BerandaNTBLOMBOK TIMURGelar Salat Istisqa, Bupati Lotim Harapkan Petani Tak Alami Gagal Panen

Gelar Salat Istisqa, Bupati Lotim Harapkan Petani Tak Alami Gagal Panen

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Haerul Warisin bersama sejumlah pejabat dan masyarakat menggelar Salat Istisqa di halaman Kantor Bupati Lotim, Kamis (8/10/2026). Salat meminta hujan ini digelar sebagai ikhtiar spiritual menghadapi kekeringan ekstrem akibat El Nino. Sekaligus memastikan tidak ada gagal tanam dan gagal panen yang berdampak pada ekonomi masyarakat petani.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kegiatan ini bukan bentuk kesombongan, melainkan wujud ketundukan dan pengakuan atas kelemahan di hadapan Allah SWT.

“Kita datang bukan dengan kesombongan, tetapi dengan ketundukan, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala,” ujar Bupati.

Ia menyampaikan bahwa hujan merupakan bagian dari rahmat Allah. Ketika hujan belum turun sebagaimana yang dirasakan saat ini, itulah saatnya melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, dengan Allah, serta dengan alam.

Bupati mengutip Al-Qur’an Surah Nuh ayat 10-11 yang artinya: “Maka Aku berkata kepada mereka, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Ayat itu, katanya, mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Ingat Pengalaman 2016

Bupati mengungkapkan kekhawatiran mendalam jika kekeringan tidak segera teratasi. Ia mengenang pengalaman tahun 2016 ketika menjabat sebagai Wakil Bupati, di mana banyak petani harus dibantu dengan membawa tangki untuk menyirami persemaian padi mereka.

“Kita sudah alami dulu ya, tahun-tahun 2016 ketika saya jadi wakil bupati, banyak sekali kita bantu masyarakat tani, kita sampai dengan membawa tangki untuk menyirami persemaian, persemaian padi mereka yang mereka harapkan. Tetapi karena pada saat itu kita kemarau panjang, sehingga akibat dari itu ekonomi masyarakat kita rapuh, pendapatan masyarakat kita menjadi tidak karuan, semakin banyak kemiskinan karena mereka tidak bisa mengoptimalkan hasil pertaniannya karena kekeringan itu,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memohon pertolongan Allah sejak awal. “Jangan setelah kita kebakaran, jangan setelah kita nanti menemukan hal yang sangat hebat, baru kita ingat kepada Allah, baru kita mohon kepada Allah. Jadi Allah juga barangkali akan mempertimbangkan dengan cukup kalau cara seperti itu,” katanya.

Antisipasi Teknis dan Mitigasi

Bupati menjelaskan bahwa secara teknis pihaknya telah mengumpulkan PDAM dan para staf terkait untuk memitigasi serta mengantisipasi dampak kekeringan.

“Kita secara teknis kami sudah kumpulkan PDAM, sudah kumpulkan para staf-staf, kita yang ada kaitannya dengan tugas-tugas mereka di dalam pengairan itu sendiri, bagaimana memitigasi, bagaimana mengantisipasi, bagaimana mengatasi perusahaan-perusahaan ini sehingga tidak terlalu beresiko tinggi kepada masyarakat. Kita kalaupun misalnya kekeringan, tapi masih dalam toleransi tertentu,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perubahan pola musim hujan yang biasanya terjadi pada Oktober hingga Maret. “Sekarang kita sudah masuk bulan Oktober belum ada apa-apa, belum ada tanda-tanda. Kemudian kita di PDAM, misalnya, kita sudah punya reservoir yang besar, jaringan yang banyak. Masyarakat kemarin mereka nyaman, masyarakat tidak ada yang digilir, hari ini mereka harus terima giliran, hari ini mereka harus berganti, sekali dua hari, sekali tiga hari dan seterusnya,” ungkapnya.

Menurut informasi yang beredar, Lotim termasuk wilayah yang mengkhawatirkan di NTB, di samping Bima dan Sumbawa. Bupati pun menegaskan bahwa antisipasi harus dilakukan tanpa perlu terus membaca peringatan BMKG jika sudah disampaikan dari awal.

Ajakan Muhasabah dan Menjaga Alam

Bupati mendorong upaya ikhtiar lahiriah, yakni berusaha dengan teknologi dan doa. Ia mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga sumber air, dan menggunakan air sebaik-baiknya.

“Jaga alam juga amanah sebagai manusia,” tegasnya.

Kepada masyarakat Lotim, Bupati mengajak menjadikan momentum Istisqa bukan sekadar meminta hujan, tetapi juga memperbaiki diri dengan memperbanyak istighfar, bersedekah, saling memaafkan, dan meninggalkan segala bentuk perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah.

“Hadapkan agar datang kesejukan dan rahmat. Berdampak pada pertanian. Semoga ikhtiar dengan menunaikan Salat Istisqa, Allah memberikan perhatian kepada Lotim agar tujuan Istisqa ijabah,” harapnya.

Sementara itu, dalam khotbahnya, TGH Qusyaeri menjelaskan alasan Salat Istisqa untuk meminta hujan. Ia menyampaikan bahwa Allah menyuruh hamba-Nya untuk meminta pertolongan dan bersabar. Kesabaran diperlukan karena tanaman layu dan mati, air berkurang, serta hewan tidak bisa minum. Semua ujian akan diberikan kepada manusia.

TGH Qusyaeri juga mendorong terwujudnya keadilan pemimpin dan mendoakan agar pemimpin dapat mengayomi rakyat. Ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dan interaksi dengan seluruh elemen, baik sesama manusia maupun lingkungan, tidak merusak alam, serta memperkuat kepedulian sosial.

Kegiatan Salat Istisqa ini akan digelar pula di semua kecamatan. “Silakan, jadi ini kita awali dengan Kabupaten, bagi kecamatan-kecamatan yang mudah-mudahan mereka mau mengikuti pola ini. Itu tentu pemerintah sangat berterima kasih,” pungkas Bupati. Melalui Salat Istisqa tersebut, diharapkan Allah SWT menurunkan kesejukan dan rahmat bagi Lombok Timur, terutama bagi sektor pertanian dan kehidupan masyarakat. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO