dapat dipromosikan lewat musik.
Namun, baginya, perhatian pemerintah terhadap potensi musik sebagai media promosi belum ada. Chandra mengaku, band-nya selalu kesulitan ketika harus manggung di luar negeri akibat terhimpit anggaran. Seperti ketika band-nya diundang manggung di Serbia yang batal karena kesulitan anggaran pengurusan visa.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat lebih peduli terhadap ekosistem musik daerah. Khususnya, kepada Lombok Ethno Fusion yang terhambat karena kendala dana.
“Jadi kita memohon agar pemerintah provinsi lebih lebih melihat kami. Artinya dengan tagline-nya NTB Mendunia, sesuai dengan kami yang diundang ke luar negeri,” pungkasnya. (sib)



