Mataram (Suara NTB) – Kebakaran di lereng Rinjani, tepatnya pendakian kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, jalur pendakian Senaru meluas hingga kurang lebih 977 hektare. Sejak munculnya api pada 22 September 2026 lalu, hingga Minggu (27/9) api belum berhasil dipadamkan.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Astekita Ardiaristo, mengatakan imbas kebakaran ini, dua jalur pendakian, yaitu jalur Senaru dan Torean ditutup sementara.
Penutupan jalur Torean telah lebih dulu dilakukan pada 23 September 2026 lalu, sementara penutupan jalur pendakian Senaru dimulai pada Sabtu, 26 September 2026 sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan.
“Sehingga untuk sementara Jalur Senaru dan Torean tidak digunakan sebagai jalur masuk maupun keluar aktivitas pendakian hingga terdapat kebijakan lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi kondisi lapangan,” ujarnya, Minggu (27/9).
Bagi calon pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui Jalur Wisata Pendakian Senaru mulai tanggal 26 September 2026, dapat melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atau pengalihan pintu masuk dan keluar melalui lalur Wisata Pendakian Sembalun sampai dengan Jalur Senaru dibuka kembali.
Sementara bagi pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar, diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui Jalur Wisata Pendakian Sembalun, sesuai dengan arahan petugas Balai TN Gunung Rinjani di lapangan.
Dalam menangani kebakaran tersebut, pihak BTNGR telah menerjunkan sekitar 80 personel. Namun, dalam pelaksanaannya, proses pemadaman api mengalami kendala seperti angin yang sangat kencang mempercepat pergerakan api.
“Ada 80 personel dan tenaga pendukung terlibat dalam rangkaian penanganan. kebakaran. Personel ditempatkan dan digerakkan pada sejumlah lokasi, antara lain Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru serta kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru,” terangnya.
Alat yang digunakan untuk membantu proses pemadaman api berupa pemadam manual, drone, perangkat komunikasi, kendaraan roda empat dan roda dua, perlengkapan lapangan serta dukungan logistik. Namun, api yang kencang dan vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar.
“Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau, sehingga mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar,” lanjutnya.
Penanganan kebakaran, sambungnya dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan BTNGR, Balai Dalkamut Mataram, BPBD NTB, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri/Brimob serta unsur terkait lainnya. Balai TNGR juga telah melakukan pengaturan pergantian personel, memperkuat regu pemadam menuju Bukit Setampol dan Jalur Torean, serta menempatkan petugas pemantauan pada Jalur Pendakian Senaru.
“Pemantauan udara menggunakan drone juga terus dimanfaatkan untuk membantu memantau perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran kebakaran serta penentuan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas penanganan,” katanya. (era)



