Pagi itu, langit Sembalun masih berselimut kabut tipis ketika Hadi Wicaksono dan istrinya memulai pendakian tektok ke Bukit Pergasingan, Lombok Timur (Lotim). Sebelum kaki melangkah ke jalur, tas carrier mereka diperiksa satu per satu. Botol air mineral, bungkus roti, hingga tisu basah dicatat dalam sebuah ceklis. Tidak ada yang luput. Sebuah botol tumbler diserahkan kepada mereka, sementara uang deposit Rp10.000 per item disetorkan ke pengelola. Prosedur itu kini menjadi ritual wajib bagi setiap pendaki yang ingin menikmati panorama Bukit Pergasingan.
SEJAK diberlakukan lebih dari sebulan terakhir, sistem ceklis barang bawaan dan deposit sampah di kawasan wisata Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, membawa perubahan nyata. Jalur pendakian yang dulu kerap dipenuhi puntung rokok, bungkus plastik, dan botol air mineral, kini jauh lebih bersih. Sampah yang tersisa umumnya hanya dedaunan kering atau plastik yang tertiup angin.
Ketua Pengelola Bukit Pergasingan, Royal Sembahulun mengaku lega dengan hasil tersebut. Ia menuturkan, sebelumnya kegiatan pembersihan atau clean up harus dilakukan rutin satu hingga dua kali seminggu. Kini, timnya hanya perlu turun ke jalur jika benar-benar diperlukan.
“Alhamdulillah ternyata responsnya sangat positif. Artinya, selama ini kita hanya clean up satu kali, itu pun sampahnya sangat sedikit sekali. Padahal sebelumnya kita setiap minggu, bahkan seminggu dua kali melakukan clean up,” ujar Royal saat ditemui di Sembalun, Sabtu (24/9).
Yang menarik, skema deposit sampah ini tidak dirancang sebagai sumber pendapatan pengelola. Royal menegaskan, tujuan utamanya adalah edukasi dan perlindungan lingkungan. Sebelum mendaki, tas dan ransel pendaki diperiksa untuk mencatat barang-barang yang berpotensi menjadi sampah. Setiap item yang tercatat dikenakan deposit Rp10.000. Namun, uang itu bukan denda. Jika pendaki membawa kembali seluruh sampah sesuai catatan ceklis saat turun, deposit dikembalikan utuh 100 persen.
“Strategi ini bukan semata-mata kita untuk mencari keuntungan. Kita justru sangat bangga ketika pendaki membawa sampahnya full turun sehingga uang depositnya pun kita kembalikan utuh,” ungkapnya.
Bagi wisatawan yang ingin menghindari deposit, pengelola menyediakan fasilitas wadah isi ulang atau tumbler. Mereka juga merekomendasikan repacking barang sebelum mendaki, misalnya memindahkan camilan dari kemasan sachet ke wadah yang bisa dipakai ulang.
Kebersihan jalur bukan satu-satunya tantangan. Kawasan Bukit Pergasingan dihuni monyet-monyet liar yang kerap mengendus makanan di dalam tas pendaki. Jika sampah disimpan sembarangan, satwa itu bisa mengambil dan menyebarkannya kembali ke jalur. Karena itu, pengelola mewajibkan sesi pengarahan atau briefing sebelum pendakian.
“Sebelum naik itu kita berikan mereka informasi (briefing) bahwa sampahnya harus disimpan dahulu di dalam tas biar tidak diambil monyet,” tambah Royal.
Langkah ini terbukti efektif. Para pendaki kini lebih sadar untuk tidak meninggalkan sisa makanan di luar tas, bahkan saat beristirahat di titik pandang.
Hadi Wicaksono, pendaki asal Mataram, mengaku tidak merasa terbebani dengan adanya uang deposit. Menurutnya, skema ini merupakan solusi konkret atas isu darurat sampah yang sempat ramai diperbincangkan di kawasan wisata pendakian.
“Kalau menurut saya pribadi sih ini bagus dan harus tetap ditekankan. Uang deposit kan tidak hilang, kalau ada bukti sampahnya kita bawa turun sesuai data saat naik, uangnya juga kembali. Menurut saya pribadi sangat efektif,” tutur Hadi.
Ia pun melihat sendiri kondisi jalur pendakian Bukit Pergasingan saat ini sudah jauh lebih bersih dan teratur dibanding sebelumnya.
“Alhamdulillah tadi pagi saya tektokan jalurnya bersih. Banyak teman-teman yang bawa sampahnya turun juga,” jelasnya.
Pendakian ke Bukit Pergasingan itu dimanfaatkan Hadi dan istrinya sebagai sarana latihan fisik serta persiapan sebelum menaklukkan Gunung Rinjani melalui program Seven Summits Sembalun.
Keberhasilan sistem ceklis dan deposit sampah di Bukit Pergasingan menjadi contoh yang layak direplikasi. Royal berharap pengelola bukit-bukit pendakian lain di kawasan Sembalun, bahkan di seluruh NTB, dapat mengadopsi skema serupa demi menjaga kelestarian ekosistem secara menyeluruh.
“Alangkah baiknya kalau bukit lain juga mencontoh sistem pengelolaan seperti ini, deposit sampah. Jadi sama-sama saling menjaga. Kita menikmati alamnya, jangan sampai mengotorinya apalagi sampai kita tinggalkan sampah kita,” tutup Hadi.
Di tengah kekhawatiran global tentang sampah plastik dan perubahan iklim, langkah kecil di lereng Bukit Pergasingan membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari secarik kertas ceklis. Alam yang bersih bukan hanya tanggung jawab pengelola, tetapi juga mereka yang menikmatinya. Dan di Sembalun, kesadaran itu telah tumbuh—satu pendaki, satu ceklis, satu deposit pada satu waktu. (rus)



