BerandaNTBLOMBOK TIMURWisatawan Serbu Lotim, Okupansi “Homestay” Tetebatu Mulai Naik

Wisatawan Serbu Lotim, Okupansi “Homestay” Tetebatu Mulai Naik

Selong (Suara NTB) – Kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, dan sekitarnya mulai menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut terlihat dari mulai meningkatnya pemesanan kamar homestay yang menjadi salah satu pilihan akomodasi wisatawan.


Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tetebatu, Sarjaya mengatakan, pemesanan homestay mulai berlangsung sejak beberapa waktu terakhir. Bahkan, sebagian wisatawan telah melakukan pemesanan kamar jauh-jauh hari. “Sudah mulai, bookingan sudah mulai. Tetap ada check-in setiap hari,” kata Sarjaya.


Menurutnya, kapasitas akomodasi di kawasan Tetebatu saat ini terus berkembang. Tercatat terdapat sekitar 750 kamar homestay yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Jurit Baru, Trenggwilis, Tetebatu Selatan, dan kawasan lainnya.


Perkembangan tersebut, kata Sarjaya, tidak terlepas dari posisi Tetebatu yang semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Lombok Timur. Pengembangan destinasi juga terus dilakukan, baik dari sisi tata kelola maupun penyediaan fasilitas pendukung.


“Homestay di Tetebatu sekitar 750 kamar. Sudah berkembang pesat,” ujarnya.
Sarjaya menyebut wisatawan tidak hanya ditawarkan panorama alam dan kawasan pegunungan. Aktivitas masyarakat setempat, produk UMKM, serta kehidupan tradisional masyarakat juga menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan.


Menurutnya, berbagai aktivitas lokal tersebut justru menjadi daya dukung bagi pengembangan pariwisata Tetebatu karena wisatawan dapat menikmati pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. “Alam, pegunungan, UMKM dan tradisional. Semua aktivitas lokal menjadi aktivitas wisata,” katanya.


Dari sisi lama tinggal, rata-rata wisatawan yang menginap di Tetebatu berada di kisaran tiga malam. Bahkan, terdapat wisatawan yang telah melakukan pemesanan kamar hingga satu bulan sebelumnya.


Wisatawan mancanegara masih menjadi salah satu pasar utama. Sarjaya menyebut wisatawan asal Eropa cukup banyak berkunjung, antara lain dari Prancis, Jerman, Spanyol, dan Belanda.


Selain menikmati kawasan Tetebatu, sejumlah wisatawan juga menggunakan layanan trekking menuju Gunung Rinjani. Dalam satu perjalanan, jumlah wisatawan yang dilayani dapat berkisar dua hingga enam orang.


Namun, di tengah pertumbuhan pariwisata tersebut, Sarjaya menyoroti persoalan infrastruktur jalan menuju Tetebatu. Menurutnya, kondisi sejumlah ruas jalan masih belum memadai dan berpotensi mengganggu kenyamanan wisatawan.


Salah satu ruas yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah jalur dari Kota Raja menuju Tetebatu. Sarjaya menyebut terdapat sekitar lima kilometer ruas jalan yang kondisinya masih rusak.


Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan jalan karena akses menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan desa wisata. “Bagaimana bisa menginap di Tetebatu kalau jalannya seperti itu. Banyak tamu jatuh,” katanya.


Sementara itu, pelaku wisata Desa Trengwilis, Kecamatan Montong Gading, Jumaidi mengatakan, aktivitas wisata di kawasan Tetebatu saat ini tetap berlangsung cukup ramai.


Ia menyebut saat ini terdapat sekitar lima tamu yang menginap di homestay miliknya, selain sejumlah pemesanan yang telah masuk. Di Desa Trengwilis sendiri terdapat sekitar enam kamar homestay yang tersedia.


Menurut Jumaidi, belum dapat dipastikan apakah peningkatan kunjungan tersebut berkaitan dengan agenda MotoGP. Ia menilai karakter pasar wisatawan Tetebatu berbeda dengan kawasan wisata seperti Kuta Mandalika, Mataram, maupun Senggigi. “Tidak tahu apakah (karena) tamu MotoGP. Tamu sekarang masih high season,” katanya.


Jumaidi menilai Tetebatu memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan kehidupan pedesaan dan kearifan lokal yang masih relatif autentik.
“Pangsa pasar di Lombok Timur sekarang lebih ke kearifan lokal, kehidupan pedesaan. Lebih autentik,” ujarnya.


Ia mengatakan, Tetebatu kini semakin dikenal dan menjadi salah satu kawasan yang diminati wisatawan. Kondisi tersebut menurutnya tidak semata-mata dipengaruhi oleh adanya agenda olahraga internasional. “Bukan karena MotoGP. Pangsa pasar beda-beda,” katanya.


Menurut Jumaidi, wisatawan yang datang ke kawasan Tetebatu memiliki motivasi yang beragam. Wisatawan domestik cenderung lebih terlihat ketika terdapat agenda besar seperti MotoGP, sedangkan wisatawan mancanegara yang datang ke Tetebatu lebih banyak mencari pengalaman wisata alam dan kehidupan pedesaan.


Ia juga menyebut terdapat kecenderungan wisatawan mencari alternatif destinasi ketika kawasan wisata tertentu terlalu ramai. Tetebatu menjadi salah satu pilihan karena menawarkan suasana yang lebih tenang dengan daya tarik alam dan kehidupan masyarakat lokal. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN








VIDEO