RENCANA operasional pesawat amfibi atau seaplane di Bendungan Batujai, Lombok Tengah (Loteng), belum terealisasi sesuai target awal.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Ervan Anwar mengemukakan, proses perizinan dan penyiapan infrastruktur menjadi kendala utama yang membuat pengoperasian moda transportasi air-udara tersebut molor.
Kerja sama pengoperasian pesawat amfibi atau seaplane telah ditandatangani pada 31 Agustus 2026. Namun, masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus diselesaikan sebelum pesawat dapat beroperasi.
“Banyak SOP yang harus dipenuhi. Apalagi dermaganya sudah tua, sehingga aspek keselamatan dan perizinannya harus benar-benar disiapkan,” kata Ervan, pekan kemarin.
Menurutnya, saat ini Pemprov NTB tengah menyusun Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait pembangunan dermaga di Bendungan Batujai. Pembahasan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum.
Selain pembangunan dermaga, perizinan pemanfaatan kawasan bendungan dan izin operasional penerbangan juga masih berproses. Karena itu, prosesnya melibatkan dua kementerian, yakni Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan.
Ervan mengatakan, Pemprov NTB tetap optimistis operasional seaplane tersebut dapat diwujudkan tahun ini. Terlebih, Gubernur NTB, Dr. H. Muhamad Iqbal terus mendorong percepatan karena moda transportasi tersebut dinilai dapat membuka konektivitas baru sekaligus mendukung sektor pariwisata.
“Pak Gubernur sangat mendukung dan mendorong agar segera terealisasi. Ini untuk mendongkrak pariwisata dan konektivitas,” ujarnya.
Konsep seaplane, lanjut Ervan, tidak hanya diarahkan untuk melayani Bendungan Batujai. Pemprov NTB tengah menyiapkan jaringan konektivitas yang menghubungkan sejumlah destinasi wisata di NTB dengan Bali dan daerah lainnya.
Ervan menyebut sejumlah lokasi yang tengah dikaji antara lain kawasan Sire di Lombok Utara serta sejumlah titik di Sumbawa. Konektivitas juga diharapkan dapat dikembangkan hingga Labuan Bajo NTT.
Untuk tahap awal, pesawat yang direncanakan beroperasi disebut berjumlah sekitar empat unit dengan kapasitas sekitar 14 penumpang.
Dengan masih berlangsungnya proses perizinan dan penyiapan dermaga, Ervan berharap seluruh tahapan dapat segera dituntaskan sehingga operasional seaplane di Batujai bisa direalisasikan tahun 2026 ini. (bul)



