Mataram (Suara NTB) — Kerajinan kulit dan keramik menjadi potensi bisnis yang potensial sebagai produk unggulan. Sayangnya, jumlah peminat jurusan ini cukup minim.
Kepala SMK Negeri 5 Mataram, H. Istiqlal Makrif mengatakan, jurusan kerajinan kulit dan keramik menjadi salah satu program keahlian dengan jumlah siswa paling sedikit. Kondisi itu menjadi tantangan bagi sekolah untuk membangun kembali daya tarik kedua jurusan tersebut.
“Untuk sementara pada jurusan tertentu seperti kriya dan musik, ini yang paling sedikit jumlah siswanya,” kata Istiqlal.
Menurutnya, rendahnya minat terhadap kerajinan kulit dan keramik tidak terlepas dari pandangan masyarakat yang masih menganggap bidang tersebut memiliki prospek terbatas. Kerajinan kulit, misalnya, masih kerap diasosiasikan dengan pekerjaan sederhana seperti tukang sol sepatu.
Padahal, menurut Istiqlal, peluang pengembangan produk kulit cukup besar. NTB memiliki potensi bahan baku dari sektor peternakan yang selama ini sebagian besar hanya diolah menjadi produk sederhana, termasuk kerupuk kulit.
“Masalahnya brand image. Kerajinan ini masih dianggap sebelah mata. Kalau tukang kulit, paling dipikir tukang sol sepatu,” ujarnya.
Karena itu, SMKN 5 Mataram ingin mendorong inovasi produk kulit yang lebih kekinian dan memiliki nilai jual. Produk tidak harus berukuran besar, tetapi dapat dikembangkan dalam bentuk barang yang sederhana, ikonik dan mudah dipasarkan.
Salah satunya tas, dompet dan berbagai produk fesyen berbahan kulit. Pengembangan produk juga diarahkan agar tidak sekadar menjadi hasil praktik siswa, tetapi dapat diproduksi secara berkelanjutan dan memiliki pasar ekspor.
“Jangan kita hanya bersaing dengan produk-produk yang sudah ada. Buat inovasi yang ikonik dan layak jual di pasar internasional. Karena pasar dunia juga nyarinya yang ikonik,” katanya.
Istiqlal mengatakan, pengembangan kerajinan kulit juga dapat dikaitkan dengan potensi peternakan di NTB. Sekolah bahkan telah menjajaki kerja sama dengan Fakultas Peternakan untuk pengembangan dan penyamakan kulit.
Menurutnya, bahan baku kulit dari ternak sapi dan kambing cukup tersedia. Namun, pemanfaatannya perlu ditingkatkan agar memiliki nilai tambah dan tidak berhenti pada produk olahan sederhana. Misalnya, hanya menjadikan kulit sebagai bahan baku cemilan krupuk kulit.
SMKN 5 Mataram juga membuka peluang kerja sama dengan industri dan hotel untuk menciptakan pasar bagi produk siswa. Salah satu konsep yang didorong adalah produksi berdasarkan pesanan (custom made), sehingga produk yang dibuat sesuai kebutuhan konsumen.
“Kalau produk kita bisa ada order dari hotel, itu bisa mengembangkan. Mereka bisa pesan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Hal serupa dilakukan pada jurusan keramik. Sekolah kini mengembangkan jejaring dengan pelaku dan narasumber dari Yogyakarta untuk meningkatkan kemampuan produksi dan desain.
Istiqlal mengatakan peralatan keramik yang dimiliki SMKN 5 Mataram relatif memadai. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan dapat diserap pasar.
Istiqlal menilai promosi menjadi salah satu kunci untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap pendidikan vokasi bidang kerajinan. Media dinilai dapat membantu memperkenalkan peluang karier dan nilai ekonomi dari produk kerajinan. (bul)



