Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, berencana mengusulkan formasi guru produktif jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan dan guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) SLB pada seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2027. Pasalnya, jumlah guru di dua jenjang pendidikan tersebut masih kurang.
Sekretaris Dikpora NTB, Bowo Soesatyo membenarkan, jumlah guru produktif dan mata pelajaran di jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan serta SLB terbatas. Ia mencontohkan guru mapel geologi kosong di salah satu sekolah. Akibatnya, sekolah menutupi kekosongan tersebut dengan mengundang guru tamu.
Kekurangan guru tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas pembelajaran siswa di sekolah. Namun demikian, Dikpora tidak ingin merekrut guru asal-asalan. Tenaga pendidik yang akan diusulkan sesuai yang dibutuhkan sekolah.
“Kalau kuantitas mungkin bisa, tetapi sekarang kita masih banyak keluhan dari sekolah kekurangan guru produktif mata-mata pelajaran. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap angka literasi dan numerasi dan karakter anak. Kita butuh guru yang tepat untuk transformasi pengetahuan,” ujarnya, Senin (28/9).
Selain guru produktif di SMK, Dikpora juga menyoroti kekurangan tenaga pendidik di jenjang SLB. Saat ini, jumlah SLB di NTB hampir mencapai 21 unit. Sementara, rasio guru per sekolah hanya 4-5 orang. “Sehingga kami sangat butuh guru PLB ini,” kata Bowo.
Kendati demikian, salah satu tantangan pemenuhan guru SLB adalah kriteria yang harus dipenuhi. Tenaga pendidik mesti mempunyai latar belakang pendidikan luar biasa (PLB). Pihaknya akan tetap mengupayakan agar pemenuhan kebutuhan tetap bisa direalisasikan.
“Mungkin di rekrutmen ASN berikutnya akan kita prioritaskan untuk penerimaan guru di Sekolah Luar Biasa,” tuturnya.
Saat ini, Dikpora masih terus memetakan jumlah formasi yang akan diusulkan pada seleksi CPNS mendatang. Berdasarkan rasio sekolah dan jumlah guru saat ini, perkiraan jumlah yang dibutuhkan sekitar 50 guru lebih. (sib)



