PEMERINTAH Kelurahan Mandalika, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, menggalakkan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi warga sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting. Program ini dilaksanakan melalui pemanfaatan potensi lokal dan penguatan ketahanan pangan keluarga.
Lurah Mandalika, Lalu Heru Nuryadin, menyambut positif dukungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Program Desa/Kelurahan Berdaya. Program tersebut diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi, meningkatkan kesejahteraan sosial, serta memperkuat kapasitas masyarakat berbasis potensi lokal.
“Ada banyak hal yang kami dibantu oleh Pemprov NTB, salah satunya melalui Program Desa/Kelurahan Berdaya,” ujarnya, Jumat (9/10).
Heru menjelaskan, Kelurahan Mandalika telah merancang pelaksanaan program tersebut melalui dua kategori, yakni Kelurahan Transformatif dan Kelurahan Berdaya Tematik. Keduanya disesuaikan dengan tema program yang diterima dan kebutuhan masyarakat setempat.
Pada kategori Kelurahan Transformatif, program difokuskan pada pemberdayaan dan pendampingan warga miskin ekstrem. Dari 100 warga yang diusulkan untuk mendapatkan pendampingan, sebanyak 52 orang dinyatakan lolos verifikasi. Mereka selanjutnya akan menerima pembinaan dan pendampingan, termasuk bantuan permodalan usaha.
“Dari 100 orang warga yang didampingi, yang lolos verifikasi sebanyak 52 orang, yang nanti akan menerima program pembinaan dengan pendampingan berupa bantuan permodalan usaha,” jelasnya.
Sementara itu, melalui kategori Kelurahan Berdaya Tematik, masyarakat memilih ketahanan pangan dengan peternakan sapi sebagai salah satu fokus pengembangan berdasarkan hasil musyawarah warga.
Selain itu, upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesehatan keluarga juga dilakukan melalui pelatihan budidaya lele dalam ember (Budikdamber) serta Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Program tersebut turut diintegrasikan dengan upaya pencegahan stunting melalui penyaluran bantuan makanan olahan ikan kepada anak-anak berisiko stunting yang menjadi sasaran posyandu.
“Kami diberikan bantuan makanan olahan ikan untuk dibagikan kepada sasaran posyandu yang berisiko stunting, dan juga pembinaan Budikdamber,” kata Heru.
Menurut Heru, ikan merupakan sumber protein hewani dan asam lemak omega-3 yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi melalui konsumsi ikan diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan stunting sekaligus menunjang perkembangan anak sejak dini.
Melalui budidaya lele di lingkungan rumah, keluarga juga didorong untuk menghasilkan sumber pangan bergizi secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar. Selain memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, hasil panen lele berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
“Jika panen lelenya dapat mereka jual sebagai komoditas bernilai ekonomi atau dapat sebagai PMT di posyandu,” pungkasnya. (pan)



