BerandaBIMA34.858 Warga Bima Terdampak Kekeringan

34.858 Warga Bima Terdampak Kekeringan

Bima (Suara NTB) – Kekeringan di Kabupaten Bima meluas hingga berdampak pada 34.858 jiwa atau 10.593 kepala keluarga (KK) di 52 desa yang tersebar pada 16 kecamatan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah meningkat dan memerlukan penanganan darurat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Abdul Muis, S.Sos., mengatakan penanganan kekeringan dilakukan dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah yang masyarakatnya mengalami kesulitan air.

“Bencana kekeringan melanda sebanyak 16 kecamatan dan 52 desa. Total masyarakat yang terdampak kekeringan mencakup 10.593 KK atau 34.858 jiwa,” sebutnya pada Rabu (23/9).

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Palibelo menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terdampak terbanyak 4.038 KK atau 13.382 jiwa. Berikutnya, Kecamatan Belo dengan 1.485 KK atau 5.103 jiwa.

Kecamatan Wawo tercatat memiliki 1.350 KK atau 4.204 jiwa terdampak. Sedangkan, Kecamatan Woha sebanyak 1.105 KK atau 3.555 jiwa.

Disampaikan Muis, tinggnya jumlah warga yang terdampak di sejumlah wilayah tersebut, beriringan dengan kebutuhan distribusi air bersih. Pihaknya sebelumnya menetapkan target awal distribusi sebanyak 64 rit atau setara 320.000 liter air.

Namun, hingga pekan ketiga September 2026, distribusi yang telah dilakukan mencapai 84 rit atau sekitar 420.000 liter. Penyaluran dilakukan sejak Mei dan intensitasnya meningkat pada Agustus dan September.

“Selama periode pelaksanaan dari bulan Mei hingga September 2026, akumulasi penyaluran air bersih yang berhasil didistribusikan ke wilayah terdampak mencapai 84 rit,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Kecamatan Woha menjadi wilayah dengan distribusi air terbanyak, yakni 24 rit atau 120.000 liter. Desa Waduwani menjadi penerima terbanyak di kecamatan tersebut dengan 15 rit atau 75.000 liter.

Di Kecamatan Palibelo, distribusi mencapai 23 rit atau 115.000 liter. Desa Nata menerima 14 rit atau 70.000 liter, menjadi desa dengan distribusi terbanyak di wilayah tersebut.

Sejumlah wilayah lain juga menerima distribusi berulang. Desa Sanolo di Kecamatan Bolo dan Desa Roka di Kecamatan Belo masing-masing menerima delapan rit. Sedangkan, Desa Bajo di Kecamatan Soromandi menerima 10 rit.

“Puncak intensitas distribusi air bersih terjadi pada bulan Agustus dan September 2026,” katanya.

Bencana kekeringan yang meluas dampak tersebut, menunjukkan perkembangan dibanding pemetaan sebelumnya. Pada awal Agustus, BPBD mencatat 43 desa di 15 kecamatan berpotensi terdampak dengan estimasi 8.665 KK atau 27.343 jiwa. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO