BerandaNTBLOMBOK BARATKelangkaan Semen, Proyek Fisik di Lotim dan Lobar Dikhawatirkan Molor

Kelangkaan Semen, Proyek Fisik di Lotim dan Lobar Dikhawatirkan Molor

Selong (Suara NTB) – Kelangkaan semen dalam beberapa hari terakhir yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Barat (Lobar) dikhawatirkan menyebabkan sejumlah proyek fisik di kedua kabupaten tersebut molor.


Di Lombok Timur, kelangkaan semen mulai menghambat pelaksanaan proyek revitalisasi pendidikan. Hal ini seperti terjadi di SDN 3 Pringgabaya, Lombok Timur. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu target penyelesaian proyek yang ditetapkan selama 120 hari.

Proyek jalan di Telaga Waru-Perampuan, Kecamatan Labuapi, Lobar sedang dalam proses pengerjaan.(Suara NTB/rus)


Kepala SDN 3 Pringgabaya, Maturiadi mengatakan, keterbatasan pasokan semen menjadi kendala utama yang dirasakan pihak sekolah dalam pelaksanaan pekerjaan. “Limitnya semen, pak. Betul-betul limit. Di satu sisi kami dituntut progres, 120 hari itu harus selesai semuanya,” ujar Maturiadi menjawab Suara NTB saat ditemui di sekolahnya, pekan kemarin.


Menurutnya, kelangkaan semen bahkan membuat pekerjaan di sekolah tersebut terhenti selama dua hari. Pihak sekolah khawatir kondisi itu akan semakin menyulitkan pencapaian target, terlebih jika nantinya terkendala faktor cuaca.


Selain sulit diperoleh, harga semen yang tersedia juga mengalami kenaikan. Maturiadi menyebut harga yang sebelumnya bisa diperoleh sekitar Rp65 ribu, kini mencapai sekitar Rp70 ribu. Namun, persoalan utama bukan hanya kenaikan harga, melainkan ketersediaan barang.


Ia menjelaskan, pekerjaan revitalisasi menggunakan semen yang direkomendasikan oleh konsultan dan tim pengawas. Menurutnya, merek yang direkomendasikan di antaranya Tiga Roda. “Kalau dapat, kami syukur. Tapi kalau limit, itu yang menjadi kendala kami,” ujarnya.


Dengan ketentuan waktu pelaksanaan selama 120 hari sejak dana diterima, Maturiadi menyebut pekerjaan ditargetkan rampung pada Desember. Karena itu, keterlambatan pasokan material menjadi perhatian serius pihak sekolah. “Kekhawatiran itu ada. Sangat khawatir,” katanya.


SDN 3 Pringgabaya merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan dana revitalisasi pendidikan sebesar Rp2 miliar. Maturiadi mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan perbaikan sarana sekolah berdasarkan perencanaan dan analisis kerusakan.


Awalnya, sekolah tersebut mendapatkan program rehabilitasi enam ruang. Namun, berdasarkan data Dapodik, pihak sekolah juga menyampaikan adanya kekurangan ruang kelas.


Hasilnya, sekolah mendapatkan tambahan pembangunan empat ruang kelas baru (RKB). Satu ruang dibangun di bagian bawah, sementara tiga ruang direncanakan berada di lantai atas karena keterbatasan lahan.


Maturiadi menegaskan bahwa pelaksanaan revitalisasi tetap mengacu pada petunjuk teknis dan dikawal oleh tim perencana serta konsultan pengawas.
Menurut dia, pihak sekolah sebelumnya telah mengikuti bimbingan teknis terkait pelaksanaan program revitalisasi, termasuk tata kelola pekerjaan secara swakelola dan administrasinya.


Ia menambahkan, pelaksanaan proyek juga dipantau melalui sistem pelaporan dan pengawasan yang telah ditetapkan. Dengan mekanisme tersebut, pihak sekolah berupaya memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai ketentuan.


Meski menghadapi kendala pasokan semen, Maturiadi tetap berupaya SMA tanamkan optimisme kepada semua pekerja agar proyek swakelola revitalisasi sekolah itu dapat diselesaikan sesuai ketentuan.


Ia mengakui nilai anggaran Rp2 miliar merupakan jumlah yang cukup besar bagi sekolah. Namun, menurutnya, besaran anggaran tersebut harus dipahami berdasarkan kebutuhan pekerjaan yang telah ditentukan melalui perencanaan teknis.


Ia berharap seluruh pihak dapat bekerja sesuai petunjuk teknis dengan mengedepankan transparansi, sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik dan selesai sesuai target.

Khawatir Proyek Molor

Kelangkaan semen di Lombok Barat dikhawatirkan berdampak pada pengerjaan proyek fisik. Banyak proyek fisik dikerjakan Pemkab Lobar, baik jalan, jembatan hingga bangunan Puskesmas dan sekolah. Hal ini menjadi perhatian serius dari kalangan pengusaha konstruksi yang tergabung dalam DPD Gapensi Lobar.


Ketua Gapensi Lobar, H. Khaerudin mengaku, kelangkaan semen yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir berdampak pada pengerjaan proyek di lapangan. “Betul (kelangkaan) insyaallah tiang (saya) akan bersurat ke Perdagangan untuk menanyakan apa kendalanya sehingga ada kelangkaan semen ini,” kata Ketua Gapensi Lobar ini, Sabtu (25/9/2026).


Langkah yang akan dilakukan pihaknya akan menanyakan penyebab terjadinya kelangkaan Semen ini dan apa langkah antisipasi dari Pemkab. Karena yang menerima dampak adalah para pengusaha jasa konstruksi yang bekerja di Lobar. “Tentunya sangat berdampak sekali terhadap proyek-proyek yang sedang berjalan,” ujarnya.


Saat ini para pengusaha yang berada di bawah naungan Gapensi cukup kebingugan untuk keberlangsungan pekerjaannya. Apalagi memasuki akhir tahun, dengan limit waktu tersedia terus berjalan dikawatirkan proyek-proyek tidak selesai pengerjaannya. “Jangan sampai proyek tidak selesai dengan kelangkaan semen ini,” imbuhnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Lale Widiani, SH., mengatakan pihakya melakukan pemantauan di beberapa distributor semen besar yang menerima order pemasokan material semen untuk pengerjaan proyek. Distributor yang telah menerima dana permulaan atau DP orderan semen dari rekanan melakukan penjadwalan secara bergilir pemasokan material semen dengan distributor-distribitor kecil agar pasokannya tetap terjaga.


“Untuk proyek-proyek distributor memberikan secara bergilir, yang tadinya mungkin untuk proyek A misalnya. Distributor kasih juga ke distributor-distributor kecil,” kata dia.


Terkait dampak kelangkaan semen ke pengerjaan proyek-proyek, Pihaknya belum tahu persis karena bukan wewenangnya. Namun, yang jelas sudah ada langkah pengaturan dari pihak distributor semen.


Pihaknya juga menanyakan ke distributor apakah kondisi kelangkaan semen ini terjadi tiap tahun pada saat pengerjaan proyek akhir tahun. Menurut para distributor, baru kali ini terjadi, bukan karena dampak kebutuhan semen untuk pengerjaan proyek bersamaan pada akhir, tetapi pasokannya terkendala produksi di pabrik. “Karena tahun lalu tidak terjadi seperti ini,” ujarnya. (rus/her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN







VIDEO